TINTAKALTIM.COM-Undangan open house dirangkai halal bi halal itu saya terima. Tertera nama Johnny Santoso beserta keluarga, lokasinya Jalan Pupuk Raya Nomor 1 pada Selasa (1/4). Tepat 2 Syawal atau Idul Fitri hari kedua.
Saya mengajak sahabat saya Hendra Winardi, Ketua Persatuan Islam Tiohong Indonesia (PITI) Balikpapan. Karena, saya menilai Hendra –panggilan akrabnya—mualaf dan Jhonny Santoso juga mualaf. Akan bisa ‘satu komunikasi’ jika bicara organisasi PITI.

Tiba di Jln Pupuk Nomor 1. Masuk rumah di tepi jalan tepat tanjakan memasuki kantor PT Pupuk Kaltim. Rumah besar itu sudah banyak tamu bersilaturahmi. Terlihat ada Sekretaris Paguyuban Ikapakarti Kaltim H Sudjatmiko dan tokoh Jawa Timur Leo Sukotjo juga hadir.
“Kalau lihat wajahnya, saya kok nggak lupa ya. Ini Pak Sugito ya,” sapa istri Jhonny Santoso, Nur Wasitah. Ternyata, walaupun nyaris belasan tahun tak bertemu, ia tak lupa atau tak kenal alias pangkling.

Kita dulu memang sering bertemu. Karena, Johnny dan keluarganya kerap ke kantor Kaltim Post Group dan menjadi relasi iklan sejati memasarkan kompleks perumahan BDI. Sehingga, seluruh keluarganya pun sangat ramah (humble) dan selalu menjalin silaturahmi demi ikatan keluarga dengan siapapun.
Apalagi, saat Idul Fitri, Johnny dan keluarga selalu memberi angpau Idul Fitri kepada sejumlah pegawai Kaltim Post Group ketika bersilaturahmi atau halal bi halal. Itu katanya untuk mengikat persaudaraan dan bagian dari sedekah.

Jhonny terlihat di luar sibuk bersilaturahmi dengan tamu. Suasana hari itu penuh kekeluargaan. Karena, itulah memang hajatan tahunan yang dilakukan Jhonny Santoso dan keluarga untuk merajut persaudaraan (ukhuwah)
Obrolan dengan Johnny masih seperti dulu. Ia senang mengulik Kota Balikpapan. Karena, ia juga dikenal tokoh Tionghoa legend yang banyak kontribusinya membangun Kota Balikpapan.

“Apalah kita ini, berbuat baik saja dengan semua manusia. Ingat yang di atas (Allah), dan selalu happy. Benar nggak,” ujarnya saat disebut bahwa mimik wajah Johny kendati lama tak bertemu masih sekitar usia 54 tahun. Padahal, ia menyebut sudah 73 tahun.
Jhonny senang bercerita jika bertemu sahabatnya. Apalagi sahabat lama. Ia selalu menceritakan bagaimana kedekatannya dengan mantan Gubernur Suwarna, mantan walikota H Tjutjup Suparna dan Imdaad Hamid. Bahkan, ia dikenal sosok yang low profile dan selalu memberi dukungan pembangunan.
Kontribusi Johnny di Balikpapan, dialah developer lokal yang membangun ‘New City’ atau kota baru di kawasan Jalan MT Haryono yang bernama Bukit Damai Indah (BDI).

Ia hanya pengusaha lokal. Tak berada di bawah naungan group developer besar seperti lainnya. Tetapi, kompleks perumahannya menjadi terkenal karena kegigihannya dan keluarganya.
Ia juga banyak membantu bagaimana menyelesaikan soal instalasi kelistrikan di Kota Balikpapan termasuk penerangan jalan umum (PJU). Karena, dialah kontraktor listrik yang dulu bernama PT Elektronindo Indah.
“Alhamdulillah bisa membangun BDI. Tetapi, kita bersyukur bisa menarik developer besar seperti Ciputra masuk Balikpapan. Ini semua karena silaturahmi,” cerita Johnny Santoso di sela-sela silaturahmi Idul Fitri.
Bukan itu saja, Johnny juga merupakan inisator yang membawa pemilik RS Siloam (Siloam Hospital) masuk Balikpapan. Rumah Sakit ini di bawah Group Lippo dengan owner Mochtar Riady dan keluarga.

“Kalau ada sesuatu, saya hanya berkomunikasi dengan Mochtar Riady. Karena, dia sangat percaya,” cerita Johnny, yang juga pemilik saham Siloam Hospital Balikpapan ini.
Jhony banyak bercerita kenangan masa lalu. Karena, ia juga besahabat dengan H Asfia Achmad (Owner Karunia Group), H Zulbahcri (pengusaha kapal) dan Zainal Muttaqin (eks CEO Kaltim Pos Group) dan lainnya
Termasuk dengan Hendra Winardi. Ketika dikenalkan Hendra Ketua PITI Balikpapan, ternyata Jhonny Santoso adalah pendiri PITI. Bahkan, legalitas surat pendirian itu ada di rumahnya.
“Rumah saya pernah jadi sekretariat PITI. Dan bersama Yos Soetomo (owner Hotel Grand Senyiur) sempat patungan membuat kegiatan PITI. Dan sukses,” ujarnya.
Bagi Jhonny Santoso masa lalu itu indah. Dan, ia selalu menilai bahwa katanya: Kita tak pernah menyadari nilai sesuatu dalam hidup kita sampai itu menjadi kenangan. So! Masa lalu adalah sejarah dan sejarah setiap orang berbeda. Dan, kenangan itu dirasakan sebagai amal jariyah. Sehat selalu Pak Johnny Santoso & family. (gt)













