TINTAKALTIM.COM-Mungkin dekat perayaan Idul Kurban, sehingga muncul frasa ‘jagal’. Bukan merujuk pada penyembelihan hewan kurban, tapi itu plesetan imperatif atau kata ajakan merawat, membersihkan dan memelihara lingkungan. Makna ‘jagal’ sebenarnya potongan kata dari Jagalah Kebersihan

Itu komitmen Ketua RT 39 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat, Neneng Zuleha yang mengajak warganya lewat undangan menjaga kebersihan kampung dengan kerja bakti. Dirajut silaturahmi antarwarga

“Kita kerja bakti hari Minggu (26/4/2026) mulai pukul 07.30 Wita. Bisa di halaman rumah atau datang ke titik kumpul (muster point) lapangan depan masjid. Kumpul di gazebo,” share undangan gotong-royong dari Neneng via aplikasi group WhatsApp (WA) warga RT 39
Kata ‘jagal’ disuarakan Hendra Winardi yang juga bendahara Masjid Asy-Syifa. Ia juga dipercaya jadi panitia kurban. Sehingga, kata ‘jagal’ dianalogikan jagalah kebersihan tadi.

Tepat pukul 07.30 Wita, warga mulai berdatangan. Bu RT menyiapkan absen. Lapangan dan sekitarnya terlihat kotor. Itu karena dua hari sebelumnya, suami Bu RT, Zulkifli sudah menggunakan mesin potong rumput memangkas rumput dan pada saat warga gotong-royong, semua sampah rumput itu dibersihkan.

Suasana gotong-royong agak spesial. Lurah Margomulyo Aris Yanuar Wibowo dan istri serta anak-anaknya ikut memantau gotong-royong. “Saya apresiasi warga RT 39 selalu kompak gotong-royong dipimpin Bu RT Neneng. Ini harus terus dipertahankan,” kata Aris

Aris mengingatkan warga, kebersihan jadi kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan bersih, nyaman dan sehat. “Kan kebersihan lingkungan jadi tanggung jawab warga. Bukan urusan RT saja. Makanya, kalau ada frasa jagal dari potongan kata jagalah kebersihan itu sudah tepat,” senyum Aris

Aris justru menambahkan, tak hanya komitmen jadi ‘jagal’ tetapi harus pula warga menjaga ‘Kang Ramli’ . Apa itu? Plesetan kampung ramah lingkungan dan itu di RT 39. “Boleh toh saya plesetkan juga ‘Kang Ramli’,” kelakar Aris yang humble bercengkrama dengan warga
KEMARAU
Aris sebagai lurah perlu mengingatkan warga atas datangnya musim kemarau yang menurut prediksi BMKG mulai Mei atau Juni 2026. Potensi krisis air bersih, kebakaran, risiko dehidrasi dan gangguan pernapasan.

“Saya sudah bertemu jajaran anggota DPRD dan direksi PDAM untuk melakukan mitigasi kemarau dengan mempersiapkan ancaman krisis air bersih. Makanya, mulai sekarang warga harus memiliki bak penampungan. Karena, kemarau akan panjang,” pinta Aris

Kemarau katanya, warga RT 39 juga harus menjaga kesehatan. Perbanyak minum air putih dan jika tidak penting, hindari aktivitas luar ruang karena kondisi terik matahari. “Informasinya akan ada panas ekstrem, suhu tinggi bisa berbahaya bagi kesehatan karena udara kering dan berdebu. Sebaiknya gunakan masker,” pinta Aris yang menambahkan, anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis seperti paru harus ekstra waspada.
KOLABORASI
Warga yang hadir gotong-royong sesuai absen ada 25 orang. Mereka kolaborasi membersihkan sampah berserakan di lapangan dan sekitarnya. Bahkan, ayah dan anak Rachyudi serta Adi pun ikut bergotong-royong

Warga lainnya, Siwanto dan istri selalu hadir gotong-royong. Ditambah bapak-bapaknya yang kompak seperti Prayitno, M Nursalim, Sugiyanto, Rospita, Ali Umbri, Hendra Winardi, Fahrulian, Jana Dedy, Bambang, Poniran, Dedy Setiawan, Sutojo, Hj Ida E, Haidir, Rudy Rahmadi, Edo serta lainnya

Dalam waktu singkat, lingkungan yang kotor bersih. Silaturahmi mereka memanfaatkan gazebo sambil seruput teh dan kopi serta makanan ringan (snack) seperti serabi solo, untuk-untuk sambil bercerita alias bekesah.

“Terimakasih yang sudah menyumbang snack untuk gotong-royong karena tak hadir ada kesibukan,” kata Neneng. Salam BTN (Bersih, Tenang, Nyaman). (gt)













