TINTAKALTIM.COM-Program pembayaran non-tunai (cashless) kini diterapkan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kaltim untuk Pelabuhan Kariangau-Penajam Paser Utara (PPU). Langkah ini sebagai wujud program digitalisasi bisnis penyeberangan.
Kepala Seksi Tata Usaha BPTD Kelas II Kaltim Dailamianus S Sos MAP menegaskan, program cashless masih bersifat sosialisasi. Sehingga, diharapkan pengguna jasa yang melintas melalui Pelabuhan Ferry Kariangau-PPU dapat menyesuaikan diri.
“Kami masih tahap sosialisasi yang diberlakukan mulai 1 Juni 2023 sambil melakukan evaluasi dan monitoring (monev). Tentu, jika ada kekurangan akan diperbaiki. Tetapi, program cashless diharapkan berjalan maksimal,” kata Dailamianus yang biasa disapa dengan Pak Dai ini.

Disebutkannya, secara digitalisasi nantinya cashless bekerjasama dengan Bank Mandiri yang menggunakan secara teknis melalui multichannels seperti prepaid, QRIS maupun kartu debit.
“Ini masuk tahap implementasi. Karena, kebijakan Kepala BPTD Kaltim Pak Muiz Thohir harus dilakukan. Apalagi analisa dan kajian lewat rapat-rapat pun telah dipersiapkan. Tapi, tahap sosialisasi ini pun untuk melihat bagaimana pemetaan (mapping) pelaksanaan cashless di lapangan,” kata Dai.
Menurut Dai, nanti operator di Pelabuhan Kariangau seperti PT ASDP Indonesia (Persero), PT Sadena Mitra, PT Jembatan Nusantara, PT Pasca Dana Sundai, PT Dharma Lautan Utama, PT Bhahtera Samudra dan PT Tranship Indonesia akan ikut kebijakan cashless ini. Termasuk, penumpang orang dan barang.
Tetapi kata Dai, sekarang masih tahap edukasi dan sosialisasi. Karena tahapannya nanti, ada counter ticketing di mana diawali pelanggan membeli tiket lalu petugas menghitung harga dan dibayar menggunakan Livin by Mandiri e-wallet lain, kartu debit dan e-money.
“Jadi pengguna kartu e-money nanti bisa top-up saldo termasuk dompet digital (e-wallet) seperti GoPay, OVO dan lainnya. Prinsipnya, program cashless ini lebih menerapkan konsep digital dalam pembayaran,” kata Dai.
Menurut Dai, sebenarnya penumpang yang biasa melintas di Pelabuhan Kariangau-PPU tidak kaget. Karena, pemberlakuan cashless sudah dilakukan PT ASDP (Persero) dari PPU ke Pelabuhan Kariangau Balikpapan. Sehingga, tinggal menyesuaikan saja.

Penerapan cashless ini kata Dai, untuk meningkatkan customer experience para pengguna jasa. Sebab, dinilai masyarakat mampu melek teknologi sejalan dengan penggunaan gadget atau ponsel.
“Kalau sudah terbiasa, prosesnya justru lebih simple, mudah dan cepat. Sekaligus mendukung Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), karena nanti akan dilakukan proses masuk pelabuhan dengan satu pintu (one gate),” ujar Dai yang menyebutkan, sosialisasi juga untuk melihat apa saja kelemahan cashless untuk diperbaiki.
Dalam konteks mereka yang belum memiliki kartu untuk pembayaran non tunai, menurut Dai tetap akan dilayani secara manual. Karena, masih tahap ujicoba. Tetapi, ke depan harus membeli kartu untuk top up yang disediakan di loket.

“Makanya ini baru tahap sosilisasi. Sekaligus edukasinya kita berikan ke pengguna jasa. Diharapkan ikut mendukung kebijakan pemerintah dalam program cashless ini,” kata Dai.
Berkaitan dengan pihak pegawai dan warung-warung yang ada di dalam, menurut Dai nanti akan diberlakukan pass masuk. Tentu, kebijakan tarif murah yang diatur oleh Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) di Kariangau dan PT Bank Mandiri. “BPTD sebagai operator menjalankan cashless ini karena ketentuan Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan. Semoga di Pelabuhan Kariangau ini dapat berjalan lancar,” kata Dai.
Sementara itu penyedia layanan keuangan digital yang mengoperasikan sistem cashless di Pelabuhan Kariangau, PT Mitra Transaksi Indonesia (MTI) melalui stafnya Adul mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait jika ada kekurangan cashless di Pelabuhan Kariangau.
“Prinsipnya MTI membantu Bank Mandiri dan BPTD Kaltim agar masyarakat pengguna jasa melakukan transaksi yang aman sekaligus mengenalkan kebiasaan baru customer yang melintas di Pelabuhan Kariangau ke PPU,” kata Adul.
Menurut Adul, sementara memang menggunakan e-money, QRIS dan e-wallet. Tetapi, masyarakat bisa menggunakan kartu debit bank apa saja. “Secara top up, silakan nanti misalnya warung-warung atau mana pun menjual kartu e-money. Dan loket pun menyiapkan. Hanya, ini masih tahap sosialisasi,” ujar Adul.
Dikatakannya, sistem cashless sebenarnya lebih mudah bagi pengguna jasa pelabuhan. Karena, sudah diterapkan di sejumlah pelabuhan di Indonesia. “Kami MTI akan mendukung program cashless yang dilakukan BPTD Kaltim ini hingga maksimal,” pungkas Adul. (gt)













