TINTAKALTIM.COM-Suara sound-nya menggelegar. Sampai-sampai, warga RT 38 H Samud mengira ada resepsi perkawinan (walimatul ursy). Alunan musik koplo khas Sunda Jawa Barat menggema dan itu memberi semangat warga

Gotong-royong memang seringkali diiringi musik atau obrolan santai. Tentu, menambah keseruan dan semangat. Kendati, esensi gotong-royong sejatinya pada kebersamaan, sukarela dan silaturahmi.
Prayitno, warga RT 39 memang selalu membuat suasana ceria (mood), santai dan meningkatkan antusiasme warga kerja bakti lewat putaran musik. Awalnya, ia memutar lagu menggunakan speaker portable yakni perangkat ringkas dan nirkabel.

Suaranya belum menggema. Tiba-tiba, Sugiyanto membawa sound besar keluar dari aula dan musiknya menggunakan audio MP3 yang dicolok di sound. Sejumlah warga mengira, Giyanto –panggilan akrabnya— ingin karokean. Apes, mic-nya tidak ada. Padahal, ia rajin bernyanyi dengan lagu-lagu dangdut dan pop, bahkan saat lomba karaoke Agusutusan, ia meraih juara.

“Ada mic-nya kah, mau nyanyi,” kata Gianto. Tapi, keinginannya tak terpenuhi sebab mic tak ada sehingga alunan musik koplo Sunda menjadi hiburan dirinya dan warga. Lalu, Giyanto pun kerja bakti menyapu dahan di lapangan

Gazebo tempat nongkrong bapak-bapaknya. Sambil menikmati alunan musik ala Sunda. Tempat itu dimanfaatkan usai kerja bakti untuk ngopi sembari menyenangkan komunitas ‘majelis suro’ (majelis suka rokok).
“Ngopi dulu biar pikiran fresh sambil dengar musik Jawa Baratan,” kata Prayitno semangat

Irama musik itu memang nyaman didengar. Sampai-sampai Hj Ida Narta ikut menggoyangkan tubuhnya sembari menghibur anak Lurah Margomulyo Aris Yanuar Wibowo yang istrinya ikut berbaur
Tiba-tiba, Prayitno mengubah lagu ala Sunda tadi dengan ‘lagu cinta sejati’ yang terpisah. Judulnya: Pamit yang dilantunkan alm Broery Marantika. Tentu, suasana semangat jadi sedih. Sebab, lagunya menceritakan tentang perpisahan sepasang kekasih yang penuh keikhlasan namun berat hati

Izinkan aku pergi, Apalagi yang engkau tangisi. Semogalah penggantiku, Dapat lebih mengerti hatimu. Lalu, di reffnya: Selamat tinggal kudoakan, Kau selalu bahagia, Hanya pesanku Janganlah lupa kirimkan kabarmu. Itulah petikan sebagian syair lagu Pamit tadi
“Meleleh hati yang punya kenangan. Biarkan ada yang menikmati lagu ini sambil mikir masa lalunya,” kelakar Dedy yang sebenarnya ikut menikmati lagu itu yang wajahnya sebenarnya ikut galau.
Pamit, memang lagu yang mengaduk emosi hati. Tetapi, itu hanya lagu. Tidak berdampak pada aktivitas gotong-royong yang dipimpin Ketua RT 39 BTN Gn IV Neneng Zuleha. Warga tetap bersemangat membersihkan sampah di lapangan dan lingkungan jadi bersih.

Tapi, di gazebo itu bapak-bapaknya menikmati lagu Pamit. Sepertinya jadi lagu nostalgia yang mampu membangkitkan kenangan masa muda. Hanya, ada mimik sedih karena lirik dan melodinya mendalam.
Alhasil: melupakan lagu itu dengan rangkaian kata-kata kemarin itu kenangan dan tak mungkin terulang. Sekarang, mari kita bersyukur karena sehat dan esok masih misteri. Salam BTN (Bersih, Tenang, Nyaman). (gt)












