TINTAKALTIM.COM-Orang lain dapat nikmat, dirinya ingin menghalangi. Misalnya, tetangganya atau sahabatnya dapat jabatan, ia justru menyebut tidak pantas. Contoh lagi, tetangganya membeli mobil, lalu dirinya menilai, itu uang haram atau kredit yang belum lunas. Juga kaitan rumahnya bagus, disebut utang bank dan lain sebagainya.
Itulah perasaan hasad atau iri hati yang menghantui perasaan manusia. Dan itu, bisa hancurkan amal manusia walupun amalnya segunung dan tempatnya orang tersebut pantas di neraka.
Itulah isi taklim ba’da salat Subuh yang disampaikan DR Daud Rasyid MA Lc di Masjid Nurul A’la kawasan Gunung Pipa Balikpapan, Minggu (17/04/2022). Ustaz Daud datang atas undangan Badan Dakwah Islamiyah (BDI) PT Pertamina (Persero) RU V dan keliling dalam safari Ramadan di sejumlah masjid.
Daud Rasyid yang lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir bidang syariah dan hukum Islam ini, menilai, biarpun seseorang itu salatnya rajin 5 waktu, amalnya baik dan baca Alquran pun sering. Tetapi, jika penyakit hati berupa hasad setiap hari muncul, sejatinya raganya hancur dan kelak kekal di neraka.

Disebutkan DR Daud, dalam jiwa manusia, ada unsur energi negatif yang dapat menghancurkan diri dan lingkungan jika ia sudah terkena ‘penyakit hati’ yang disebutnya amradlul qulub tersebut.
“Jadi ini sifat hati manusia yang berbahaya. Khususnya hasad atau iri hati. Ada lagi, pamer (riya) ditambah ujub (angkuh dan sombong). Allah melaknat orang-orang semacam ini. Sebab, jiwanya gila dan rusak,” kata DR Daud Rasyid yang lulus cumlaude di Kairo Mesir ini.
Penyakit hasad katanya, problem jiwa manusia yang dampaknya luar biasa bagi kehidupan diri, lingkungan dan masyarakat. Sebab, konflik itu bisa terjadi karena hasad dan dengki.
“Jelas Rasulullah mengingatkan agar manusia menjauhi hasad, karena itu seperti memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar,” ujar DR Daud Rasyid mengutip hadist Rasulullah.
Hasad kata Daud Rasyid, sebenarnya secara psikologi menyiksa diri sendiri karena hatinya tak tenang yang disebabkan munculnya rasa tidak nyaman atas kebahagiaan orang lain.
Daud Rasyid menyebutkan, hasad hanya boleh dilakukan untuk 2 hal. Pertama, seseorang yang iri dengan orang kaya dermawan dan berdoa agar Allah dapat melimpahkan rezeki sehingga bisa juga jadi kaya dan dermawan. Kedua, hasad kaitan keilmuan yakni ingin mencontoh orang yang ilmunya tinggi dan diamalkan ke orang lain.

“Tapi jangan minta kaya saja dan tidak dermawan. Terus berilmu saja lalu tak mengamalkan. Contoh, ia seorang doktor hukum, mengerti hukum tetapi korupsi dan zholim serta menjadi tukang makelar hukum. Ini jelas tak benar,” kata Ustaz Daud Rasyid yang pernah menjadi imam masjid di New York AS selama 3 tahun ini.
TITIK HITAM
Dalam bagian lain, DR Daud Rasyid juga menggambarkan kaitan hati manusia. Awalnya putih bersih tak ada satu noda pun. Tetapi, ketika ada dosa dan satu dosa itu membuat titik hitam. Titik hitam itu terus bertambah sampai menutup hati manusia, jika ia tidak kunjung bertobat.
“Makanya ada orang menyebut, orang itu tertutup hatinya atau buta hatinya. Rusak sudah ruhnya, sementara fisiknya tegar, gagah perkasa dan cantik. Tetapi, cahaya Allah tidak tampak,” urai doktor bidang syariah di Kairo ini.
Oleh karenanya saran Daud, umat Islam jangan berbenah kaitan fisik saja. Mengobati sakit fisik dengan berupaya maksimal takut kalau kena covid-19 dan sakit lainnya. Itu baik sebagai ikhtiar.
Hanya, yang lebih penting obat hati yang secara otomatis mengobati ruh menjadi sumber kehidupan dan moral yang baik lewat amal perbuatan kebaikan di dunia.
Disebutkan Daud, hati tertutup itu seperti disebutkan dalam Surah Al-Mutafifin ayat 14 yang lebih menegaskan bahwa kendati Alquran adalah kalam dan wahyu Allah, tetapi mereka tetap mengerjakan dalam tindakan maksiat sebab hati mereka telah tertutup sehingga tidak mampu membedakan antara yang hak dan batil.
“Sudah tidak akan menerima ayat-ayat Allah. Hidungnya, matanya, mulutnya dan telinganya banyak berdosa. Sehingga, hatinya hitam dan aura kebaikan tak mungkin muncul,” ujar Daud.

Dalam konteks perbuatan dosa itu, Allah kata Daud, begitu sayang dan cinta kepada manusia. Ia menyiapkan bulan Ramadan agar manusia bertobat dan meminta ampun Allah.
“Dosa dan noda hitam manusia akan diampuni. Makanya ada disebut hadistnya man shoma romadhona (berpuasa bulan Ramadan) dan juga man qoma romadhona (tarawih di bulan Ramadan). Dan janji Allah, ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi (diampuni dosa-dosanya yang telah lalu),” kata Daud secara detail mengutip hadist shahih Bukhari Muslim itu.
Di akhir ceramahnya, Daud Rasyid menjawab pertanyaan jamaah kaitan mujahadah atau perjuangan Nabi Nuh selama 900 tahun menegakkan kalimat Allah, tetapi anak dan istrinya kafir. “Gagalkah perjuangan Nabi Nuh ustaz,” tanya jamaah.
Menurut Daud, Nabi Nuh tidak gagal, justru itu menjadi ibrah (pengalaman) manusia di dunia. Sebab, hidayah itu terbagi dua yakni hidayah irsyad dan hidayah At-taufiq. Untuk hidayah irsyad sudah jelas datang dari Allah berupa Alquran dan diutus Rasulullah kepada seluruh manusia. “Alquran dan hadist itu sebagai guidance atau petunjuk manusia,” katanya.
Sedang hidayah At-taufiq yakni persetujuan atau kemudahan yang datang dari Allah, dan manusia tidak dapat mengubah kecuali Allah.
“Anda bicara berjam-jam untuk manasihati orang, tentu itu sudah hidayah irsyad. Tetapi, tidak dapat dipaksa apakah dia mau sadar atau tidak, itu domain Allah yang disebut hidayah at-taufiq tadi. Intinya berbuat baik saja terus selama hidup di dunia,” pungkas Dr Daud Rasyid. (gt)













