TINTAKALTIM.COM-Jalan kaki mengasyikkan. Santai dan penuh cerita. Apalagi disisipi guyonan. Sehingga, tak heran kalau sepanjang perjalanan, ada-ada saja peserta yang menuangkan dan olah pikirnya sampai menjurus ke perang nuklir.
Sehat iya tapi perjalanan itu jadi ajang edukasi antarpeserta. “Kalau terjadi perang nuklir, Indonesia diuntungkan. Apa dunia ini sudah didesain Allah ya harus perang,” kata H Hardi, peserta pejalanan kaki membuka ceritanya kepada peserta lain.
Tentu, tak ada kaitan jalan kaki dan perang nuklir. Hanya, H Hardi ingin ada ‘bumbu’ cerita yang sedang heboh di dunia. Karena, ancaman perang nuklir itu sudah diserukan lewat pertemuan KTT NATO di Belgia 23 Maret 2022 lalu.

H Hardi, warga RT 38 yang juga pengusaha dan jamaah Masjid Asy-Syifa ini, memang selalu mengikuti perkembangan informasi dunia. Karena, Rusia sering membawa kata ‘nuklir’ pada berbagai pernyataan publiknya. “Nuklir Rusia itu bisa lenyapkan beberapa negara. Indonesia kan nggak punya nuklir, jadi tak masuk ancaman. Sehingga, di saat negara lain perang kita bisa lebih menata. Apakah memanfaatkan sumber daya alam (SDA) atau lainnya. Intinya ini desain Allah, apakah terjadi perang dunia ke-3,” cerita H Hardi yang ngeri-ngeri sedap jika terjadi perang dunia.

Hanya bukan soal perang nuklir, H Hardi pun berupaya guyonan dan sempat dijuluki ‘ustaz khusus bimbingan pernikahan’. Maklum dalam rombongan ada yang perlu nasihat yakni H Rugito alias duda keren (duren). “Ampun aku, nggak berani,” ujar Rugito yang di akhir perjalanan memisahkan diri entah kemana.
Rombongan berangkat tepat pukul 06.00 Wita, melintasi jalur kawasan tepian hingga menuju Kebun Sayur dan masuk ke Kelurahan Margasari. Di sana ingin memanfaatkan spot foto tepi pantai dekat daerah penyangga (buffer zone) PT Pertamina (Persero) yang ada jembatannya. Hanya gagal, karena lokasinya sudah dipagar.

Di bagian depan ada papan proyek Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Pemkot Balikpapan) untuk kegiatan pembangunan unit sekolah baru (USB) yakni SMP Negeri kawasan Balikpapan Barat yang anggarannya fantastis berkisar Rp42 miliar dari APBD Balikpapan.
Seluruh peserta melihat proyek itu. Ada konstruksi tiang pancang yang kokoh. “Wah ini seperti membangun dermaga saja. Makanya mahal,” seloroh H Hardi yang mencermati bak pimpinan proyek (pimpro).
Di lokasi proyek itu, pimpinan rombongan H Sukamto terus terlihat semangat. Ia tetap in action untuk difoto bersama. Semboyan horsa-horsa yang jadi pemicu semangat diteriakkan. Sedang Hendra ‘Ahok’ sibuk mendokumentasikan kegiatan.
NEW COMER
Dalam rombongan Kaki BTN, ada pendatang baru (new comer) H Suhud. Ia ternyata langsung menggejot langkahnya dan tampaknya terbiasa dengan medan-medan jarak jauh. Ini terlihat dari t-shirt yang dikenakannya bertuliskan Kelana Rimba. Ya, Suhud adalah pengurus Kwarcab Pramuka Balikpapan.

“Kalau urusan lintas-alam saya terbiasa. Sebab, di Pramuka diajarkan itu untuk melatih mental dan juga intelektualitas,” jelas Suhud yang menceritakan urutan di Pramuka dari siaga, penggalang, penegak hingga pandega.
Suhud di perjalanan terus bercerita, pengalamannya pernah mengikuti perkemahan (camping) di bumi perkemahan Cibubur. Bahkan, ia adalah masuk tim seleksi untuk peserta yang ke Cibubur mengikuti Jambore Nasional. “Agustus 2022 akan ada lagi Jambore Nasional di Cibubur Jakarta Timur,” jelasnya singkat.

Di Balikpapan bumi perkemahan akan dilakukan di kilometer 17 Jln Soekarno Hatta. Sifatnya umum dan nanti diikuti seluruh peserta pramuka se-Provinsi Kaltim. “Intinya jalan kaki itu enak, nyaman dan membuat sehat. Kalau 9 kilometer saja tak masalah,” kata H Suhud yang pernah mendapat wing 1 karena mencapai jarak 10 kilometer.
Di Pramuka, ada istilah wing. Ini ditempuh jika menelusuri jalan-jalan darat ada yang 10 km, 25 kilometer dan diukur juga kecakapan dan intelektualitasnya. “Wing sifatnya umum. Siapapun boleh pakai, asal pengakuannya harus dari institusi. Dan, jika ada seseorang memakainya sudah mengetahui bahwa tingkatannya sampai di mana,” kata Suhud bercerita enaknya mengurus dan membina anak-anak di Pramuka Balikpapan.
BUBUR BANDUNG
Di akhir perjalanan, peserta Kaki BTN harus berhenti dan bergabung di bubur Bandung. Terlihat, peserta rutin seperti Agus Meni, Rudi, Mas Yon, Bambang, H Rahmadi, H Sukamto, H Rugito, H Hardi dan lainnya. Mereka begitu antusias dan merasa wajahnya ceria ketika harus berhenti di bubur Bandung. Niatnya makan memang sebelum mengakhiri perjalanan.

Hanya, penulis cermati ternyata dua pedagang bubur itu wanita. Anggaplah mereka mojang Priangan, wanita yang sopan melayani dan anggun. Satu per satu dilayani dan menerima bubur dari kedua pedagang wanita itu.
“Ini makan betul mas. Sebab buburnya enak. Jadi kita sering mampir di sini,” kelakar Agus Meni, seolah mengklarifikasi tudingan makan bubur Bandung atau tujuan lain ketika rehat di kawasan shopping centre itu.

Itulah guyonan. Sehingga, ada-ada saja yang bisa dijadikan topik. Memang obrolan bapak-bapak ketika berkumpul jauh berbeda dengan wanita. Topiknya pun bisa melebar dan cenderung ‘nakal’. Hanya, jangan negatif, mereka masuk dalam obrolan guyonan yang sesuai naluriah dan hal normal yang biasa dilakukan kalangan pria.
“Ini mau ngobrol apa makan bubur. Ayo dipesan dan ingat ya uang kas terbatas, jangan tambah,” pinta Agus Meni yang ditimpali Mas Yon, Rudi dan H Rahmadi dengan ungkapan, jika uang habis bisa ngutang.

Semuanya happy: peserta Kaki BTN memang kompak. Tujuan dibentuknya komunitas ini agar dapat silaturahmi. Lewat olahraga: Kendati, jarak yang ditempuh terkadang terlalu over. Bisa sampai 10 kilometer, sehingga ada peserta yang tubuhnya sudah seperti ‘nyiur melambai’ gontai. “Hati-hati ambruk Mas Yanto,” celetuk Mas Yon kepada rekannya, yang mengingatkan minggu depan jalan kaki lagi.
Hanya, penulis menyebut apa setidaknya kerja bhakti, sebab selama 1 bulan Ramadan kondisi lapangan dan sekitar masjid agak kotor. Ada kertas-kertas bekas kembang api dan lainnya. Hanya, semua peserta jika kerja bhakti pun siap, tinggal tunggu komando ketua RT. Salam sehat. Horsa-horsa. (gt)













