TINTAKALTIM.COM-Ada kiat sukses yang jadi inspirasi dari seorang pengusaha muda. Bukan kerja keras atau disiplin dan memiliki pendidikan tinggi. Meskipun, itu perlu tapi ada ‘senjata’ dari figur pengusaha sukses satu ini.
Dia adalah Muhammad Umry Hasfirdauzy atau biasa disapa Firly Firdauzy. Direktur PT Kangaroo Lintas Nusantara (KLN) yang juga CEO bisnis transportasi Kangaroo ini, sekarang sukses dengan ragam usaha yang dilakukan secara diversifikasi.
“Sukses itu jalan hidup. Kuncinya muliakan orangtua dan bhakti, itu yang saya yakini,” cerita Firly di sela-sela lunch di salah satu rumah makan di Samarinda usai melakukan ragam aktivitas di kantor Gubernur Kaltim, Senin (2/02/2020).

Firly kini mendapat ‘mandat’ dari Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud (AGM) untuk melakukan lintas-koordinasi kaitan event internasional yang akan dilakukan di Ibu Kota Negara (IKN) yakni Marathon Indonesia Maju (MIM) 2020. Firly juga sekarang jadi tenaga ahli bupati.
Pria kelahiran Balikpapan ini percaya dengan bersikap baik dan tunduk serta menjadikan orangtua itu ‘raja’ maka rezeki yang didapat pun akan melimpah. Sebab, orangtua itu berharga, apalagi seorang ibu yang melahirkan seseorang di dunia.
“Allah itu sayang dengan anak yang sayang dengan orangtuanya. Pintu rezeki itu terbuka lebar,” cerita pengusaha yang sukses mengelola jasa travel eksekutif jurusan Balikpapan-Samarinda ini.

Pasang-surut usaha itu pasti ada. Apalagi seorang pengusaha. Dirinya pernah ‘bangkrut’ karena gagal mengelola tempat usaha kuliner. Hanya itu tidak membuat putus asa. Sebab, keyakinannya Allah pasti ridha dengan orang yang mengasuh orangtuanya.
Pintu rezeki itu diawali dari perkenalan dengan seorang pejabat. Meski awalnya sempat ragu, tetapi pejabat itu orang baik yang membuka jalan untuk usaha. Ia diajak mengelola bisnis cangkang sawit. Menggiurkan ternyata, sebab peminatnya banyak dari bidang industri. Bukan hanya Indonesia tetapi dari negara lain dengan pola ekspor.
“Saya suplai cangkang sawit yang digunakan untuk industri. Keuntungan dapat diraup dengan mudah. Kerugian saya diganti Allah sebanyak 10 kali lipat dari jalur persahabatan dengan sang pejabat tadi,” cerita Firly.
Firly seolah mendapat injeksi spirit. Keuntungan yang diraihnya selalu transparan dibagikan. Hanya, dia terkejut. Jika ada untung pejabat tadi enggan minta banyak-banyak. “Selalu diambil tidak banyak. Paling-paling hanya 20 persen saja. Itu yang membuat saya terkejut. Dan, dana itu akhirnya diputar untuk pengembangan usaha,” jelas Firly.
Sebagai wujud partnership usaha, maka Firly punya gagasan agar keuntungan dijadikan modal untuk bersama-sama menjalankan roda usaha dengan pejabat tadi. Dan bisnis itu berjalan hingga sekarang dengan pola simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan.
Sepak terjang Firly jadi pengusaha tak selalu mulus. Ia pernah juga mengalami kesulitan hidup. Terkadang juga menghadapi masalah karena dicurangi. Bisnis macet, modal seret dan yang bisa dilakukan terus berusaha tanpa menyerah.
“Saat itu saya dihadapkan ujian, kendati tidak punya uang saya harus menyenangkan orangtua seperti ibu yang melahirkan saya. Mereka minta apa saja, saya usahakan harus ada. Menyenangkan mereka dan memuliakan,” cerita Firly mengenang perjuangan itu. Sampai ia pun tak menduga sampai bisa mengerjakan pasokan batu dan pasir untuk jalan tol Balikpapan-Samarinda yang sekarang sudah dinikmati masyarakat.
Firly seolah ingin mengatakan, jika ada manusia yang boleh sujud padanya, maka manusia yang sangat pantas mendapatkan kemuliaan itu adalah ibu. Tapi sujud manusia itu hanya untuk Allah saja. “Doa ibu itu selalu diijabah atau dikabulkan jika anak memuliakan orangtua. Itu jalan membuka pintu rezeki Allah. Jangan pernah sakiti orangtua,” pesan Firly sangat inspiratif.
AKHLAK MILENIAL
Dalam kaitan berusaha atau beraktivitas kata Firly, sekarang ini ada asumsi yang berkembang bahwa gadget dan lingkungan pergaulan di generasi milenial seolah jadi ancaman. Sehingga, akhlak milenial bisa saja berubah. “Kuncinya generasi milenial itu harus menghargai dan menghormati orangtua. Jangan merasa lebih hebat, lebih smart dengan tidak menghormati mereka,” cerita Firly.

Ia mencontohkan, jika ada pesan-pesan orangtua, sebaiknya jangan dilawan, jangan ditentang atau jangan dibantah. “Didengarkan, disimak dan mau diterapkan monggo dan tidak juga tergantung pribadi-prbadi. Intinya proses penghargaan terhadap orangtua itu diperlukan di era yang sudah semakin berbahaya akhlak milenial,” ungkapnya.
Sosok Firly memang dikenal low profile. Cara berkomunikasinya juga bersifat verbal. Susunan kalimatnya mudah dimengerti dan menarik bagi yang mendengarkannya. Ungkapannya penuh motivasi dan tak bertele-tele.
“Berbeda jika smart dipadukan dengan attitude dan etika. Sehingga, proses komunikasinya banyak optimistis dan membangun serta menerima beragam masukan,” kata General Manager (GM) Hotel Blue Sky Novriwendi memberi apresiasi gaya komunikasi Firly.
Komunikasi Firly banyak bersifat filsafat. Ia tak ingin hidup dalam tak berkesadaran atau hanya ilusi. “Itu seperti mengejar bayangan. Hadapi sekarang yang ada. Jangan pernah memikirkan yang belum terjadi. Hari ini ya dihadapi untuk hari ini dan jangan dibuat susah,” pesan komunikasinya dalam kehidupan dan cara bertindak.
ASN PRENEUR
Sekarang, pekerjaan Firly begitu seabrek. Mendapat tugas dari Bupati PPU Abdul Gafur Mas’ud untuk menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten PPU. Bergaul dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disebut abdi negara, pelayan rakyat.
“Saya hadir ingin membuat ASN memahami akan potensi SDM yang dimilikinya ya terus mengembangkan diri. Saya ‘memompa’ spirit mereka semua agar outpunya pada pelayanan maksimal,” jelas Firly
Tampaknya Firly ingin ASN mengembangkan jiwa entrepereneur atau punya jiwa wirausaha. Artinya, mengedepankan kreativitas, inovasi dalam bekerja.

“Mungkin saya seorang pengusaha, sehingga sempat dapat predikat baru sebagai ASN Preneur,” ujar pengusaha yang juga memegang franchise kafe Upnormal di Samarinda ini.
Mentor Firly yang tak lain adalah Kakanwil Pajak Wilayah Kaltim-Kaltara Samonjaya juga sempat bertanya, bagaimana sejak masuk dalam ‘lingkaran government’? “Passion atau bakat harus menyesuaikan. Ada mekanisme ikut aturan, ada nomenclaturnya dan itulah ASN. Tapi mereka dapat diajak bekerja baik dan memberi pelayanan baik kok. Kuncinya sabar,” urai Samonjaya dalam suatu diskusi saat berkunjung ke kantor Firly.
Samonjaya seolah memberi ‘benchmarking’ atau tolok ukur kerja produktif di lingkungan pemerintahan. Sebab, ia punya pengalaman puluhan tahun untuk mendesain berbagai kebijakan yang harus diikuti oleh ASN sehingga hasilnya baik dan masyarakat merasa terlayani secara maksimal. So! Mengubah mindset ASN jadi jiwa entrepreneur itu keniscayaan. (git)












