TINTAKALTIM.COM-Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Balikpapan Gasali menegaskan, terpilihnya dirinya memimpin organisasi olahraga ini semata-mata ingin mendukung prestasi dan pembinaan atlet. Sehingga, harus menghapuskan istilah ‘kubu-kubuan’ atau faksionalisme. Sebab, itu implikasinya pada pembinaan atlet dan perpecahan internal.

“Sudahlah kita fokus saja. Semua cabor harus memikirkan bagaimana prestasi atlet berkembang. Sinergi dan kolaborasi, koordinasi serta komunikasi semua cabor diperlukan sehingga tidak mengganggu program kerja dan faksi-faksi itu semua menghabiskan energi,” kata Gasali menjelaskan fokus dirinya dalam memimpin KONI Balikpapan ke depan.
Gasali yang terpilih secara aklamasi dan didukung 42 cabor dari 62 cabor yang ada pada musyawarah olahraga kota luar biasa (musrokotlub) KONI Balikpapan, ingin agar semua cabor fokus memajukan olahraga. Jangan berkutat hal-hal yang tidak substansial.
“Atlet dan pelatih nanti kasihan dan dirugikan dan bisa lho menurunkan semangat serta performa mereka. Sudahlah, kita kerja untuk kemajuan olahraga Balikpapan,” kata Gasali menyinggung masih adanya cabor yang mungkin belum memahami esensi dari keberadaan KONI ke depan.

Menurutnya, jika dibilang intensitas kesibukan yang dimilikinya, tentu sangatlah tinggi. Sebagai legislator di DPRD Balikpapan khususnya komisi IV bidang kesejahteraan rakyat (kesra) banyak yang harus diurusin. Hanya, karena Pemkot Balikpapan melalui walikota menghendaki dirinya berkiprah di KONI, maka dilakukan dan siap mengabdi
“Saatnya sekarang menjunjung tinggi prinsip profesionalisme, transparansi demi prestasi dan kebutuhan objektif untuk kemajuan olahraga secara keseluruhan. Ini tugas bersama dan terimakasih cabor yang sudah memiliki visi-misi yang sama demi kemajuan olahraga,” ungkapnya.
Dikatakan Gasali, cabor yang bernaung di bawah KONI Balikpapan harus bergerak cepat dan membenahi tata kelola organisasi demi persiapan menuju berbagai agenda olahraga besar termasuk Popda dan Pra-Porprov 2026 yang waktunya sangat dekat.

Disebutkan Gasali, seluruh cabor memang tergantung anggaran. Terlebih saat efesiensi anggaran karena menurunnya dana transfer ke daerah (TKD) seperti Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) yang diterima Kota Balikpapan menurun dari sekitar Rp2 triliunan menjadi hanya ratusan miliar. Tetapi, ia akan berjuang maksimal demi pembinaan atlet.
“Alhamdulillah, Pak Walikota (Dr H Rahmad Mas’ud SE ME, Red) sangat support dengan pembinaan serta prestasi atlet itu. Tapi, selain dana hibah dari pemerintah perlu juga dukungan dari BUMN, BUMD. Dan seluruh stakeholders harus ikut mendukung pembinaan atlet yang tidak hanya bertumpu pada KONI. Dan pengurus KONI nanti harus sama-sama berjuang,” pintanya
Prestasi dan pembinaan atlet kata Gasali, tergantung fokusnya cabor dan dirinya pasti berjuang untuk anggaran. Makanya, jangan ada lagi faksi-faksi atau kubu-kubuan tadi. Bahkan, ia punya komitmen untuk memperlakukan 62 cabor dengan semangat yang semi demi prestasi.
“Soliditas cabor di bawah KONI harus dijaga. Kalau ingin olahraga di Balikpapan prestasinya gemilang,” ungkapnya.
Disinggung mengenai transparansi anggaran? Menurut Gasali, dirinya sangat memahami regulasi yang ada sebagai penyelenggara negara. Dan, anggaran itu akan transparan dan tidak ingin terjadi deviasi. “Makanya kita akan gandeng juga inspektorat bahkan kejaksaan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengelolaan anggaran (fraud),” ungkapnya.
KORBAN

Sementara itu Ketua Wushu Balikpapan Syarifuddin SPd MSi, salahsatu cabor yang tergabung di KONI menegaskan, bahwa semua cabor harus punya prinsip yakni atlet tidak boleh jadi korban karena faksi-faksi tadi.
“Atlet itu secara murni, tulus dan ikhlas mengorbankan segalanya untuk kepentingan prestasi olahraga dan membawa nama harum daerah. Jadi kita-kita ini yang membina mereka harus mewujudkan Impian itu,” kata Syarifuddin yang juga bersama cabor lainnya memuluskan kepemimpinan Gasali sebagai Ketua KONI Balikpapan. (gt)













