Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Peringatan HUT ke-81 RI di halaman Balaikota Balikpapan seperti melihat festival Indonesian Culture. Indah, beragam dan penuh etnik serta corak warna. Selaras jika Balikpapan disebut kota hetrogen, multi etnis dan multi agama.

Sejak pukul 07.30 Wita, saya tiba menghadiri undangan Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud SE ME bersama rekan H Achmad Kamaluddin (Kamal) dan Andi Welly mengenakan baju takwo, adat Kutai dengan corak lokal dihiasi aksesoris khas berupa bros rantai beruang madu. Sedang H Kamal berbusana Pakaian Sipil Lengkap (PSL) setelan jas formal berdasi merah

Undangan berlabel VIP berada di deretan depan sisi kanan panggung, saya duduk bersama tenaga ahli walikota H Sjarifuddin Hasbullah yang populer disapa ‘Jenderal’ dan Drs Junaidi Latief serta Ustaz Achmad Rosyidi. Hanya, tidak betah duduk sehingga sesuai profesi berputar untuk ‘cari muka’ di deretan kursi lainnya

Setting panggung dibuat varian. Ketua-ketua RT diplot di bagian depan balaikota menghadap panggung utama, terlihat jelas gunakan corak batik sisipin menonjol warna kuning dibalut warna hitam
Sedang posisi duduk untuk anggota legislatif bagian depan berdampingan dengan undangan VIP dari forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda). Seluruh wakil rakyat yang hadir membalut tubuhnya dengan pakaian ragam adat. Termasuk, kepala OPD Pemkot Balikpapan seperti Kadisdik Irfan Taufiq, Kepala Perizinan Hasbullah Helmi, Kepala DLH Sudirman Djayaleksana dan ‘sang kreator acara’ Ketua Panitia Fadzli Fatturahman yang juga Kepala Dishub Balikpapan.
PAK SAKERA
Di barisan depan pandangan tertuju ke undangan dengan songkok atau peci tinggi melebihi ukuran standar. Kontras dengan undangan lain, dia adalah Halili, politisi PKB

Halili tampil dengan gaya pakain adat etnis Madura, baju Sakera. Ia terinspirasi filosofi pakaian itu karena Sakera dikenal tokoh legendaris penentang penjajah Belanda yang pemberani dan tegas

Ada pula Ketua Komisi III DPRD Balikpapa H Yusri, H Haris, Muhammad Raja Siraj, Wahyullah Bandung, Danang Eko Susanto, Hj Muli, Nelly Turruallo, Hj Suriyani, H Andi Arif Agung dan H Aminuddin serta Muhammad Taqwa. Rata-rata legislator asal Sulsel mengenakan songkok recca, identitas penampilannya lebih macho

Tentu, baju adat ini membuat ‘sibuk’ pemakainya. Bahkan, sehari menjelang upacara 17 Agustusan, Wakil Ketua DPRD Balikpapan Yono Suherman juga mencari baju adat. Ia menyewa tapi lainnya ada yang koleksi pribadi
“Untuk dipakai dan hadir dengan istri upacara HUT RI di halaman balaikota,” kata Yono sehari sebelum upacara. Ia duduk di barisan depan dibalut baju adat Bugis Bone didampingi sang istri tercinta. Seolah mengenang masa-masa pernikahan kembali

Di antara peserta tampak sejumlah undangan duduk dengan baju adat unik. Mereka larut dengan kebersamaan. Terlihat, mondar-mandir Asisten III dr Andi Sri Juliarty yang mengenakan pakaian adat khas Bima bernama rimpu.

dr Andi yang biasa disapa dr Dio mengambil gaya foto dengan membawa greeting card stick atau stik kartu ucapan bertuliskan Aku Cinta Indonesia.

Tentu, dr Dio ingin merefleksikan ‘Rumah Indonesia’ berbeda-beda tapi tetap satu. Beda suku, beda bahasa tapi satu rasa Aku Cinta Indonesia, begitu kira-kira.
Tak hanya dr Dio, mitra kerjanya Kepala RS Sayang Ibu dr Erica, Inspektorat Silvia Rahmadina, Kepala Dinas PU Rita, Kepala DKK Dra Alwiati, Kadis Perpustakaan dan Arsip Neny Dwi Winahyu dan lainnya. “Kalau saya menggunakan baju adat Lampung, bagaimana, cantik toh,” kelakar Neny
TORAJA-PASER
Sementara, istri Walikota dan Wawali sama-sama mengenakan gaun adat yang tampil sederhana tapi sentuhannya mewah dan berkelas. Aura keduanya sangat prestise dan memoles rasa anggun dan berbeda dari keseharian

Istri walikota, Hj Nurlena mengenakan baju adat khas Paser (Kutai) paduan warna hitam keemasan yang mengubah siluet wajah ada aura kultural. Ia bersama sang suami sibuk melayani foto bersama (wefie) undangan peserta upacara

“Kalau Bu Wawali itu pakaian adat Toraja. Bisa dilihat dari hiasan bagian kepala yang membentuk atap rumah adat dengan ukiran khas,” kata Fitri, aspri istri Wawali Hj Siti Kotijah
Kehadiran peserta upacara HUT ke-81 RI di halaman balaikota itu lebih kental nilai keberagamannya lewat baju adat. Ada pesan persatuan yang menggambarkan semboyan Bhineka Tunggal Ika dengan identitas perbedaan tapi merajut kebersamaan di momen Dirgahayu RI
Pagi itu, perayaan detik-detik Proklamasi RI juga membawa kesan istimewa karena pesan persatuan hadir di kursi-kursi undangan. Semangat nasionalisme dipadu budaya nusantara dalam suasana kemerdekaan

Busana adat Minang, juga dikenakan pasangan pengantin muda Afduh-Cindara, anak walikota. Bajunya berbahan beludru yang dipadu sulaman emas dan hiasan. Sehingga, memancarkan kemegahan dan simbol keberanian dan kebesaran keluarga

Pejabat yang hadir juga dari Ditjen Hubdat Kemenhub. Ia adalah, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim Renhard Ronald mengenakan pakain adat Kepulauan Riau. Renhard adalah kepanjangan tangan Kemenhub yang dipercaya mendukung bus Bacitra untuk transportasi umum di Kota Balikpapan
“Semoga Pak Wali bisa hadir di acara launching Bacitra masuk Plaza Balikpapan 27 Agustus 2026 mendatang,” kata Renhard kepada walikota yang sempat mengabadikan diri berdua dengan gaya ‘salam Astacita’
AWAS PROVOKASI
Walikota berpesan, warga Balikpapan jangan terpengaruh provokasi maupun isu yang bisa memecah belah bangsa. Karena, HUT ke-81 RI jadi momentum mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah membuat Indonesia merdeka

“Generasi sekarang tak terlibat perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah. Makanya, harus mengisi cita-cita pendiri bangsa yang telah mempertaruhkan nyawa dan harta. Sehingga, harus bisa mewujudkan Indonesia berdaulat, adil dan makmur,” kata Walikota Rahmad yang bertindak selaku inspektur upacara

Upacara HUT ke-81 RI di halaman balaikota itu berjalan penuh khidmat. Pasukan pengibar bendera (paskibra) bekerja tuntas mengibarkan merah putih yang jadi puncak prosesi sakral melambangkan keberanian, kesucian dan persatuan bangsa
Langkah tegap paskibra yang di pusat disebut Paskibraka karena bendera pusaka hanya satu, membentuk formasi barisan membuat decak kagum undangan. Tak heran, applaus diberikan undangan usai sang merah putih itu dibentangkan petugas paskibra.

“Tidak mudah peran paskibra. Dari pembawa baki, penggerek hingga membentangkan bendera menuntut tanggung jawab mental yang kuat. Sukseslah paskibranya,” kata Kabag Umum Pemkot Balikpapan Abdul Madjid yang menyaksikan tepat duduk di samping saya.
Unsur TNI-Polri ikut membuat sukses upacara HUT ke-81 HUT RI di halaman balaikota itu. Termasuk, unsur veteran pejuang, ketua RT, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh adat dan lainnya.

Di acara itu, Ketua DPRD Balikpapan H Alwi Alqadri dipercaya membacakan teks Pancasila dan Pj Sekda Agus Budi Prasetyo membacakan teks UUD 1945 serta pembacaan doa oleh Kepala Kemenag Balikpapan H Masrivani.

Juga Walikota RM memberi penghargaan kepada perusahaan yang patuh membayar pajak tepat waktu untuk kategori besar yakni PT Angkasapura (Persero) Rp11,4 miliar, PT Jasamarga Balikpapan-Samarinda Rp2,3 miliar, PT Dermaga Perkasa Pratama Rp813,8 juta dan Inspirasi Hidup Indonesia Rp584 juta. Selamat!
Merdeka! 81 Tahun Indonesia Tangguh, Balikpapan Tumbuh dan Warganya Saling Asih, Asah dan Asuh.**
*) Ketua Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Wartawan Tinggal di Balikpapan










