Penulis: Munir Asnawi
TINTAKALTIM.COM-Setelah dua bulan yang lalu, saya kembali harus menjalani tindakan penghancuran batu ureter pada Kamis (2/10) kemarin. Batu yang dihancur tidak tergolong besar, hanya seukuran 0,95 centi. Batu ginjal ini bersarang di kanan, sama seperti sakit yang saya alami, perut bawah bagian kanan. Begitulah hasil tangkapan USG Abdomen.
Tindakan penghancuran batu urin kali kedua di kamar operasi OK II Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) bagai ulangan kali pertama pada awal Agustus lalu. Waktunya tidak lama, hanya ada diskon pemasangan silinder kecil yang populer disebut ring, mirip dengan ring yang dipasang bagi penderita jantung pada arteri koroner yang tersumbat.
Ring alias stent ureter ditempatkan setelah batu urine dihancurkan. Kehadiran stent ureter dari ginjal hingga ke buli, adalah untuk meringankan beban kerja ginjal, sehingga mengurangi pembengkakan pada ginjal saya, walau pembengkakan tidak parah amat, bahkan lebih kecil dibanding dua bulan lalu.
Saya memasuki ruang operasi pada pukul 07.45, harus menunggu seorang pasien dulu. Pada pukul 08.34 kereta tidur saya didorong menuju ruang OK II. Lima menit berselang, dokter spesialis anestesi, dr M Yunus Sp. An menyapa saya dengan salam. Ada lima perawat membantu rangkaian paket tindakan.
“Assalamualaikum Pak, apa kabar. Sudah siap,” kata Yunus sembari mendekat. Saya balas salamnya sembari mengangguk.
Dokter kelahiran Wajo, Sulsel ini menggoda saya dengan canda, begitu juga petugas lainnya, saya ikut bercanda, sirnalah ketegangan di ruang operasi itu. Di kiri meja operasi terdapat sejumlah peralatan, termasuk layar televisi agar pasien bisa menyaksikan kerja laser menghancur batu dan memasang stent. Ada lampu operasi, ada litotriptor si alat penghancur batu urin, alat perekam jantung dan nadi.
Saya pindah tidur ke meja operasi dibantu perawat. Lalu tubuh saya dimiringkan ke kiri, lutut dan paha merapat ke perut, meringkuk. Ketika menyiapkan alat suntik, dokter yang ramah itu beristiqfar juga mengucap basmallah.
“Miringkan badan ya. Tenang aja pak haji. Kita sama-sama berdoa ya, semoga operasi berjalan lancar dan baik. Semoga bapak sembuh,” katanya meyakinkan, sembari menyuntik bagian belakang saya. Sungguh tanpa rasa sakit.
Begitu obat bius bekerja, kaki saya memberat dan sulit digerakkan. “Pak haji ‘kan dua bulan lalu sudah pernah dibius. Kalau sudah terbius, saya beri sayembara. Pak haji ambil sendiri mobil baru diparkiran, tapi jalan sendiri,” kata dia bercanda dengan logat Bugis. Dia tahu tak ada pasien yang sanggup menggerakkan kaki setelah bius bekerja.
Usai sudah pembiusan, lalu saya berbaring kembali pada posisi nyaman. Perawat memasang perekam tensi di lengan kiri, di dada dipasang alat perekam jantung. Kaki kiri disangga penyangga, hingga posisi paha melebar agar dokter urologi dengan mudah mengerjakan tindakan. Diawali memasukkan kateter ke lubang penis menembus buli.
Layar televisi di kiri mulai menyala tanda dokter spesialias urologi, dr. Eddy Sunarno SP.U mulai tindakan. “Bapak bisa lihat jalan operasi di televisi ya. Operasi kita mulai ya,” kata dokter Eddy memberi isyarat. Dua bola mata saya, memang sudah beberapa saat melihat ke televisi ingin merekam jalan pembersihan batu ginjal.
Tiba-tiba organ saluran kemih dan genital saya terang benderang ditembus cahaya lampu yang memancar dari ujung laser. Laser bergerak maju. Batu ureter 0,95 centi tertangkap kamera. Laser membuat kejut, batu rempal dan hancur. Ada lima kali ujung laser membuat kejut, lima kali pula air seni beriak disusul batu ureter pecah.
“Itu tadi batunya. Sekarang sudah kita hancurkan,” kata dokter Eddy.
Setiap kali ujung laser membuat kejut, disusul batu ureter pecah, air urin yang bening berubah agak keruh. Pecahan batu ureter melayang dalam air seni yang keruh. Serpihan batu cukup banyak.
Penghancuran batu ureter selesai. Ujung laser bergerak agak ke dalam. Kali ini, menuju ke ginjal kanan. Giliran tugas kedua. Ujung laser menempatkan stent alias ring berwarna kehijauan dari ujung ginjal hingga ke buli alias kantung kemih. Waktunya sangat singkat.

“Sekarang kita pasang stent. Juga sudah selesai ya Pak. Apa ada yang ingin bapak tanyakan,” ujar dokter Eddy.
“Berapa lama stent dipasang di situ?” tanya saya dengan suara agak serak, karena puasa sejak pukul 22.30.
“Yah, satu bulan dari sekarang. Nanti akan kita ambil kembali,” jelas Eddy.
“Terima kasih ya dok,” jawab saya.
Perlahan cahaya televisi menghilang tanda bahwa proses tindakan penghancuran batu ureter dan penempatan stent ureter telah usai. Tanda bahwa kerja laser dan litotriptor sudah berakhir. Tinggal kateter yang masih bertugas membuang air seni disertai kotoran dari sisa operasi ke kantung plastik.
Setelah sembilan jam lebih kateter bertugas menyalurkan air seni dari buli ke kantung plastik. Kateter dikeluarkan dari penis saya pada pukul 18.24 malam bersama dengan dilepasnya selang infus dari punggung tangan kanan. Jam 19.03 saya dan istri meninggalkan ruang inap.
Dua hari sebelum tindakan, saat saya bertemu dokter Eddy Sunarno di ruang kerjanya poli urologi RSPB, kami banyak berbincang seputar batu ureter ini. Menurut dia, batu setiap saat dapat terbentuk akibat deposit mineral yang berlebih menumpuk di ginjal pasien.
“Walau sudah dibuang dan dihancurkan, batu masih mungkin terbentuk. Karena sifatnya regeneratif,” katanya.
Ada banyak faktor batu ureter alias batu ginjal terbentuk. Misal, jelas dia, gaya hidup. “Kita harus bisa menjaga kebugaran tubuh. Berolahraga, relaksasi dan istirahat yang cukup disertai memilah dan memilih makanan yang baik,” katanya.
Terkait pola makan, sebut Eddy, harus teratur, seimbang dan tidak berlebihan. Asupan yang dimakan memiliki kandungan protein, karbohidrat, vitamin, lemak dan mineral yang cukup yang dibutuhkan tubuh.
“Apapun yang berlebih, tidak baik untuk tubuh. Apalagi yang dimakan, adalah berpotensi pembentukan batu. Ada beberapa sayuran, buah-buahan dan ikan yang bisa membuat pembentukan batu,” urai dia.
Disebutkan pula, selain pola makan yang cukup, asupan air juga harus cukup. Ini untuk menghindari terjadi penumpukan deposit mineral berlebih. “Bila asupan air kurang, tentu menyebabkan dehidrasi. Air berfungsi mengeluarkan bagian tak diperlukan tubuh melalui air seni kita,” jelas Eddy. (***)












