TINTAKALTIM.COM-Pengujian berkala untuk Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KLBB), wajib menjalankan 5 fungsi di antaranya unjuk kerja baterai, sarana pengisian ulang, pengujian kemampuan perlindungan sentuh listrik, kemampuan perlindungan sentuh non listrik dan keselamatan fungsional serta hambatan isolasi

Itulah yang disampaikan sejumlah narasumber (narsum) saat digelarnya bimbingan teknis (bimtek) oleh Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim 5-6 Mei 2026 yang teori dan prakteknya di Otoritas Bandara (Otban) Balikpapan dan Rest Area Ibu Kota Nusantara (IKN)

Tiga narsum itu yakni Saiful Jihad (Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotof (BPLJSKB) Bekasi, Mohamad Ardy Firmansyah (penguji BPLJSKB) dan Mochammad Fikril Basyar (Direktorat Sarana Kemenhub) secara bergantian memberikan teori dan praktek

Saat praktek, 18 peserta dari dishub kota-kabupaten se-Kaltim antusias. Ardy yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Indonesia (UI) sangat detail. “Intinya sebelum pengujian dilakukan, amati KLBB dan konektor pada kabel harus dilepaskan dan layanan aliran listrik harus diputus (service disconnect) menggunakan kunci. Posisinya biasanya tersembunyi,” kata Ardy sambil menunjukkan konektor yang dilepas itu

Pelepasan konektor itu kata Ardy, untuk menghindari bahaya sengatan listrik bertegangan tinggi. Sebab, sistem baterai biasanya di atas 300 volt DC. Setelah itu, aliran listrik dari paket baterai utama terputus, maka komponen tegangan tinggi tidak lagi memiliki arus listrik

“Jangan sampai diabaikan. Perhatikan betul, ini dapat menyebabkan arus listrik yang tak stabil dan berisiko tinggi bagi keselamatan,” pinta Ardy yang menambahkan fitur keselamatan harus terus dibaca oleh penguji
Ardy juga menjelaskan, sistem tegangan tinggi ditandai dengan kabel dan konektor berwarna oranye di seluruh kendaraan. Ini adalah standar industri dan berfungsi sebagai petunjuk visual

“Sistem tegangan tinggi dapat menghantarkan arus mematikan, maka penguji harus menggunakan sarung tangan. Dan, diawali juga dengan memutus sakelar yang terletak di bagasi depan atau bagasi belakang. Bisa juga di bawah jok,” ujar Ardy yang menyebut setelah dilepas maka ada penungguan waktu beberapa menit agar kapasitor tidak menyimpan muatan listrik

Service disconnect pada kendaraan listrik berbasis baterai kata Ardy, komponen krusial yang berfungsi memutuskan sirkuit tegangan tinggi. Saat pengujian berkala harus dilakukan dengan aman

“Itu isolasi tegangan tinggi, harus melepaskan koneksi baterai tegangan tinggi dari inventer dan motor, menjamin keamanan penguji dari risiko sengatan listrik,” kata Ardy yang mempraktekkan dengan kendaraan listrik sedan dan truk di dua tempat berbeda
Disebutkan Ardy, setelah dilepas, penguji memastikan tegangan benar-benar nol sebelum melakukan pengujian komprehensif

Ardy juga mempraktekkan bagaimana keselamatan fungsional diperhatikan. Dan, penguji harus melihat indikator visual bertuliskan ready (siap dikendarai). Itu ada pada dasbord menandakan bahwa sistem penggerak utama aktif dan mobil siap bergerak
“Mobil listrik tidak bersuara, indikator Ready bisa menyala jika pedal gas diinjak. Tapi, jika lampu indikator warna merah atau kuning saat Ready menyala, ini harus diwaspadai,” pungkas Ardy
HAMBATAN ISOLASI
Sementara itu, Fikril juga mempraktekkan bagaimana fungsi hambatan isolasi pada kendaraan listrik yang menggunakan ukuran dalam ohm yang memisahkan konduktor bertegangan tinggi dari rangka, bodi dan komponen lain

“Harus diperhatikan betul, fungsi utama hambatan isolasi melindungi penguji dan pengguna dari tegangan tinggi dan pastikan arus tak mengalir ke bodi kendaraan,” jelas Fikril yang menunjukkan pengukuran menggunakan alat khusus untuk memverifikasi isolasi baterai ke motor listrik dan ground

Dalam teori dan praktek, Fikril juga menjelaskan kaitan Sistem Manajemen Baterai atau Battery Management System (BMS) yang itu sebagai otak untuk memantau, mengatur dan melindungi secara real-time
“Di sinilah fungsi utamanya, melakukan pencegahan pengisian secara berlebih atau overcharge sehingga suhu tidak sampai overheat atau terjadi panas berlebih,” kata Fikril

Fikril juga menjelaskan kaitan thermal runway di mana kondisi gagal baterai. Ditandai, suhu menaik yang menghasilkan panas berlebih dan bisa memicu kebakaran.
“Itu tadi penyebabnya, seperti overcharging dan panas berlebih. Tetapi, proteksinya lewat BMS. Hanya, kasus kebakaran tidak akan dapat ditangani lagi dan menyebar,” katanya sambil mengingatkan penguji pentingnya memahami BMS.
Sementara itu, Saiful Jihad lebi banyak bicara teknologi kendaraan listrik. Ia menjelaskan ada berbagai jenis yakni Battery Elecitric Vehicle (BEV) atau kendaraan listrik berbasis baterai atau listrik murni, “Ini tanpa mesin bensin,” jelas Saiful

Berikut kata Saiful, Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang menggunakan kombinasi mesin pembakaran internal menggunakan bensin dan motor listrik.
“Ada pula Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Ini sistem colok tapi memiliki dua sumber tenaga mesin bensin dan motor listrik dan baterainya biasa berkapasitas lebih besar dari HEV,” urai Saiful.
Saiful juga menjelaskan tren EV dalam pasar global dan nasional. Sekarang ada pusat produksi di Tiongkok yang menjadi pemimpin pasar menguasai lebih 70 persen produksi global. Diikuti oleh ekspansi besar-besaran ke pasar berkembang seperti Asia Tenggara dan Amerika Latin.
Bicara populasi kendaraan EV, hingga tahun 2025 sudah 252.000 unit berperasi di Indonesia didominasi sepeda motor (184.000 unit) dan mobil penumpang (67.000 unit)
“Pemerintah menargetkan 2 juta mobil listrik dan 12 juta motor listrik di tahun 2030,” kata Saiful. (gt)












