TINTAKALTIM.COM-Reses. Itu tugas wakil rakyat atau anggota DPRD. Era demokrasi menjamin rakyat mengemukakan aspirasinya. Di era sekarang, lembaga yang mampu menjalankan fungsi ‘perpanjangan lidah warga’ itu adalah DPRD lewat kegiatan reses. Salahsatunya disuarakan warga Kelurahan Margomulyo kepada anggota DPRD Balikpapan H Alwi Alqadri. Ia juga Ketua Komisi III (bidang pembangunan).
Jadwal reses itu setahun biasanya 3 kali. Dan warga mengikuti secara antusias. Mereka hadir punya keperluan beragam. Ada dua sisi yang terjadi. Wakil rakyat hadir bertemu konstituennya secara politis tetapi yang lebih penting ada jaring aspirasi yang harus diperjuangkan.
Reses efektif digunakan dalam menjalankan fungsi anggota DPRD. Mereka mempunyai 3 fungsi yakni legislasi (membuat perda), budgeting (menyetujui atau tidak anggaran) dan controlling (pengawasan) baik APBD maupun pembangunan.

Saat reses di Margomulyo bertempat di Pendopo Asy-Syifa, Alwi Alqadri didampingi lurah Ibnu Hasim, Plt Dirut Perumda Tirta Manuntung (PDAM) Balikpapan Hj Purnaawati dan staf serta dipandu moderator H Sugito SH (Wakil Ketua Media Online Kaltim/Direktur Tintakaltim.com). Mewakili tuan rumah hadir Ketua RT 39 Neneng Julaiha (Ipon) dan Ketua RT 38 Sihombing.
“Kami reses masa sidang II. Ayo silakan aspirasi bapak-ibu RT sampaikan. Tentu, nanti kami akan membahasnya di internal DPRD sesuai dengan daerah pilihan (dapil). Saat ini kami hadir mewakili dapil Balikpapan Barat,” kata Alwi dalam penjelasannya.

Alwi sudah mengetahui, jika reses di Balikpapan Barat pasti protes warga kaitan air bersih akan banyak. Sehingga ia minta kehadiran unsur PDAM. “Sengaja saya hadirkan Plt Dirut PDAM. Ini baru menjabat langsung harus turun ke lapangan. Biar mengetahui jeritan hati warga,” urai Alwi.
Menurut Alwi, kaitan air bersih PDAM sudah sering dilontarkan dalam reses. Dirinya berupaya membantu maksimal dengan distribusi air tangki. “Saya tidak tahu. Dulu sebelum jadi anggota DPRD minta air saja sulit. Sekarang tinggal call datang. Karena, kami langsung ke direksi. Itulah upaya kami untuk kepentingan warga sifatnya sementara,” katanya.
Alwi berupaya mendengar jeritan hati warga Margomulyo. Malam itu memang jadwal di kelurahan itu. Ia wajib menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Hanya, terkadang ada keterbatasan terkait anggaran.
“Minimal yang bisa saya lakukan adalah infrastruktur. Mengenai air bersih saya berharap Balikpapan Barat clrear kaitan distribusi airnya. Kan aneh, kecamatan lain bisa lancar tetapi di barat tidak,” jelasnya.
INFRASTRUKTUR DAN AIR
Suasana reses yang dihadiri ketua-ketua RT itu berjalan penuh kekeluargaan. Lalu-lintas diskusi dan penyampaian aspirasi berjalan lancar dan forum itu sekaligus dijadikan curhat warga kepada anggota DPRD.

“Drainase tempat saya volumenya harus diperbesar dan kurang sekitar 45 meter. Tentu kalau hujan bisa menampung debit air besar,” kata Miftahudin, Ketua RT 45 yang menyuarakan pertama aspirasi warga itu.
Tak hanya infrastruktur, Mifathudin juga meminta ada pelatihan fardu kifayah (aktivitas mengurusi jenazah) di tiap-tiap RT. Sebab, ada orang pintar tapi tak berani dan orang berani tapi tak pintar. Juga tidak pintar dan tidak berani. “Makanya supaya pintar dan berani mengurus jenazah, pelatihan fardhu kifayah sangat efektif,” usul Miftahuddin kepada lurah.
Handoko juga usul. Warga RT 12 ini menyuarakan kaitan air warga. Bertahun-tahun air tidak mengalir. Dan disebut sebagai zona merah. “Ada sumur yang dibangun dari kementerian. Apakah itu boleh ditangani warga. Sebab, kaitannya dengan distribusi air. Sudah dari dulu air tak mengalir. Kami minta bisa diatasi segera,” kata Handoko sambil menambahkan, warga lelah ketika bicara air bersih tak pernah ada solusi.
Diskusi makin memuncak. Mulyadi dan Gufron dari RT 24 dan RT 46 pun menyuarakan infrastruktur. “Ada jalan di atas pipa 3 milik Pertamina. Tapi kondisinya rusak. Apakah bisa diatasi pemerintah. Mohon Pak Alwi cek,” pinta Mulyadi.
Ia juga mengadu kaitan adanya tiang listrik yang perlu diganti. Tetapi, sudah berkali-kali berkoordinasi dan mengadu ke PLN tidak digubris. Padahal, tinggal diganti tiangnya selesai.
Alwi mendengar dan mencatat semua keluhan warga. Itu dijadikan aspirasi yang akan diperjuangkan. “Jalan itu kurang berapa meter Pak Miftah. Nanti saya perjuangkan di anggaran perubahan,” janji Alwi.

Kaitan air PDAM, Alwi sangat ‘keras’ ikut memprotes. Menurutnya, kehadiran Plt Dirut PDAM Purnawati dijadikan test case untuk ikut turun, mengecek dan mencarikan solusinya. “Kalau tak selesai masalah air di Balikpapan Barat, saya akan usul tidak perlu menjadi dirut yang defenitif,” ancamnya.
Plt Dirut PDAM Hj Purnawati punya kesempatan menjawab: Ia sebenarnya orang lama di PDAM, sehingga katanya, hampir seluruh aktivitas PDAM diketahui.
“Saya sebelumnya bagian finance atau keuangan. Seluruh aspek keuangan saya tangani. Insya Allah masukan bapak-ibu kita catat dan secara teknis akan dicarikan solusinya,” ujar Purnamawati.
Dikatakannya, air itu beda dengan listrik. Tergantung debit air yang tersedia. Sekarang ini pun mengalami defisit air baku 800 liter per detik. “Ingin saya sampaikan, bahwa tugas PDAM itu sebenarnya operator. Kaitan air baku harus bersama-sama stakeholders lainnya.Tapi, kita selalu dituntut untuk menyediakan air baku. Sebenarnya, bisa hanya keterkaitan dengan instasi lain juga ada,” jelas Purnmawati.
Kaitan lainnya menurut Purnamawati, Kota Balikpapan itu tofografinya berbukit-bukit. Sehingga, distribusi air harus mengikuti jalur. Sehingga, daerah tinggi bisa saja tak mengalir. “Kami komitmen untuk terus memberi pelayanan terbaik. Kuncinya ada pada penambahan debit air,” kata Purnawati yang disambung penjelan itu oleh stafnya Yuli secara teknis. (gt)













