Penulis: Sugito SH )*
Jika berada di kota Balikpapan, Anda akan melihat bangunan kokoh yang nan indah. Ada yang menyebut bangunan ini dengan istilah gedung putih. Itulah kampus Universitas Mulia (UM) –sebelumnya populer dengan sebutan kampus Stikom–. Seolah melakukan ‘reinkarnasi ‘, bangunan itu pun sekarang jadi ikon Balikpapan. Letaknya di kawasan Balikpapan Selatan.
Tapi kita akan decak kagum jika memasuki kawasan kampus UM, karena di bagian belakang ada bangunan dengan balutan dua warna merah dan kuning. Seolah berada di area kawasan Nanjing road, kawasan favorit di Shanghai, jika malam memancarkan lighting yang pancaran warnanya dua warna tadi. Gedung Cheng Ho. Itulah nama gedungnya.
Ada cermin optimistis dari pengurus UM untuk menjadikan hadist Nabi Muhammad yang berbunyi: Belajarlah dan Tuntulah Ilmu sampai ke Negeri China jadi inspirasi kerja dan kesuksesan. Tak heran kalau gedungnya pun corak etnis China. Ditambah dua warna merah dan kuning yang maknanya perpaduan semangat, antusias, keberuntungan dan kesetiaan serta kesungguhan.
Spirit dua gedung itu seolah jadi simbol kerja keras UM untuk mencetak generasi siap pakai dan menjawab tuntutan zaman. Tentu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) enerjik, dimanis dan skill di bidang digital, karena UM sadar sekarang sudah masuk era generasi industri 4.0 atau eranya disrupsi atau perubahan besar-besaran di bidang teknologi.
“Makanya dalam penerimaan mahasiswa baru (PMB) Universitas Mulia, menggunakan tagline your future starts here. Ini maknanya, bahwa kita menyiapkan semua kebutuhan masa depan. Sederhananya, mau sukses di masa depan, jawabannya ada di UM,” kata Rektor Universitas Mulia Agung Sakti Pribadi SH MH kepada Tintakaltim.com, saat bercerita semangat pengelolaan kampusnya menjawab tantangan ke depan.
Agung seolah memberi ilustrasi bahwa di kampusnya telah didesain untuk kampus teknologi yang kapasitasnya seperti ungkapan plesetan orang Jakarta dengan ‘palugada’ (apa loe mau, gue ada-Red). Implementasinya dengan disediakan program unggulan UM dengan 11 program studi (prodi) yang dibagi dalam 3 fakultas yakni Ilmu Komputer, Ekonomi dan Bisnis serta Humaniora dan Kesehatan.
Pengembangannya ternyata sangat detail. Penulis mengamati ke kampus UM, di mana untuk S-1 Informatika, ada mahasiswa yang mengambil prodi robotics and artificial intelligence, mobile application development. Ada juga S-1Manajemen yang mengambil prodi E-Businness Management dan Business Innovation Management.
“Kita juga punya prodi yang menempa mahasiswa dan mahasiswi punya skill di bidang hukum. Yakni, cyber law dan business law. Ini selaras dengan diberlakukannya UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE) yang sekarang begitu viral diperbincangkan,” kata Agung yang dikenal juga seorang laywer ini.
Tak hanya itu, dari 11 prodi yang ada, UM sudah jauh-jauh hari melakukan antisipasi terhadap perkembangan teknologi industri 4.0 yang sekarang jadi topik para pembicara di ajang nasional dan internasional. Kendati revolusi industri itu membuat sebagian orang masih puyeng karena bisa menciptakan 1001 jenis teknologi data yang sering disebut dengan big data dan bisa mengubah peradaban manusia.

Jika demikian, kalau kuliah di UM maka sipapun dia sudah masuk ke ‘kampus disrupsi’ . Karena sudah era disrupsi. Di mana era itu sudah diceritakan dalam dua buku yang jadi best seller karangan Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga pengusaha. Penulis sudah khatam membaca dua buku itu yang berjudul Disruption Era dan Tomorrow is Today. Tentu boleh dibilang wajib, dosen UM untuk menganjurkan mahasiswa-mahasiwi UM membaca kedua buku itu, (bukan penulis diminta promosi Pak Rehnald lho).
Alasannya mendasar. Disrupsi itu sudah terjadi di semua lini bisnis. Coba bayangkan, dulu kita kecanduan SMS, tapi saat itu di-disrupt adanya BBM terus di-disrupt lagi dengan Whatsapp. Kini makin maju, dunia transportasi pun kena dampaknya.Taksi konvensional dan Ojek pangkalan di-disrupt dengan Go-Jek, Grab. Lalu dunia perbankan pun semakin pesat kena dispurt teknologi fintech lahirlah Go-Pay, OVO dan lainnya.
Generasi lulusan UM tampaknya sudah dirancang menjadi generasi milenial yang akrab dengan teknologi. Tapi pihak kampus juga tetap demokratis dalam mengembangkan aktivitas mahasiswa. Karena, di kampus UM menurut Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Mundzir S Kom MT kini ada 20 unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang masuk dalam 4 bidang olahraga (UKM of sport), bidang seni (UKM of Art), bidang penalaran (UKM of Reasoning), keagamaan (UKM of Religion). “Di antaranya jurnalistik, smart coding community, syber security community, robotik, futsal, music, basket, bulutangkis dan lainnya,” kata Mundzir yang dikenal sosok ‘arsitek’ UM untuk membangun harmonisasi aktivitas mahasiswa di kampus ini.
Mundzir dosen yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Hassanuddin (Unhas) Makassar ini, menyebut cinta teknologi di kampus juga harus dipadukan dengan kesenangan mahasiswa. Supaya tidak muncul kebosanan. “Makanya ada sejumlah UKM tadi. Hanya, domain kita tetap teknologi yang mengusung tagline Global Technopreneur Campus,” kata Mundzir.
Kerja UKM itu kata Mundzir harus sinergi dan kolaborasi. Makanya ditempatkanlah penggerak kegiatan orang-orang yang SDM-nya punya kapasitas masing-masing seperti B Honnnest, Citta, Eka Kumala (music), suprijadi FX Nanang Suhartati, Isti Prabawani (paduan suara), Nany Pancawardany, Lisda, Musliatin (seni tari), Riovan S, Roring (sinematografi), B Honnest, Yustian, Sugito (jurnalistik), Linda Fauziah, Dedy M, Yustian Servanda, Sigit Sigalayan (pramuka).
Lalu, M Nufalah, Setiawan, Gunawan (futsal), Djumhadi, Yusuf Wibisono, Riyayatsah (badminton), Nasruddin Idris, Pramudya Insan (bola basket), Mundzir, Sumadi (tenis meja), Jamal, Tri Sudinugraha, Subur Anugerah, Novi Indra (smart coding community), Linda Fauziah, Yamani, M Ardiyanto (english club), Wisnu Hera Pamungkas, Djumadi (cyber security community), M Safi’I, Novi Indra (robotic community), Hasnawie, Yeyen Dwi Atma, Tina (Graphics Design & Multimedia), Yamani, Wahyu Nur A, Ita Rosita (Mulia Al-Izzah), FX Nanang Sujatmiko, Isti Prabawani (persekutuan mahasiswa Kristen & Katolik), Hety Devita (keluarga mahasiswa Budha).
Dalam menyiapkan SDM, UM terus mengasah dosen-dosennya meningkatkan kapasitas. Sehingga, memang punya tenaga expert di bidang teknologi. “Kami punya dosen-dosen lulusan S-2 teknologi. Di antaranya ada Wisnu Hera Pamungkas, Sigit Sigalayan, Yusuf Wibisono dan lainnya,” kata Agung Saksi Pribadi yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan doktornya di Surabaya.
Ke depan, kampus UM benar-benar ingin leading menghasilkan lulusan siap pakai dan siap kerja. Makanya, terus mengasah kemampuan mahasiswa-mahasiswi untuk lulus dari kampus UM dan mendapat predikat dan punya talente-talenta digital native. Dalam kamus Bahasa Indonesia, digital native itu adalah individu yang lahir karena adopsi teknologi dengan tidak melihat acuan generasi. Smart, kreatif dan inovatif.
Lalu goal dan implmentasi kapasitas yang dihasilkan UM apa? Dari 11 prodi terihat jelas bahwa kampus ini punya grand strategy untuk mencetak wira usaha andal yang basisnya teknologi. Tak salah kalau kampus ini mengusung semboyan Global Technopreneur Campus yang arahnya menciptakan generasi siap pakai dan skill di bidang teknologi . Detailnya, skill wira usaha teknoloi, teknologi hukum dan lainnya.***
)* Direktur Utama Tintakaltim.com, Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Nusantara Balikpapan, Ketua Kompartemen dan Hubungan Antarlembaga Kadin Balikpapan, Wakil Ketua Forum Komunikasi CSR Balikpapan













