TINTAKALTIM.COM-Lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) baik SMA maupun SMK dan sederajat, ada yang ingin melanjutkan kuliah. Jangan salah pilih program studi (prodi).
Sesuaikan dengan passion dan skill yang didapat untuk kemudian terserap di pasar kerja. Institut Teknologi Kalimantan (ITK) tempat kuliah yang terletak kilometer 15 Karang Joang menyiapkan semua fasilitas itu, khususnya pada Jurusan Teknologi Industri dan Proses (JTIP).
Demikian pandangan dari dosen-dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan sejumlah alumnus yang sudah bekerja berkat kuliah di ITK ketika jadi narasumber dalam acara Ngegosip JTIP bertema: Masa Depan Dimulai dari ITK yang digelar secara virtual, Minggu (21/03/2021). Program ini dipandu moderator Wakil Ketua Media Online Indonesia (MOI) Provinsi Kaltim, H Sugito SH.

Program studi (prodi) JTIP ada 6 yakni, teknik mesin, teknik kimia, teknik elektro, teknik industri, rekayasa keselamatan dan teknik logistik. Semuanya sangat menyesuaikan pasar kerja.
Ketua JTIP ITK Himawan Wicaksono S ST MT menegaskan, karier seseorang ke depan tak dapat berbasis ego. Misalnya, ada anak muda di bangku SLTA senangnya sport atau bidang kreativitas lainnya. Lalu lulus dan ingin kuliah. Nah, dalam kondisi sekarang tak hanya bertumpu pada hal suka saja. Sebab, ke depan belum tentu menjamin hidup layak.
“Jadi diperlukan juga keahlian atau skill, sehingga jika itu menjalani kehidupan, maka implikasinya bisa menunjang karier dalam bekerja dan berorientasi pada pendapatan atau uang,” ujar Himawan.
Kepada peserta yang notabene pelajar SLTA, Himawan meminta agar mereka dapat mengubah paradigma agar jangan suka pada kesenangan atau hobi saja. Misalnya contoh suka renang.
“Suka renang itu bagus. Tapi ke depan apa bisa menopang jadi karier dan menghasilkan pendapatan yang layak. Jujur, kalian juga perlu pendapatan dalam bentuk uang. Sehingga, mengasah skill yang dapat menghasilkan profit maksimal diperlukan selain hobi atau kesukaan tadi,” saran Himawan.
Caranya kata Himawan, skill yang dimiliki dilatih untuk pribadi seseorang. Lalu digabungkan dengan passion-nya atau rasa dan gairah seseorang pada sesuatu yang ada pada diri orang itu.
Pada gilirannya skill itu akan dominan dan sangat disukai. Bagaimana caranya? Himawan menjelaskan ITK menyiapkan bagaimana lulusan SLTA menempa skill itu.
Disebutkannya, ITK khusus Jurusan Teknologi, Industri dan Proses menyiapkan 6 program studi (prodi) yang semua sudah dianalisa, dilakukan pemetaan yang tujuannya untuk memecahkan masalah (solve the problems).
“Contohnya saya pribadi, kesukaannya sharing knowledge. Ternyata itu bisa jadi income. Sebab, peluangnya besar seperti jadi pembicara materi kuliah, sharing di sejumlah perusahaan kaitan industri dan lainnya serta dilakukan dengan have fun sebab memiliki skill tadi,” jelas Himawan.
Perpaduan skill dan passion, ke depan akan menyelesaikan masalah. Apalagi di jurusan teknologi, industri dan proses ITK yang mampu membuat lulusannya terampil.
Sebab ujarnya, sejumlah prodinya disiapkan karena mencetak SDM yang siap pakai dan terserap di pasar kerja sehingga sesuai dengan tujuan hidup seseorang.
“Jadi kawan-kawan SLTA yang mau kuliah, silakan tingkatkan skill kalian yang orientasi akhirnya adalah mengubah kehidupan. Tentu kariernya sukses dan harus bermanfaat bagi orang lain,” ujar Himawan.
DIPERHITUNGKAN
Sementara itu seorang alumnus ITK yang pernah mengambil program studi tehnik mesin dan sekarang bekerja di PT Scientific Drilling International bidang oilfield services company, Rizky Edytya memberikan testimoni bahwa skill yang didapatkannya di teknik mesin sangat bermanfaat di pasar kerja.

Ia menyebut, teknik mesin yang di perusahaan industri disebut mechanical engineering cakupannya sangat luas di dunia usaha atau industri, bahkan sangat dibutuhkan. Sebab, banyak ilmu yang didapat seperti mempelajari mesin konversi energi, desain dan manufaktur.
“Sebelum kuliah di teknik mesin, saya searching dan menemukan ITK memiliki prodi itu dan sangat sesuai dengan kurikulum di Indonesia,” jelas Rizky
Ia menjelaskan, sangat tepat ITK membuka prodi teknik mesin. Karena di Kalimantan banyak industri seperti mining atau pertambangan, oil & gas, manufaktur sampai pembangkit listrik memerlukan tenaga kerja.
Dari pengalaman Rizky, kuliah di teknik mesin ITK mampu diserap jadi tenaga kerja di Kalimantan. Sebab, kebutuhannya besar. Alasannya, karena prodi itu disediakan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang akan meneruskan bidang industri dan bersifat keberlanjutan (sustainable).
“Kalimantan itu butuh orang ahli, dan keahlian itu salahsatunya ada di teknik mesin ITK. Itu semua sangat menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.
Teknik mesin ITK tidak kalah dengan universitas negeri lain di Indonesia. Faktanya, Rizky mampu mengimplementasikan di dunia kerja. Bahkan, sejumlah perusahaan sangat memperhitungkan lulusan teknik mesin ITK.
“Karena selama kuliah di ITK diajarkan bagaimana menerapkan skill secara maksimal, respons yang positif dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat,” urai Rizky bangga.
Di sisi lain katanya, teknik mesin itu mencakup beberapa bidang. Sehingga, tidak akan pernah tersingkirkan dengan kompetisi universitas lainnya.
“Kuliah di ITK itu tidak dianggap remeh. Mereka bisa bersaing di pasar kerja migas. Sebab, skill yang dimiliki para lulusannya sama dengan kampus di luar Kalimantan seperti ITB, ITS dan sangat bersaing. Apalagi akreditasinya B. Jadi sangat dibutuhkan perusahaan. Banyak perusahaan meng-hire karyawan lulusan teknik mesin ITK. Apalagi di tahun 2021 PT Pertamina akan melakukan eksplorasi besar-besaran dan itu valid,” urai Rizky yang menyebut, penghasilan dirinya diestimasi bisa mencapai 2 digit.
DIPERCAYA PERUSAHAAN
Sementara itu, Wahdiyatun Nisa, alumnus teknik elektro ITK dan saat ini bekerja sebagai admin of construction steel di PT Sukses Mapan Abadi Kantor Cabang Samarinda dalam testimoninya mengatakan, sempat putus asa tidak ingin kuliah. Karena, ia gagal masuk universitas jurusan kedokteran.

Lulusan madrasah aliyah ini, dikenal penggila ilmu kesehatan dan kedokteran. Saat itu sempat daftar ke SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tapi gagal dan memutuskan tak ingin kuliah lagi.
“Tapi kawan saya menyampaikan, bahwa di Balikpapan ada universitas negeri bernama ITK. Walaupun baru tapi nggak kalah menarik dengan universitas negeri di luar Kalimantan. Sayangnya prodi kedokteran tidak ada,” cerita Wahdiyatun.
Niatnya tidak berhenti untuk meraih sukses. Ia searching tentang ITK. Saat itu baru memiliki 10 prodi di tahun 2016, tiba-tiba tertarik dengan teknik elektro, meskipun passion-nya bukan di bagian teknik. Tapi, semuanya didahului dengan membaca artikel tentang teknik elektro. “Searching melihat prospek kerja lulusan teknik elektro itu bagaimana. Ternyata menarik dan ada kaitan dengan analisa ilmu kedokteran. Sehingga, saya memutuskan untuk mendaftar ke SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan bersyukur lulus di ITK,” urainya.
Disebutkannya, setelah tahun kedua kuliah, ternyata teknik elektro memiliki laboratorium lengkap. Bisa melakukan penelitian dan akhirnya penelitian itu mengarah pada bidang kesehatan biomedical engineering yang ia sukai. “Semangat saya bangkit untuk terus belajar di ITK khususnya teknik elektro,” ujarnya.
Kuliah di teknik elektro sangat terbuka. Dirinya pun sampai mengikuti rekrutmen asisten laboratorium hingga sampai berani membuat program dengan dosen dirinya sendiri. Bahkan, Wahdiyatun sempat menembus membuat jurnal ilmiah pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
“ITK terbuka untuk semua bidang. Selain di teknik elektro dapat belajar biomedical engineering. Bagi yang suka angka-angka prodi ini sangat tepat. Tersedia juga arus kuat dan arus lemah misalnya kaitan robotik. Jadi kalau mau berkreasi sesuai passion, ITK menyediakan wadahnya,” ungkapnya.
Yang membuat ia bangga, kendati sudah lulus dari ITK, tetapi masih difasilitasi untuk penelitian. Sehingga, dapat submit jurnal internasional di Universitas King Saudi yang dikenal dengan prodi andalan tekniknya.
“Alhamdulillah sudah terbit jurnal ketiga saya dengan penelitian bertema tentang kanker,” jelas Wahdiyatun Nisa.
Wahdiyatun, sebelumnya ternyata pernah bekerja di perusahaan oil & gas yakni Triparta perusahan Indika Energy Group yang bergerak di bidang rekayasa teknik, pengadaan dan konstruksi.
“Saya sempat mengerjakan dan merekaya konstruksi berupa tangki sebagai admin electrical. Di perusahaan ini, ilmu-ilmu baru sesuai skill yang saya dapatkan di ITK saya perkenalkan dan pihak perusahaan pun kagum,” cerita Wahdiyatun Nisa.
Dari pengalaman itulah, dirinya sangat dihargai di perusahaan. Terkadang harus juga menyelesaikan masalah kaitan electrical dan analisis. “Jadi saran saya, jika lulus SLTA harus menyandang predikat S1. Sebab lulusan itu sangat dicari,” ujar Wahdiyatun yang peraih beasiswa Bank Indonesia (BI) dan sudah dipercaya menjadi koordinator admin di perusahaan ia bekerja kendati baru 1 bulan bekerja. “Ini karena sangat percayanya dengan lulusan teknik elektro ITK,” pungkasnya.
TEKNIK KIMIA
Sementara itu, Asful Hariyadi, dosen teknik kimia ITK juga mengenalkan secara virtual kepada peserta ngegosip, bahwa ia adalah alumnus pertama di tahun 2012 yang lulus hanya empat tahun di prodi teknik kimia karena mendapat beasiswa Kaltim Cemerlang.

“Saya sempat bekerja di PT Grand Chemical Indonesia (GCI) sebagai engineer dan sempat menyelesaikan S2 di Universitas Gajah Mada (UGM) yang sekarang jadi dosen teknik kimia di ITK,” ujarnya.
Dijelaskan Asful Hariyadi, sekarang ITK maju sangat pesat 180 derajat jika dibandingkan ketika ia pertama lulus saat itu. Tetapi, kendati lulusan pertama dengan kondisi yang belum maksimal, ia dan kawan-kawan bisa survive. Bahkan, dirinya menyandang 3 jalur karier (career path) yakni bekerja di industri, melanjutkan studi S2 di UGM dan menjadi dosen.
“Asyik juga kuliah di prodi teknik kimia ITK. Kita adalah 100 alumni teknik kimia pertama yang sangat struggle atau penuh perjuangan, karena ditempa dengan keadaan saat itu,” urainya.
Jika ingin kuliah kata Asful, memang harus mencari jurusan yang prospektif. Tergantung pula individu masing-masing. Kendati saat itu kondisinya belum maksimal dan masih dititipkan di ITS Surabaya, tetapi dalam membuat tugas akhir (TA), seluruh mahasiswa tekim tidak asal-asalan.
Bahkan hasilnya memuaskan dan juga sempat ikut program kreativitas mahasiswa (PKM) dan sudah submit di jurnal internasional.
Menurut Asful, prodi tekim (teknik kimia) itu sebenarnya berbeda dengan ilmu kimia murni. Dan, sering ada stigma bahwa orang teknik kimia bekerja di laboratorium. “Bahkan yang ekstrim lulusan tekim itu orang-orang yang dapat membuat bom. Bisa iya dan tidak sih. Tergantung persfektif kemana tujuan kita akan sukses,” urai Asful.
Kuliah di teknik kimia ITK, goal-nya kata Asful adalah menjadi insinyur proses. Yakni, jika bekerja di perusahaan industri itu merangkai bahan baku yang diolah menjadi setengah jadi dan jadi, selanjutnya bernilai komersial dan ekonomis.
Misalnya kata Asful, minyak kayu putih, diolah daunnya dilakukan proses pemisahan zatnya (diekstraksi) dan dikemas menjadi minyak kayu putih. “Nah minyak kayu putih yang sekarang banyak digunakan masyarakat itu, salah satu contoh produk orang-orang lulusan tekim,” jelasnya.
ITK katanya, sudah tepat menyediakan prodi teknik kimia. Sebab, banyak sumber daya alam (SDA) membutuhkan insinyur-insinyur handal. Seperti perusahaan yang bergerak di oil & gas yang sekarang masih jadi favorit lulusan teknik kimia.
“Juga industri petro mikia di Bontang, industri kelapa sawit yang tak diproses menjadi minyak saja. Masih banyak produk turunan bernilai ekonomi. Semua itu hasil karya tangan-tangan dingin insinyur teknik kimia,” kata Asful.
Dalam paparannya, Asful juga menjelaskan secara detail tentang perbedaan teknik kimia dan kimia murni. Jika di teknik kimia lebih menitikberatkan proses kimiawi secara teknis. Kompetensi lulusannya memiliki wawasan cukup luas tentang proses-proses dalam industri kimia.
“Kalau kimia murni itu lebih bersifat analitik. Tentu menganalisa suatu proses kimiawi hingga unsur terkecil. Kegiatannya didominasi pengujian di laboratorium,” jelasnya.
Teknik kimia pekerjaannya bersifat makro. Kerjanya di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia. Misalnya pabrik semen, kilang minyak dan lainnya. Contoh lainnya, misalnya merancang proses kimiawi untuk menjadi produk yang komersil.
Kuliah di prodi teknik kimia kata Asful, ada banyak kesempatan untuk bekerja. Misalnya, lulusanya dapat bekerja sebagai proses engineer (PE) di sejumlah perusahaan termasuk migas.
“Di perusahaan Pupuk Kalimantan Timur (PKT) itu jabatan paling utama adalah insinyur teknik kimia. Tetapi, teknik kimia juga dapat sebagai regulator, consultant bahkan entrepreneur,” urainya.
Tidak itu saja, lulusan teknik kimia bisa di mana saja bekerja bahkan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau di pemerintahan pun bisa dilakukan. Jadi bukan harus mengubur mimpin menjadi PNS. Sebab, bisa jadi regulator dan konsultan.
“Banyak lulusan teknik kimia juga bekerja di instansi pemerintah. Serta bersaing juga dengan kampus-kampus lain di Indonesia. Termasuk, yang perempuan kalau kuliah di tekim jangan pernah khawatir untuk tidak dapat diserap di pasar kerja lulusannya. Sebab, bisa eksis jadi PE di Pertamina atau analys dan lainnya,” ujarnya.
Kuliah di prodi teknik kimia ITK, sampai sekarang tidak pernah sepi prestasi. Banyak agenda yang dilakukannya bahkan sudah dipublish. Seperti membuat papper, video kreatif kaitan teknik kimia serta lainnya.
ITK kata Asful, pernah pula dilibatkan dalam event Chem-E-Car Competition yang melibatkan mahasiswa dalam merancang dan membangun mobil lewat energi kimia lebih aman pada jarak tertentu dan berhenti. “Ya ini disiplin ilmu teknik kimia yang membuat anak-anak ITK kreatif sebab kerjasamanya juga dengan industri,” ujar Asful yang menambahkan bahwa teknik kimia ITK sudah bekerjasama dengan LIPI, Universitas Teknologi Malaysia (UTM), UGM, Petronas, Pertamanina Hulu Mahakam (PHM) dan industri nasional serta internasional lainnya.
Dalam acara Ngegosip itu, juga menampilkan dosen-dosen lainnya dari prodi JTIP seperti Abdul Alimul Karim yang dikenal sebagai koordinator prodi teknik industri, Noni Oktiana Setiowati sebagai dosen prodi rekayasa keselamatan serta Fandi Afrizal, dosen teknik logistik. Hanya uraian presentasinya secara virtual akan diturunkan dalam publikasi berbeda.
Sekarang, kuliah di ITK banyak pilihan. Ada 17 prodi yang terbagi di 5 jurusan yakni Jurusan Matematika dan Teknik Informasi (JMTI), Jurusan Sains dan Teknik Perkapalan dan Kelautan (JSTPK), Jurusan Teknologi Sipil dan Proses (JTIP), Jurusan Teknologi Sipil dan Perencanaan (JTSP) dan Jurusan Ilmu Kebumian dan Lingkungan (JIKL).
“Jadi lulusan SMA, SMK dan sederajat silakan memilih ITK jadi awal sukses untuk masa depan,” pungkas Himawan. (gt)












