TINTAKALTIM-COM-Di kota Balikpapan, ada Pondok Pesantren Al-Izzah. Lokasinya di kilometer 15 masuk kawasan Sungai Wain Karang Joang Balikpapan Utara. Membangunnya tak seperti dibayangkan, penuh perjuangan dan kisah pilu
Islam mengajarkan, hamba itu cari dunia seolah hidup selamanya, tapi diperintah juga beribadah sekan-akan besok akan meninggal. Nilai ibadah dan tawakal, itu jadi cikal bakal pendirian Al-Izzah yang dilakukan KH Muhammad Muhlasin yang jadi pendiri ponpes

KH Muhammad Muhlasin. Ia disebut ‘orang pondok’. Sejak kecil mondok. Lalu merantau ke Balikpapan ikut orangtua dan berbaur dengan keluarga di Jalan Tepo kilometer 10 Kelurahan Karang Joang.
“Kiyai itu tugasnya ngaji dan ngajar agama. Dengan ponpes tak bisa dipisahkan. Sehingga, membangun Al-Izzah, itu tantangan. Sebab, ada yang bilang, wong kiyai tidak bisa bangun ponpes. Padahal bisa berharap keberkahan Allah,” cerita Muhlasin saat ditemui di kantor Ponpes Al-Izzah, di kilometer 15 Sungai Wain

Awal merintis pondok. Ia sering mengisi taklim di masjid dan musala sampai lingkungan masyarakat. Warga memberi amanah, agar membangun ponpes. Apalagi, di kawasan itu dekat lokalisasi. Kontras, tapi bisa jadi ‘obat’ sehingga lokalisasinya pelan tapi pasti tutup dan fakta itu terjadi
Muhlasin lalu mendapat amanah untuk membeli tanah 1 hektare lebih. Ia tak punya modal untuk membebaskan tanah itu. Akhirnya, warga sekitar patungan dan mengumpulkan dana sekitar Rp30 juta lebih. Harga tanah Rp80 juta sehingga harus mendapat tambahan lagi

Di suatu acara, ia bertemu mantan Walikota Balikpapan H Imdaad Hamid SE (alm). Tiba-tiba membuat oret-oretan seperti rencana anggaran biaya (RAB) tanah dan itu disodorkan ke walikota
“Pak saya perlu ini, mohon bisa dibantu,” kata Muhlasin menyodorkan catatan itu kepada Imdaad. Allah membantunya, Imdaad menyetujui anggaran tanah yang kurang itu

Tanah itu dibelinya. Tetapi, masih semak-belukar dan area pegunungan. Itulah tofografi Kota Balikpapan. Sehingga, harus dilakukan pematangan lahan (land clearing). Untuk menuju ke lokasi lahan, sulit dan harus dibuka untuk membuat jalan.
Akhirnya, warga bergantian gotong-royong. Membawa alat sendiri dan dengan kesadaran tinggi, akhirnya lahan bisa dibangun. Awalnya, rumah kayu untuk istirahat sambil memikirkan bagaimana bangunan untuk ponpes dicicil bisa dibangun.

“Saya harus menjual dan bermodalkan Bis dan Alphard? Untuk membangun Ponpes Al-Izzah,” jelas Muhlasin terlihat serius? Sontak penulis pun membangun persepsi, bahwa Muhlasin banyak hartanya. Jadi jual mobil?
“Oh nggak, itu hanya kiasan kalau Bis itu Bismillah, nah Alphard itu Alfatihah. Jadi yaitu modalnya,” cerita Muhlasin yang menyebut ungkapan metaforis gambarannya ikhtiar (usaha) maksimal yakin bantuan Allah datang.

Muhlasin, sandarannya Allah. Ia yakin frasa yang ada di Surah Muhammad ayat 7 yakni Intansurullah Yansurkum, siapa yang membantu agama Allah, niscaya Allah akan membantu. Keyakinan itu akhirnya terwujud
Sekarang, sudah ada masjid yang dijadikan juga gedung pertemuan (ballroom) yang bisa menampung 200 jamaah. Asrama putra-putri dan lapangan untuk kegiatan santri. Karena, total santri 45 orang harus mondok semua di Ponpes Al-Izzah.

Upaya Muhlasin untuk membangun Ponpes Al-Izzah itu sangat memprihatinkan. Bahkan, jika Anda mendengar cerita Muhlasin, tentu sangat memilukan. Bangunan rumah kayu yang didiami santri kala itu, saat hujan tiba tiba-tiba disambar petir.
“Saya sedang tidur, tiba-tiba ada ledakan seperti bom Bali. Suaranya keras sekali. Tentu, saya harus bergegas untuk melihat ada apa sebenarnya yang terjadi,” cerita Muhlasin dengan nada hati-hati
Ia terkejut, karena 4 santrinya tergeletak. Alat handy talky (HT) dilengkapi desktop charger dan perangkat lainnya luluh-lantah dan berhamburan. Terkejut, karena ketiga santrinya pingsan. Dan satunya lagi berada di bagian pojok terlihat wajahnya trauma dan penuh kesedihan.
“Wah saya lalu bingung. Pikiran saya, meninggal ini santri-santri saya. Mereka terkapar, tetapi dengan kekuatan dan izin Allah, saya tiupkan di telinganya masing-masing salawat: Allahuma Sholli Ala Sayidina Muhammad. Ada keajaiban, semua siuman. Pun demikian dengan santri yang terlihat trauma tadi. Tubuhnya penuh darah karena ledakan alat HT yang kabelnya semburat kemana-mana. Alhamdulillah, semua masih hidup.
“Kalau meninggal, saya pasti akan mendapat hujatan masyarakat. Ponpes belum selesai dibangun, ada santri yang meninggal,” kenang Muhlasin yang bersyukur pada Allah, karena musibah itu tidak menimbulkan korban jiwa
Itu semua jadi nilai perjuangan Muhlasin. Sekarang, dirinya fokus bagaimana Ponpes Al-Izzah pelan tapi pasti harus menjadi ponpes modern
Donatur berangsur banyak yang memberikan dukungan untuk pengembangan ponpes. Kendati, jika melihat perkembangan santri dan peningkatan kualitas pendidikan, masih perlu banyak dukungan anggaran
Muhlasin tak akan berhenti untuk berbuat amal jariyah. Karena, ponpesnya berkembang dan sekarang ada didirikan SMK Cendekia Al-Izzah yang lulusannya baru saja diterima 100 persen di perguruan tinggi negeri yakni Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan Politeknik Negeri Balikpapan (Poltekba)
“SMK Cendekia itu didirikan semangatnya bagaimana perpaduan ilmu agama dan umum. Karena, sekolahnya diarahkan vokasi. Jadi, ilmu umum diajarkan dan agama juga. Sehingga, pembinaan karakter anak didik lebih diutamakan di Al-Izzah,” katanya.
Sejatinya kata Muhlasin, Ponpes Al-Izzah didirikan selain dirinya juga sahabatnya Ery Supardi dan Suhendi Nur. Niatnya, di awal tadi ingin mengubah kawasan itu karena sudah jadi image negatif. Ada lokalisasi dan sering jadi tempat untuk minuman keras (miras).
“Semangatnya mengubah kawasan jadi tempat bagi para anak-anak pecinta Alquran dan mendalami agama Islam dan melahirkan seorang pendakwah serta pembentukan karakter umat,” jelas Muhlasin
Muhlasin sendiri dikenal sebagai pendakwah dan pernah menjabat Ketua Tanfidziyah NU Balikpapan selama 2 periode. Niatnya, terus bersama ustaz sahabatnya yang lain seperti Imam Waros, Zainal berkelanjutan mengajarkan kitab aqidah dan akhlak
Dengan berbekal Ponpes Al-Izzah yang sudah terdaftar di Direktorat Pendidikan Diniyah dan Ponpes (Ditpotren) Kementerian Agama RI, Muhlasin terus berjuang dan berupaya agar lulusan santri yang memiliki kemampuan bermanfaat bagi umat
“Saya itu memimpin Ponpes Al-Izaah bukan sekadar membesarkan lembaga pendidikan. Tapi, ini panggilan jiwa yang harus berani berkorban. Sebab, harus juga menjaga moral santri, mengelola manajemen hingga mencari dana operasional. Kan membutuhkan keikhlasan, sabar dan dedikasi penuh,” kata Muhlasin
Di Ponpes Al-Izzah, sistem pendidikannya juga menganut tradisional (salaf). Dan kiai adalah figur sentral. Dan, bagi Muhlasin, manajemennya dijalangkan dengan membangun kepemimpinan kolektif sehingga bisa kolaboratif untuk memberikan masukan

“Kita itu dititipin amanah orangtua/wali santri. Sehingga, adab (sopan-santun) harus kental dilakukan di lingkungan pondok. Dan, jika di masyarakat harus diaplikasikan,” jelas Muhlasin
Dan, Muhlasin sadar bahwa gelar kiyai yang disandangnya bukan gelar akademik. Sebab, itu cap diberikan masyarakat sehingga dirinya harus bermanfaat.
“Saya ingin ke depan Ponpes Al-Izzah menjadi rumah yang baik di mana semua orang yang ada di dalamnya merasa aman untuk tumbuh dengan baik. Dan, berilmu tapi punya adab,” pungkas Muhlasin. (gt)












