Penulis: Rikmo Kuswanto
GOLKAR menjadi satu-satunya parpol yang dapat mengusung sendiri bakal calon (balon) Walikota Balikpapan pada Pilkada tahun 2020 mendatang. Kepastian itu diketahui setelah pleno KPU Balikpapan menetapkan Golkar peraih kursi terbanyak pada Pemilu 17 April 2019 yakni 11 kursi. Menyusul PDIP 8 kursi, Gerindra dan PKS masing-masing 6 kursi, Demokrat 4 kursi, Nasdem 3 kursi, PPP 3 kursi, Hanura 2 kursi, PKB dan Perindo masing-masing 1 kursi.
Sementara sembilan parpol lainnya yakni PDIP, PKS, Gerindra, Demokrat, Nasdem, PPP, Hanura, PKB dan Perindo harus berkoalisi untuk dapat mengusung balon Walikota yang dijagokannya, sebab pada Pemilu serentak lalu perolehan suara parpol-parpol itu kurang dari 9 kursi.
Sesuai persyaratan UU, balon Walikota dapat diusung oleh parpol atau gabungan parpol yang memiliki jumlah kursi minimal 20 persen di DPRD setempat. Jika kursi di DPRD Balikpapan berjumlah 45, maka parpol atau gabungan parpol yang dapat mengusung balon Walikota harus memiliki 9 kursi.
Golkar dipastikan akan mengusung Rahmad Mas’ud – sang ketuanya sendiri sebagai balon Walikota Balikpapan periode 2020-2025. Tetapi siapa yang akan mendampingi Rahmad masih sulit ditebak.
Sebenarnya Rahmad bisa saja menggandeng kader potensialnya, Abdulloh. Elektabilitas Abdulloh yang Ketua DPRD Balikpapan itu cukup kuat. Tidak saja karena ketokohannya tetapi juga identifikasi kesukuan diperkirakan akan membangkitkan “simbol solidaritas etnis” orang orang jawa untuk memberi dukungan suara kepada Abdulloh.
Namun Rahmad diyakini tidak akan mengambil Abdulloh, karena pertimbangan resistensi politik yang akan dihadapi Golkar disamping karena alasan-alasan lainnya. Rahmad agaknya lebih senang membangun kerjasama koalisi dengan dengan parpol lain, meski harus dengan kompensasi “menyerahkan” balon Wakil Walikota pendamping dirinya dari parpol yang diajak berkoalisi.
Rahmad sangat paham, perolehan suara Golkar di Pemilu 17 April lalu tidak cukup mampu untuk meraih kemenangan di perhelatan Pilkada Balikpapan 2020-2025 tanpa berkoalisi dengan parpol lain. Partai Demokrat yang memiliki 4 kursi dipastikan akan berkoalisasi dengan Golkar tanpa syarat apapun. Itu dimungkinkan lantaran Ketua Partai Demokrat Abdul Gafur Mas’ud adalah adik kandung Rahmad Mas’ud. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memperoleh 1 kursi dikabarkan juga berhasil diajak Rahmad untuk bergabung dalam koalisi besar Partai Golkar.
Parpol lain yang diincar Rahmad untuk diajak berkoalisasi adalah PDI Perjuangan. Partai besutan Megawati Soekarno Putri ini diperkirakan akan menjadi ‘bidadari cantik’ yang akan diperebutkan oleh koalisi parpol lainnya. Dalam kalkulasi politik Rahmad Mas’ud, mengajak PDIP berkoalisi akan semakin memperkuat soliditas dan militansi massa partai kepala banteng moncong putih itu untuk memenangkan dirinya. Sejarah mencatat setidaknya dalam tiga periode pelaksanaan Pilkada Balikpapan PDIP selalu mendulang sukses.
Bagi Rahmad mendekati PDIP dan mengajaknya berkoalisi tidaklah sulit. Kedekatan hubungan antara Rahmad Mas’ud dengan Ketua PDIP Kaltim Safaruddin diperkirakan akan memuluskan terjalinnya kerjasama koalisi Partai Golkar – PDIP pada Pilkada 2020. Bahkan kabarnya Rahmad dan Safaruddin telah beberapa kali bertemu membahas mengenai kerjasama koalisi itu. Tapi sejauh ini belum diperoleh informasi detail dari syarat kompensasi yang diminta PDIP. “Yang pasti PDIP akan menjadi teman koalisi utama Partai Golkar”, ujar seorang petinggi Partai Golkar Balikpapan.
Kabar mesranya hubungan PDIP dengan Golkar telah menimbulkan spekulasi beragam dari kalangan kader dan aktivis partai nasionalis itu. Dengan perolehan 8 kursi di DPRD Balikpapan dan hanya membutuhkan teman koalisi parpol yang mendapat 1 kursi, PDIP sebenarnya berpeluang mencalonkan sendiri balon Walikota dan Wakil Walikota.
Apalagi sebelumnya santer terdengar PDIP akan mencalonkan Safaruddin untuk maju sebagai balon Walikota Balikpapan 2020-2025. Inspektur Jenderal Purnawirawan yang menjabat Ketua DPD PDI Kaltim itu dikabarkan menggandeng Abdulloh, kader Golkar yang saat ini menjabat Ketua DPRD Balikpapan sebagai pendampingnya.
“Andai Pak Safaruddin jadi maju bersama Pak Abdulloh selesai bola-bola. Lewat semua calon-calon yang ada,” ujar sejumlah kader dan aktivis PDIP dengan nada terdengar kecewa.
Pasca kekalahan Safaruddin pada Pemilhan Gubernur Kaltim tahun lalu, memang berhembus kabar mantan Kapolda Kaltim itu akan mencalonkan diri pada Pilkada Balikpapan 2020. Namun rencana itu berubah setelah Safaruddin diminta oleh DPP PDIP untuk mendaftar jadi Caleg DPR RI. Oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri, Safaruddin bahkan telah disiapkan jabatan sebagai Ketua Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, hak azasi manusia dan keamanan.
“Ibu Mega (Megawati Soekarno Putri-red) sendiri yang menyebut puang (panggilan akrab Safaruddin-red) akan dijadikan Ketua Komisi III DPR RI” kata sumber media ini yang menyaksikan pertemuan antara Megawati, Safaruddin dan sejumlah koleganya di Jakarta beberapa waktu lalu.
RAHMAD MAS’UD PALING SIAP
Pilihan merapatnya PDIP ke Golkar tentu dengan sejumlah pertimbangan politik yang matang. Rahmad Mas’ud dinilai sebagai satu-satunya balon Walikota Balikpapan yang paling siap, baik dukungan finansial, jaringan partai dan statusnya sebagai pertahana. Tetapi bagaimana dan apa saja deal politik yang mengemuka antara PDIP dengan Golkar masih belum diketahui. Kalangan internal partai beringin berharap, kesepakatan itu segera bisa tercapai supaya mesin partai bisa mulai dipanaskan.
“Pendamping Pak Rahmad memang harus dari PDIP, idealnya wong jowo” kata salah seorang petinggi partai Golkar.
Jika merujuk kader PDIP “wong jowo” yang pantas dan memiliki kapasitas memadai untuk disodorkan menjadi pendamping Rahmad Mas’ud, maka setidaknya ada tiga nama yaitu Heru Bambang mantan Wakil Walikota Balikpapan, Edy Sunardi Dharmawan (Edi Tarmo) dan Thohari Aziz.
Heru Bambang adalah figur yang sarat dengan pengalaman birokrasi. Dia juga masih memiliki loyalis pendukung yang tersebar di hampir semua kelompok masyarakat. Lebih dari lima ribu suara yang diperolehnya saat Pemilu Legislatif lalu, kabarnya didapatkan tanpa kerja politik apapun alias berdiam diri. Itu artinya Heru Bambang masih memiliki elektabilitas yang cukup baik.
Demikian pula Edy Sunardi Dharmawan yang kini anggota DPRD Kaltim dapil Balikpapan. Meski terbilang “pendatang baru” di PDIP, putera mantan Ketua PDI Balikpapan tahun 1980/1990-an Moelyono Soetarmo itu memiliki elektabilitas yang cukup bagus. Terbukti pada Pemilu lalu Eddy memperoleh 15.272 suara yang membawanya kembali menduduki kursi DPRD Kaltim. Perolehan suara Eddy itu satu tingkat lebih rendah dari perolehan suara terbanyak untuk caleg DPRD Kaltim atas nama Hasanuddin Mas’ud (Golkar) sebesar 19.959 suara.
Nama Thohari Aziz juga patut dipertimbangkan. Ketua PDIP Balikpapan yang kini anggota DPRD Balikpapan itu juga memiliki jaringan luas disejumlah kelompok masyarakat dan kemahasiswaan. Namun semua pilihan itu tergantung bagaimana deal politik antara Safaruddin dan Rahmad Mas’ud. Kabar lain menyebut, bargaining politik yang dibangun PDIP tidak hanya soal figur pendamping Rahmad Mas’ud tetapi juga disodorkannya nama Abdulloh untuk tetap memimpin DPRD Balikpapan periode mendatang.
“Karena ada wacana Muhammad Alwi dari dapil Balikpapan Barat akan diplot jadi Ketua DPRD Balikpapan menggantikan Abdulloh,” kata sumber media ini. Sejauh ini belum diperoleh konfirmasi mengenai hal itu.
ARITA RIZAL SOLID
Pengelompokkan parpol untuk mengusung kader terbaiknya pada Pilkada Balikpapan 2020 juga dilakukan oleh Nasdem (3 kursi), PPP (3 kursi), Hanura (2 kursi) dan Perindo (1 kursi). Diinisiasi oleh Ketua Partai Nasdem Balikpapan Rizal Effendi, keempat parpol itu bahkan dikabarkan telah bersepakat membentuk fraksi gabungan di DPRD Balikpapan dengan nama Fraksi Manuntung.
Sejauh ini memang belum ada penjelasan resmi siapa yang bakal diusung oleh koalisi Nasdem itu. Tetapi nama Yohana Palupi Arita, biasa disapa Arita – isteri Walikota Balikpapan Rizal Effendi disebut sebut sebagai calon kuat balon Walikota. Wanita kelahiran Yogyakarta 15 Juni 1961 itu oleh banyak pihak disebut sebagai figur yang teduh dan sangat akomodatif dalam mendengarkan dan menampung keluhan warga masyarakat.
“Ibu Arita itu memiliki massa pendukung yang cukup solid dari berbagai kelompok masyarakat. Pengalaman beliau saat turun ke bawah mendampingi Walikota Pak Rizal, mengisyaratkan betapa warga kota sangat respek kepada beliau,” cerita seorang aktivis organisasi perempuan di Balikpapan beberapa waktu lalu.
Nasdem dan parpol koalisinya juga masih menggodok sejumlah nama yang patut disandingkan dengan Arita. Tersebut nama Bendahara Partai Nasdem Balikpapan Ahmad Basir dan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Balikpapan Glenn Aringga Nirwan. Untuk mengetahui elektabilitas keduanya, Ketua Partai Nasdem Balikpapan Rizal Effendi meminta Basir dan Glenn melakukan sosialisasi diri ke tengah masyarakat. Itu sebabnya di hampir seluruh sudut kota tampak terpampang foto Ahmad Basir berukuran besar pada baliho dan spanduk.
Berbeda dengan yang dilakukan Ahmad Basir, Glenn Aringga Nirwan justru memilih kerja silent untuk mensosialisasi diri. Direktur Utama PT Balikpapan Ready Mix (BRM) Pile ini nyaris tak menebarkan foto dirinya di baliho atau spanduk. Melalui jaringan organisasi yang dipimpinnya HIPMI dan kolega bisnisnya, Glenn dikabarkan terus membangun komunikasi dan silaturahmi.
Ayah Glenn yang mantan Ketua KONI Balikpapan Roy Nirwan, juga ikut membantu membuka jalan bagi Glenn maju di perhelatan Pilkada Balikpapan. Roy Nirwan dikabarkan juga telah menyiapkan dukungan finansial yang sangat memadai untuk suksesi putranya itu. “Seratus Milyar Rupiah,” sebut sebuah sumber media ini.
GERINDRA DAN PKS
Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memperoleh masing 6 kursi di DPRD Balikpapan diperkirakan bakal berkoalisi. Kedua parpol ini terlihat “agak santai” dari riuh rendah suara parpol lain yang sudah lebih dahulu kasak kusuk membangun kerjasama koalisi. “Santainya” kedua parpol itu diperkirakan karena minimnya figur yang dinilai memadai untuk ditampilkan sebagai balon Walikota dan atau balon Wakil Walikota.
“Boleh jadi Gerindra dan PKS menunggu untuk dilamar atau diajak berkoalisi oleh parpol yang sudah punya figur,” kata sejumlah aktivis partai.
Berhembus kabar kencang Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan Yaser Arafat juga tertarik untuk ikut pada konstelasi perpolitikan Pilkada Balikpapan. Yaser melirik Gerindra sebagai motor tunggangannya. Putera Ketua MPC Pemuda Pancasila Balikpapan Syahril H.M. Taher itu bahkan mengaku telah “dilamar” oleh sejumlah petinggi parpol untuk menjadi balon Wakil Walikota. Namun Yaser menolak menyebutkan siapa saja petinggi parpol itu.
“Pokoknya ada lah, tapi saya bilang liat-liat dulu. Prinsipnya mengalir saja seperti air,” kilah Yaser Arafat.
Pekan lalu saat momen menghadiri pernikahan anak Ketua Pemuda Pancasila Kaltim Said Amin di Jakarta, Yaser Arafat yang didampingi ayahnya Syahril H.M. Taher dikabarkan telah meminta dukungan dan bantuan Said Amin untuk menjembatani bertemu dengan petinggi Partai Gerindra Pusat. Sejauh ini belum diperoleh penjelasan bagaimana hasil pertemuan itu. Yaser hanya mengisyaratkan dengan kalimat singkat. “Insya’ Allah aman,” ujarnya.
Jika benar Gerindra memberikan tempat kepada Yaser, maka sudah pasti PKS akan menjadi teman koalisinya. Tapi persoalannya bagaimana format kerjasama koalisasi kedua parpol itu. Apakah Yaser dengan motor politiknya Gerindra yang akan disorong menjadi balon Walikota dan balon Wakil Walikotanya dari PKS. Atau sebaliknya PKS mengambil posisi balon Walikota dan Yaser yang diusung Gerindra menjadi balon Wakil Walikota. Sejauh ini PKS sendiri masih berdiam diri dan belum terdengar memunculkan figurnya.
Apabila analisa dan prakiraan diatas benar, maka akan ada tiga poros kekuatan pengelompokan parpol yang mengusung balon Walikota pada Pilkada Balikpapan 2020 nanti. Poros pertama Rahmad Mas’ud (Golkar) dengan dukungan koalisi PDIP, Demokrat dan PKB. Poros kedua Yohana Palupi Arita (Nasdem) bersama PPP, Hanura dan Perindo. Poros ketiga Yaser Arafat (Gerindra) bersama PKS.
Namun sebuah sumber yang dekat dengan Rahmad Mas’ud menyebutkan, pada waktunya kelak Gerindra dipastikan akan bersama dalam koalisi besar Golkar untuk memenangkan Rahmad Mas’ud. Sumber tadi mengatakan pertemuan dengan petinggi Gerindra Pusat di Jakarta sudah beberapa kali dilakukan dan mengisyaratkan Gerindra akan bersama Rahmad.
“Golkar sepertinya ingin head to head dengan Nasdem dan koalisinya di Pilkada nanti, sebab hanya akan ada dua poros kekuatan” kata sumber tadi.
Lantas PKS akan mengarahkan dukungannya ke mana? (*)












