Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Ibu-ibu dan bapak-bapaknya ditambah remaja mengenakan pakaian serba merah. Seolah mengumandangkan jargon ‘Menyala Abangku’. Warna merah jadi spirit merayakan HUT ke-81 RI. Kobaran nasionalisme terpancar yang refleksinya ketika Merdeka Indonesiaku, maka Rukun juga Wargaku

Itulah performa warga yang tinggal di RT 38 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat (BTN Gn IV). Menempati kompleks yang kecil tapi keakraban antarwarga dan kreativitas terlihat tanpa batas

Kompleks ini dipimpin M Sihombing selaku ketua RT. Memanfaatkan halaman rumah dan jalanan, kemasan acara dibuat sederhana tapi penuh makna. Acara intinya makan bersama tapi tak sekadar mengisi perut. Itu jadi simbol kebersamaan, kerukunan dan rasa syukur atas kemerdekaan

“Terimakasih kepada para sesepuh dan warga RT 38 tak terkecuali. Perayaan puncak Agustusan kita gelar tak hanya internal. Tetapi mengundang ‘warga tetangga’ RT 39. Kami ingin sekat-sekat sosial bisa mencair bahwa kita di bawah ‘payung Indonesiaku’,” demikian kira-kira rangkuman sambutan Sihombing menyapa warganya

Spirit kemerdekaan masih ada pada jiwa-jiwa sesepuh yang hadir seperti H Hasyim Hisyam, H Samud, H Suhud, H Agus, H Hardi dan H Nursalim yang diundang khusus untuk memanjatkan Doa Kemerdekaan
Diawali muter kompleks sebagai syarat peserta mengikuti rundown jalan sehat. Tujuannya, agar kupon doorprize peserta dipotong, walau ada juga warga yang minta tolong agar dooprizenya bisa dipotong

Kupon dibagi transparan. Sebab, ada patungan warga sehingga kuponnya didistribusi masing-masing warga dengan mengacu kartu keluarga (KK). Totalnya 205 kupon, terdistribusi 204 kupon, ada 7 kupon kembali tak ada yang memiliki

Kupon dibagi dengan prinsip fairness (keadilan) agar warga punya kesempatan sama meraih dooprize dan menghindari ada warga kecewa. “Kita gunting ya bapak-ibu kupon sisanya tadi, sehingga kita sporitif di perayaan Agustusan ini,” kata Ayu, pembawa acara (master ceremony)-MC sembari memperlihatkan pemotongan 7 kupon
MENYALA
Di tenda dan sudut-sudut venue, terlihat jadi Metal alias merah total. Ibu dan bapaknya kompak, mengenakan semacam jersey inspirasi padu padan gaya merah menyala. Ada rasa bangga dan percaya diri memakainya saat memperingati Indonesia Merdeka.

Ada energi luar biasa muncul dari dandanan ibu-ibu dan aksi bapaknya. Gaya ibu-ibu meriahkan Agustusan di RT 38 terlihat cetar. Mereka mengenakan aksesoris tempel wajah merah putih

Tampaknya, ibu-ibu ini nggak perlu melukis wajahnya menggunakan cat painting karena aksesoris ini tinggal ditempel dan langsung memberikan efek meriah yang rapi

Ada yang menggunakan payet tempel saja sehingga terlihat butiran mutiara berwarna merah dan putih. Juga menggunakan semacam stiker yang ditempel di area pipi sehingga ‘Menyala Abangku’ menggelorakan semangat Rukun Wargaku
RELEVAN
Panitia yang terdiri dari anak-anak muda, melihat kondisi Indonesia yang tidak baik-baik saja dalam bidang ekonomi seolah mengerti. Mereka menyiapkan doorprize sembako selain lagi trend juga dinilai sangat relevan alias relate dengan kondisi masyarakat saat ini

Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat lebih menghargai bantuan atau hadiah yang mengurangi pengeluaran dapur bulanan. Dan, sembako adalah konsumsi para keluarga

Paket sembako seperti minyak, gula dan lainnya memang doorprize yang efisien. Lagian, pemenang yang mendapatkannya lebih banyak

Acara kemasan Agustusan RT 38 memang seolah mengusung konsep 3-K (kecil, kecil, konkret). Ada makanan, ada doorprize dan ada organ tunggal (electone). Suwadi jadi pemain organ tunggal yang tampil berkolaborasi dengan warga yang mendadak ‘berani’ jadi biduan seperti Ali Akbar, Soegianto bahkan ia sendiri pun ikut bernyanyi bak musisi termasuk media ini.

Suwadi sejatinya ingin acara closing perayaan Agustusan di RT 38 itu meriah dan membangun suasana interaktif dan menilai itulah ‘hiburan rakyat tahunan’.

Agustusan di RT 38 saat itu menunjukkan atmosfer kegembiraan yang seragam. Sisi merangkul pun terlihat dari warganya yang diawali ketua RT-nya mengajak ‘RT tetangganya’ berbaur

“Hari ini tidak ada sekat. Jadi, semua menyatu menjadi warga Indonesia. Makanya, kita menghargai tamu dulu,” kata Ny Hasyim Hisyam yang mempersilakan warga RT 39 yang jadi tamu saat itu untuk mencicipi makanan. Kendati, yang punya gawe atau shohibul hajat-nya RT 38

Ayu pun melalui mic-nya menggelorakan semangat untuk ajakan berbaur dan mempersilakan tamu untuk menikmati makanan. Karena suasana pagi maka soto Jawa saat itu jadi bentuk sarapan pagi.

Akhirnya, terimakasih dan sangat dihargai kehangatan dan kebersamaan yang disuguhkan. Semoga warga selalu kompak, rukun dan sejahtera tinggal di kompleks sesuai dengan tagline BTN (Bersih, Tenang, Nyaman). Merdeka!.**
*) Ketua Divisi Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Wartawan tinggal di Balikpapan












