TINTAKALTIM.COM-Tokoh Nahdlatul Ulama KH Ahmad Muwafiq atau populer disapa Gus Muwafiq menegaskan, jika dirinya salah satu ulama yang usul ke Presiden Jokowi agar Ibu Kota Negara (IKN) tepatnya di Provinsi Kaltim. Sebab, ia menilai Kaltim mengukir sejarah peradaban bangsa
Menurutnya, di Indonesia kerajaan Hindu tertua yakni di Kutai Kartanegara, ketika ada sejumlah usulan IKN seperti di Kalteng, dirinya tetap bersikukuh memberikan masukan ke Jokowi tetap di Kaltim. “Kaltim paling tepat dengan raja pertamanya bernama Kudungga. Jadi dari Kaltim maka Indonesia punya catatan sejarah,” ujar Gus Muwafiq kepada Jokowi saat itu pada suatu acara santai di Istana yang usul itu disambut manggut-manggut (menganggukkan kepalanya).
Gus Muwafiq paham betul, jika Jokowi bersikap dengan gestur tubuh semacam itu, pertanda berpikir dan lebih setuju. Akhirnya IKN benar diputuskan di Kaltim tepatnya di Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian Kutai Kartanegara (Kukar). Yang nanti Istana Negara ada di Sepaku.
Putusan itu tepat ujar gus Muwafiq, jika melihat sejarah Kukar, anak Raja Kudungga saat itu bernama Mulawarman yang kemudian melanjutkan perjalanannya dan tiba di Pulau Borneo dan terdampar di sebuah sudut muara Sungai Mahakam, yang dikenal dengan nama Muara Kaman. “Daerah penyangganya Kota Balikpapan. Seolah dapat diasumsikan ada kata Balik dan Papan. Itu artinya, Indonesia kembali atau balik untuk memikirkan papan atau sandang rakyatnya. Jadi Balikpapan akan maju sebagai kota pendukung,” analogi Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq bercerita itu di hadapan Wakil Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud dan jajaran pengurus Gerakan Masyarakat Madani (Gemma) yang dipimpin ketuanya Ir Sudjatmiko dan pengurus lainnya seperti Rendra Rachman, Sukadi dan tokoh Jawa Rudi Prabowo. “Gus Muwafiq transit dari acara memberi ceramah di Sulawesi Barat (Sulbar). Kalau ke Balikpapan pasti mampir rumah,” kata Rahmad Mas’ud.
Ulama besar yang pernah jadi asisten pribadi mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini, asli Sleman Jogyakarta yang dikenal sebagai salah satu orator NU zaman sekarang karena kedalaman ilmu dan kemampuan orasi dengan paham ilmu agama.
TRILOGI NAHDLATUL ULAMA
Bincang di meja makan kediaman Rahmad itu, Gus Muwafiq juga cerita bagaimana Gus Dur memberikan pemikirannya tentang demokrasi yang strateginya khusus yakni diramu dengan kebebasan yang bertanggungjawab. Sehingga, perlakuan ke masyarakat diwujudkan sama di mata undang-undang.
“Jadi pemikiran Gus Dur itu sangat cerdas dan visi kepemimpinannya yang unik dan disebut manusia multidimensional,” jelas Gus Muwafiq yang sesekali membuat joke-joke hingga membuat seluruh tamu di meja makan tertawa.
Gus Muwafiq justru sharing bagaimana prinsip Gus Dur yang berkaitan dengan relasi antara Islam dan kebangsaan. Keduanya tak harus didudukkan di dalam posisi yang saling bertentangan. “Gus Dur itu selalu menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demi menyelamatkan Pancasila,” jelas Gus Muwafiq.

Dalam penjelasan Gus Muwafiq, Gus Dur mempunyai pandangan dalam komitmen kemanusiaan atau ukhuwah basyariyah yang dapat dijadikan dasar untuk menyelesaikan tuntutan persoalan utama kiprah politik umat Islam dalam masyarakat modern dan majemuk di Indonesia. “Coba lihat bagaimana Gus Dur berpikir menghargai sikap toleransi dan memiliki kepedulian kuat terhadap keharmonisan sosial. Itu implikasinya pada tatatan politik nasional,” urai Gus Muwafiq.
Cerita Gus Muwafiq juga mengarah pada platform kehidupan umat Islam seharusnya diletakkan pada sejumlah prinsip persaudaraan. “Harus ada persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan kaitan kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwah basyariyah). Itu prinsip dari trilogi NU,” beber Gus Muwafiq.
Dalam kaitan NU, Gus Muwafiq juga cerita bahwa prototipe Islam di Indonesia banyak dicontohkan organisasi Islam terbesar ini. Sehingga, warga NU diimbau untuk terus menjaga dan menjadi penyejuk dalam mewarnai Indonesia dengan tetap menjaga NKRI, tidak terpancing dengan hal-hal yang bisa memecah belah persatuan umat dan bangsa. “Untuk itu warga NU yang ada di Kaltim harus bisa memberi kontribusi terhadap pembangunan. Apalagi di Kota Balikpapan dan daerah lainnya akan ada Pilkada 2020,” ujarnya.
Bagaimana dengan kepemimpinan di Kota Balikpapan di mata Gus Muwafiq, tanya Tintakaltim.Com seketika. Ia menjawab santai dan berkelakar. “Supaya ada rahmat dari Allah. Ini sudah cocok ada Mas Rahmad. Nah di ibukota yang baru ada yang diberi pengampunan Mas Ghofur, jadi cocok sudah,” kata Gus Muwafiq sambil menunjuk ke arah Rahmad Mas’ud.
CERITA ISTANA NEGARA
Gus Muwafiq yang punya nama lengkap Ahmad Muwafiq ini sempat menyinggung ketika dirinya ‘menghipnotis’ Presiden Jokowi dan sejumlah ulama hingga menteri saat memberi ceramah di Istana Negara. Dalam ceramahnya saat itu, ia sengaja bercerita panjang lebar bagaimana Islam masuk ke Indonesia.
Ia lalu bercerita di hadapan Rahmad Mas’ud dan tamu lainnya mengulang ceramahnya.
“Betul toh saya sampaikan ke Pak Jokowi dan undangan yang hadir saat itu bahwa orang kalau tahu modifikasi Alquran pasti tahu, masuk ke setiap negara pasti berbeda. Al-fatihah jadi ‘Alfatekah’, ya hayyu ya qayyum jadi ya kayuku ya kayumu. Rabbil ‘alamin karena nggak punya huruf ‘ain, maka keluar jadi Robbil ngalamin,” contoh Gus Muwafiq yang menyebut itulah indahnya Indonesia karena perbedaan. Hanya, dirinya meyakini Alquran tidak dapat direvisi seperti Undang-Undang, karena ciptaan Allah dan tidak boleh diubah-ubah.
GEMMA SHARING BALIKPAPAN
Di sela-sela acara tersebut, jajaran pengurus Gerakan Masyarakat Madani (Gemma), mendapat sharing ilmu dari Gus Muwafiq. Padahal, kehadiran ke rumah Rahmad Mas’ud untuk bersilaturahmi. “Saya senang dengan Gemma, punya komitmen untuk tetap memajukan kota ini,” kata Rahmad.
Lalu Rahmad Mas’ud bercerita bagaimana pola pikir (mindset) dirinya ingin membawa Balikpapan ke depan lebih baik dengan merangkul semua elemen. “Ada NU, Muhammadiyah dan agama lainnya serta semua ormas yang berdiam di kota ini termasuk seluruh etnis, mereka itu yang membesarkan Kota Balikpapan. Saya ingin Balikpapan ini maju dan jadi basis ekonomi, apalagi nanti jadi daerah penyangga,” ulas Rahmad di hadapan pengurus Gemma.
Untuk itu, kehadiran Gemma sangat tepat. Sehingga mengetahui konsep pembangunan Kota Balikpapan yang diarahkan Pemkot Balikpapan. “Jujur kalau ditanya apa yang sudah dihasilkan selama ini. Tentu, masih ada kekurangan. Hanya kelebihannya juga banyak toh. Dalam kepemimpinan saya bersama Pak Rizal (Walikota Balikpapan). Intinya saya ngin rakyat sejahtera. Apalagi daerah penyangga nanti banyak mendapat multiplier effect atau pengaruh dari ibukota,” kata Rahmad yang sudah punya desain ke depan dalam membawa Balikpapan lebih baik.
Di sela-sela itu, Ir Sudjatmiko yang biasa disapa ‘Pakde Miko’ dan Rendra memberikan masukan bagaimana Balikpapan yang sudah maju harus dikelola dengan manajemen birokrasi yang benar. “Pinisepuh kita seperti Pak Syarifuddin Yoes, Pak Tjutjup Suparna dan Pak Imdaad sudah memberi contoh. Jadi, kita-kita ini meneruskan perjuangan bapak-bapak itu yang disebut sebagai peletak dasar pembangunan,” sharing Sudjatmiko dan Rendra Rachman.
Sontak Rachmad sangat setuju. Gagasan yang disampaikan jajaran Gemma sangat sejalan dengan pola pikirnya demi membawa Kota Balikpapan ke depan lebih baik. “Gemma harus percaya saya. Tentu saya perlu dukungan semua pihak. Sekarang ini, jajaran pegawai Pemkot Balikpapan sudah on the track. Yang kurang diperbaiki, yang baik ditingkatkan. Intinya ayo membangun Balikpapan bersama-sama,” ujar Rahmad yang disebut maju menjadi bakal calon walikota semuanya lahir dari restu keluarga.
Lalu apa sudah pasti? “Insya Allah, sudah meminta kepada Allah juga saat umroh bersama keluarga. Doa saya, Ya Allah, jika saya dalam memimpin penuh mudharat, maka jangan Kau restui diriku ya Allah. Tapi kalau amanah, maka berikanlah petunjuk-Mu demi kesejahteraan Kota dan warga Balikpapan,” itu bapak-bapak doa saya, terlihat mata Wakil Walikota ini berkaca-kaca dan memerah.
Jadi Pak Rahmad Mas’ud pasangannya siapa tanya Tintakaltim.Com. “Sudah ada sejumlah nama, tapi survei kita lakukan juga. Pokoknya sejalan dengan gagasan Gemma,” tutup Rahmad Mas’ud dalam silaturahmi itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 Wita. (git)













