TINTAKALTIM.COM-Belum genap seumur jagung, kepengurusan caretaker (sementara) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Balikpapan retak.Pemicunya, diakomodirnya dua orang mantan jamaah Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) masuk dalam kepengurusan caretaker DMI Balikpapan sisa masa bakti 2018-2023.
Dua mantan jamaah LDII itu, Ruslan Affandi dan Achmad Dasuki, diusulkan oleh Ketua Caretaker PD DMI Balikpapan DR H Sugianto MM H untuk melengkapi kepengurusan caretaker yang sudah ada. Ruslan Affandi menjadi Wakil Ketua mendampingi DR. H. Sugianto, MM dan Achmad Dasuki menjadi Wakil Sekretaris mendampingi H. Nur Arifin, S.Pd.I.
Surat usulan penambahan dua nama mantan jamaah LDII yang ditanda-tangani Ketua PD DMI Balikpapan Sugianto dan Sekretaris Nur Arifin Nomor : 041/PD-DMI/BPP/IX/2022 tanggal 22 September 2022 itu, dibawa sendiri oleh Nur Arifin ke PW DMI Kaltim, 25 September silam. Arifin didampingi bendahara caretaker DMI Balikpapan Mispan, Ruslan Affandi dan Ahmad Dasuki. Turut pula hadir Ketua PC DMI Balikpapan Tengah (Balteng) Dumairi dan Bendahara H. Herry Gunawan.

Saat itu juga PW DMI Kaltim memberikan persetujuan dengan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor : 28/PW-DMI/SK/IX/2022 tentang pengangkatan dan pengesahan Wakil Ketua, Wakil Sekretaris dan Wakil Bendahara PD DMI Balikpapan. Rancangan SK PW DMI Kaltim itu sudah lebih dulu disiapkan oleh Nur Arifin, Ketua dan Sekretaris PW DMI Kaltim tinggal menanda-tangani.
Keputusan menarik Ruslan Affandi dan Ahmad Dasuki, dua orang anggota tim konsolidasi PD DMI Kota Balikpapan itu masuk ke dalam struktur kepengurusan caretaker PD DMI Balikpapan itu sontak menimbulkan reaksi. Tiga anggota tim konsolidasi, Drs. H. Muhammad Jailani, M.Si, Sahal Suryanto dan Drs. H. Rikmo Kuswanto, M.Sc, yang selama ini dianggap sebagai think-thank caretaker DMI Balikpapan merasa ditinggal oleh Sugianto.
“Itu keputusan yang irasional, berlawanan dengan rasio akal sehat. Dan terkesan sembunyi-sembunyi,” tegas Muhammad Jailani dengan nada keras.
Jailani menunjuk penempatan Ahmad Dasuki sebagai wakil sekretaris mendampingi Nur Arifin. Menurutnya, mantan jamaah LDII itu tidak memiliki kapasitas dan kompetensi memadai sebagai seorang administratur apalagi konseptor. Jika pertimbangannya untuk memajukan organisasi DMI, menurut Jailani semestinya Ketua Caretaker PD DMI Balikpapan, Sugianto, menggunakan prinsip managemen the right man one the right place.
“Tetapi ini justru cenderung like or dislake. Suka atau tidak suka. Sungguh berlawanan dengan akal sehat,” ujar Jailani kecewa.
Kepengurusan Caretaker (sementara) PD DMI Kota Balikpapan ditetapkan berdasarkan SK PW DMI Kaltim Nomor : 19/PW-DMI/KT/VI/2022 tanggal 06 Juni 2022, untuk mengambil alih kepengurusan DMI Balikpapan sisa masa bakti 2018-2023 pimpinan Drs. H.M. Solehuddin Siregar, MM yang dibekukan oleh PW DMI Kaltim karena dinilai tidak dapat melakukan konsolidasi.

PW DMI Kaltim menentapkan Dr. H. Sugianto, MM sebagai Ketua Caretaker, sekretaris H. Nur Arifin, S.Pd.I, bendahara Mispan dan 4 orang anggota yaituDrs. H. Romansyah Harul, M.Si, Drs. H. Marwoto Rasyim, M.Si, H. Ardaniansyah, S.PdI, M.Pd dan H. Ardiansyah, S.Sos. M.Si.
Untuk melaksanakan tugas-tugasnya, tanggal 14 Juni 2022 caretaker PD DMI Balikpapan membentuk tim konsolidasi yang terdiri dari Ruslan Affandi sebagai ketua, Sahal Suryanto dan Ahmad Sofian masing-masing wakil ketua. Anggota-anggota Drs. H. Muhammad Jailani, M.Si, Achmad Dasuki, Herry Gunawan, Aris Marhiyanto, Ady Muntono, Hamid Ar Rosyid, Abdul Rohim dan Rikmo Kuswanto.
Reaksi keras datang dari anggota tim konsolidasi lainnya, Sahal Suryanto. Dalam rapat yang dipimpin Ketua Caretaker Sugianto, 27 September silam, Sahal menuding Sugianto sebagai orang yang tidak memiliki kepekaan dan hati nurani. Rapat yang berlangsung panas dan penuh ketegangan itu tanpa dihadiri Sekretaris Nur Arifin dan Wakil Sekretaris Ahmad Dasuki. Sugianto hanya didampingi Wakil Ketua Ruslan Affandi, Bendahara Mispan dan Wakil Bendahara Ahmad Sofian.

Sahal mengungkapkan kilas balik bagaimana perjalananan bersama hingga terbukanya jalan bagi Sugianto, Nur Arifin, Mispan dan Ruslan Affandi menjadi pengurus caretaker DMI Balikpapan.
“Jika saat itu DMI kita ibaratkan mobil rusak, lantas kita perbaiki bersama-sama, dan setelah mobil sudah jalan, kami ditinggalkan, dimana nurani anda-anda semua,” kata Sahal dengan nada keras. Tudingan Sahal itu membuat Sugianto menimpali dengan nada keras sambil menggebrak meja.
Sahal bergeming. Dia lantas mempertanyakan penempatan mantan jamaah LDII Ahmad Dasuki sebagai wakil sekretaris. “Bagaimana ceritanya ini. Dia (Dasuki-red) tidak memiliki kemampuan dan kapasitas untuk jabatan itu, tetapi ditempatkan di wakil sekretaris. Masih ada kawan yang mumpuni untuk itu, tetapi anda tinggal,” kata Sahal.

Keretakan di tubuh Caretaker DMI Balikpapan itu menurut Jailani dan Sahal lebih disebabkan karena sikap yang cenderung memaksakan kehendak dan tidak akomodatif dari Sekretaris PD DMI Balikpapan Nur Arifin. “Ini diakui sendiri oleh Ketua Pak Sugianto kepada saya, tetapi sayangnya Pak Ketua tidak berani mengambil sikap tegas, kalah dengan sekretaris,” ungkap Jailani.
Perdebatan panjang hingga membuat Nur Arifin keluar dari WhatsApp group Caretaker dan menganulir pengumuman kegiatan yang disampaikan oleh Ketua PC DMI Balikpapan Sugianto, menurut Jailani saat Nur Arifin berusaha memaksakan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek), padahal itu tugas dan fungsi Pimpinan Cabang DMI Kecamatan. Padahal menurut Jailani hasil rapat telah disepakati menggelar Rakor Penjelasan Teknis Pelaksanaan Muscab Berdasarkan PO PW DMI Kaltim Nomor 22.
“Itu jauh lebih penting dan bermanfaat bagi kawan-kawan PC. Masa bakti kepengurusan PC-PC sudah mau berakhir, kok baru dibuat bimtek tugas dan fungsi PC,” ujar Jailani.
Namun Arifin menjawab dalam WhatsApp group itu, bahwa kegiatan Bimtek itu sudah sesuai dengan program yang diajukan oleh pengurus terdahulu dan di RKA, tidak boleh dirubah. Menurut Arifin, walaupun hasil rapat menyepakati Bimtek diganti dengan Rakor penjelasan teknis penyelenggaraan Muscab, dia tetap tidak akan menyelenggarakan Rakor.
“Saya sudah menolak itu, tetapi pada ngotot, saya diam bukan berarti setuju,” tulis Nur Arifin merespon pertannyaan anggota WAG caretaker.
Merasa “ditekan” Nur Arifin lantas memutuskan keluar dari WAG Caretaker. Nur Arifin bahkan menganulir pengumuman yang disampaikan Ketua Caretaker DMI Balikpapan Sugianto kepada PC DMI Kecamatan. “Diralat atau dituda sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. An. PD DMI Balikpapan, Sekretaris Nur Arifin,” demikian bunyi ralat kegiatan yang dianulir itu.
Tidak berhenti disitu, Nur Arifin membuat manuver mengancam akan mengundurkan diri sebagai Sekretaris PD DMI Balikpapan. “Sudah tiga kali ini beliau mengatakan akan mengundurkan diri,” ungkap Sugianto dalam sebuah kesempatan rapat pengurus.
Diduga kuat ditariknya dua mantan jamaah LDII Ruslan Affandi dan Ahmad Dasuki ke dalam struktur Caretaker DMI Balikpapan, hasil bargaining (tawar menawar) antara Sugianto dan Nur Arifin saat bertemu di Dekanat FKIP UNIBA beberapa waktu lalu, Arifin urungkan pengunduran diri dan siap bersama Sugianto hingga Musda 2023 digelar dengan syarat Ruslan dan Dasuki ditambahkan menjadi pengurus caretaker.
Bagaimana kaitan keretakan DMI Balikpapan itu? Saat dikonfirmasi media ini, Ruslan Affandi membantah retak. “Bukan retak tetapi menurut saya agar semakin merekat,” ujarnya lewat chat aplikasi WA. (gt)













