TINTAKALTIM.COM-Santun, dan penuh rasa hormat. Itu di antara sosok kepribadian Abdul Rasyid (37), kepala desa (Kades) Batuah, Kecamatan Loajanan Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Tak pernah ‘menutup pintu’ bagi siapapun yang datang ke kediamannya sebagai tamu.
Ia tetap bersahaja. Jauh dari sifat membuat suasana berbeda. Kuncinya jadi ‘pelayan’, melayani tamu dan keluhan warganya.
“Alhamdulillah, panjang umur, kita bisa bersilaturahmi,” ungkapnya ditemui di ‘gubuknya’ kawasan Batuah, sambil mempersilakan media ini ke teras sederehana tapi dirancang penuh makna untuk bercanda dan membangun wacana
Gayanya tak formal. Sarungan dan kopiah baru usai salat Magrib. Rasyid dikenal pribadi yang taat. Diskusi mengalir kaitan webminar tema pengembangan desa dan event Kaltim Fair 2021 yang mengangkat keunggulan desa yang ia pimpin.
Dijadwalkan, ia berencana mendampingi Menteri Desa, Pembangunan Derah Tertinggal dan Transmigrasi Drs A Halim Iskandar MPd serta ikut pameran inovasi UMKM. “Wah ini event bagus. Insya Allah saya ikut serta,” ungkapnya.
Rasyid dilantik jadi kades tahun 2019 dan memimpin 10 dusun dan 49 RT yang dihuni 12 ribu jiwa. Desanya luas sekitar 84 kilometer persegi perbatasan Balikpapan-Samarinda dan masuk lokasi ibukota negara (IKN) Samboja (Kukar).
“Saya dipercaya warga. Saat pemilihan dapat sekitar hampir 4.000 suara,” ungkapnya. Suara Rasyid ini setara bisa duduk jadi anggota DPRD Kukar.

Gaya khas Rasyid mengelola leadhership atau kepemimpinan mengedepankan aspek kepribadian untuk mewujudkan hubungan baik dengan warganya. Pola dan cermin pembangunan paritisipatif diwujudkan. Ia sadar, kades adalah seorang pemimpin sentral desa untuk menjalankan rumah tangga desa.
“Saya ingin Desa Batuah mandiri. Orientasinya pada warga. Harus maju, inovatif dan kreatif ya sesuai dengan tagline saya KEREN (kreatif, energik, realistis dan netralis),” ujar Rasyid, yang juga diskusi dengan sahabatnya H Janie, pengusaha advertising dan pernah sama-sama berkhidmat di media Kaltim Post Group.
Memimpin dengan target berhasil. Verifikasi masalah dalam tugas dilakukan. Solusi dicarikan. Motivasi, dukungan dan menjalin hubungan dengan perangkat desa dan warga jadi strategi tugas. Awalnya, ada yang ragu. Ia sebagai pengusaha dan dipercaya sebagai Direktur PT Buana Rizky Armia. Nanti justru berorientasi pada profit tanpa melihat kepentingan warga lebih besar.
Sehingga, ‘pisau analisis’ diasahnya untuk membantah persepsi itu. Dikumpulkan 7 perusahaan yang masuk lingkup kawasan Desa Batuah. Biasa memberi program Corporate Social Responsbility (CSR) untuk dukungan pembangunan. Ia jelaskan kepada seluruh pimpinan perusahaan, bahwa naiwitunya jadi kades bukan mencari penghidupan.

Caranya, dana CSR yang bersifat infrastruktur tak ingin dalam bentuk cash money atau uang kontan. Dibuat program, dianalisa, direncanakan dijadikan tolok ukur bagaimana bantuan itu berfungsi atau dalam tata kerja perencanaan disebut money follow function atau alokasi anggaran berdasarkan fungsi sesuai program.
Digantilah uang itu dengan kebutuhan material untuk fasilitas umum, fasilitas sosial dan lainnya, lewat ‘oret-oret’ perencanaan perangkat desanya dan diserahkan perusahaan pemberi CSR.
PROGRAM UNTUK WARGA
Menghimpun masukan dengan turun lapangan, Rasyid mendesain program untuk warganya. Tentu, jangka pendek, menengah dan panjang dan itu harus diselesaikan sebagai wujud menjalankan amanah kades.
“Saya harus menjadi kades yang baik. Jabatan itu dipertanggungjawabkan ke Allah. Ternyata banyak problem di masyarakat harus dituntaskan. Awalnya kupikir jadi kades bisa santai. Eh sibuk ternyata. Tapi, Alhamdulillah kujalankan dengan enjoy dan penuh semangat,” urainya.
Pertanggungjawaban jabatan kepada Allah. Harus benar-benar mencari informasi. Kumpul dengan warga. Dengar keluhannya. Terus apa masalahnya. Solusi dicarikan. Misalnya, ada bantuan, harus benar-benar diverifikasi. Apa tepat sasaran.
“Kalau saya tandatangan pengucuran bantuan langsung tunai (BLT) misalnya. Terus orang mampu yang menerima. Ini, jadi tanggung jawab saya di hadapan Allah. Makanya saya harus benar-benar crosscheck,” tambahnya

Programnya disusun. Ibaratnya ada semacam ‘kontrak politik’ dengan warga. Jika tak sanggup mundur jadi kades. Warga lama merindukan ada mobil pemadam kebakaran (damkar). Sebab, khawatir jika ada musibah kebakaran lambat dipadamkam karena rumah saling berdekatan jaraknya.
“Alhamdulillah, tidak sampai setahun. Mobil damkar sudah ready. Masih berbungkus alias apa itu istilahnya inreyen atau adaptasi mobil,” ujar Rasyid sambil menyeduh kopi panas yang ada di meja.
Tak hanya itu, Rasyid juga berpikir bagaimana air bersih tersedia untuk warga. Keluhan ini sejak lama. Sebab, warga hanya memanfaatkan air tadah hujan. Dibangun sumur dalam (deep well). Kapasitasnya tidak besar sekitar 3 liter per detik. Ada 6 sumur yang total debitnya 18 liter per detik. Sementara bisa mengaliri 2 rukun tetangga (RT).
Awalnya tampungan air menggunakan semacam terpal. Sekarang dianggarkan dana desa dengan dorongan semacam pompa yang dialirkan lewat jalur perpipaan (pipanisasi) ke rumah-rumah warga.
“Warga di Batuah ini dahsyat. Mereka ada yang swadaya membangun jaringan pipa. Lalu, saya harus ikut mendukung lewat dana desa dan dukungan CSR,” ujarnya.
Rumah-rumah warga dipasang kilometer atau meteran air. Penggunaan air dapat dibatasi warga atau berhemat. Saat launching program air bersih ini, sempat jadi pertanyaan Bupati Kukar Edi Damansyah. Ia ditanya, mengapa tidak membuat dalam kapasitas besar? Diceritakan karena semua tergantung anggaran.
Akhirnya, bupati sepakat melihat gagasan dan inovasi Rasyid. Sebab, warga Batuah harus menikmati air bersih secara keseluruhan. Kendati programnya harus bergantian antardusun. “Pak Bupati akhirnya setuju untuk mengucurkan anggaran dari APBD Kukar,” cerita Rasyid.
Bukan itu saja, sekarang Desa Batuah dalam persoalan air sudah makin ada solusi ke depan. Ada warga menghibahkan lahannya seluas 10×10 meter. Ini nanti jadi tempat penampungan (bozem). Sehingga, air nanti dipompa ke warga. Ada pola gravitasi dan juga dipasang filter sehingga air pun secara kualitas dapat dijaga.
“Desain dan rencana itu telah dianalisa oleh badan wilayah sungai (BWS) Provinsi Kaltim. Juga melakukan pengkajian dan peninjauan. Insya Allah air bersih harus selesai di tahun 2023 semua dusun teraliri. Tentu, dukungan warga dan debit air harus tersedia. Hanya, kualitas air bersih diakui Rasyid masih ada sejumlah lokasi yang tinggi kandungan zat besinya (FE).
BUMDES
Rasyid yakin, motor untuk menggerakkan masyarakat berkreasi adalah badan usaha milik desa (BUMdes). Ini untuk mengembangkan potensi desa, optimalisasi SDM di lingkup warga desa.
“Bumdes ini juga mengelola air bersih. Juga usaha lainnya. Karena, tujuannya juga untuk meningkatkan perekonomian desa dan meningkatkan usaha masyarakat yang pada gilirannya ke depan dapat menciptakan pendapatan asli daerah (PAD),” tambah Rasyid, yang menambahkan program air bersih itu juga dilakukan lewat program nasional penyediaan air minum di desa-desa (pamsimas).
Rasyid yang asli dari Sulawesi Selatan tepatnya Bone ini, pernah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah (SLTA) Asyi-Syifa Balikpapan. Ia menjalin rumah tangga dengan istri Evi Wardhana (35). Kariernya terus melejit dan itu dijadikannya lecutan dalam mengasah kemampuan berbhakti kepada masyarakat.
TRANSPARAN
Transparansi. Itu yang dilakukan Rasyid dalam mengemban amanah kades. Termasuk penggunaan anggaran pembangunan khususnya dalam hal pengelolaan keuangan desa. “Saya komitmen, transparansi pengelolaan dana desa sebagai poin penting. Jangan sampai salah kelola yang bisa berimbas sampai proses hukum khususnya terkait penggunaan keuangan,” ujar Rasyid.

Transparan itu dicontohkannya dengan terbuka menyusun penggunaan dana desa kepada masyarakat. Dan itu harus diinformasikan ke publik jika perlu terpampang di balai desa atau pola grafis yang dishare atau upload dalam bentuk digitalisasi.
“Keterbukaan informasi dan transparansi pengelolaan dana desa sangat penting bagi pemerintah di desa supaya mencegah potensi penyimpangan dana. Saya ingin dana yang diterima baik itu Alokasi Dana Desa (ADD) . Itu dana bukan untuk kepala desa tapi untuk seluruh masyarakat desa,” tambahnya.
Sehingga, dana desa harus tetap sasaran. Sasarannya untuk membangun infrastruktur dan melakukan program peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bisa menurunkan angka kemiskinan dan membuka kesempatan kerja.
“Ayo sama-sama transparan. Kades dan perangkat desa harus bekerja dengan baik. Apalagi ada bantuan dari CSR, warga harus tahu berapa dan untuk apa. Agar Desa Batuah berkembang pesat, warganya sejahtera dan mendapat berkah,” pungkas Rasyid. (git)













