TINTAKALTIM.COM-Bank Indonesia (BI) Cabang Balikpapan mendorong penggunaan QRIS di sektor transportasi umum khususnya bus. Karena, bisa jadi alat pembayaran efektif, efesien serta akselerasi dan inovasinya telah disiapkan bank yang memiliki mandat menginisiasi elektronifikasi pembayaran ini.

“Kita mendorong chashless lewat Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT). Tetapi, di Kaltim khususnya sektor transportasi umum, ekosistemnya harus dibentuk,” kata Deputy Kepala Perwakilan BI Balikpapan Wahyu Setyoko saat mensosialisasikan QRIS di acara edukasi Tranformasi Digitalisasi Pembayaran Tiket Transportasi Umum dalam Penerapan Sistem Non-Tunai (Chashless) yang digelar Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim di Auditorium Otoritas Bandara Wilayah VII Balikpapan, Rabu (17/6/2026)

Acara yang dibuka Kepala BPTD Kaltim Renhard Ronald, dihadiri Kadishub Kaltim diwakili Sekretaris Yuki Subekti ATD MT, Kacab Jasa Raharja Kaltim, Kacab PT Jasa Raharja Putra, pimpinan Perusahaan Otobus (PO), pimpinan Himpunan Bank Negara (Himbara) BRI, BNI dan Mandiri dan undangan lainnya

Menurut Wahyu, salah satu tugas BI mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran dan mendorong digitalisasi sistem pembayaran dan sektor transprotasi jadi skala prioritas khususnya untuk chashless

“Transportasi umum itu kan layanan publik menyentuh banyak kelompok masyarakat. Dan, eranya sekarang transaksi non-tunai jadi kebutuhan masyarakat. Jadi, kalau transportasi umum di Kaltim seperti bus yang dijalankan PO sangat tepat menggunakan chashless,” kata Wahyu yang memberikan tolok ukur (benchmark) di negara-negara yang ekosistem chashless-nya sangat maksimal

BI katanya, sudah melakukan elektronifikasi transportasi seperti tranportasi umum BRT/bus, parkir elektronik, pembayaran jalan tol, pelabuhan dan transportasi perkotaan. Sehingga, langkah BPTD Kaltim didukung Himbara sangat tepat untuk melakukan chashless
“Jadi prinsipnya elektronifikasi transportasi itu punya implikasi luas. Untuk pemerintah daerah (pemda) bisa mendukung transparansi penerimaan, mengurangi kebocoran, meningkatkan PAD dan kualitas pelayanan publik,” urai Wahyu Setyoko
GUNAKAN QRIS
Dikatakan Wahyu, digitalisasi sistem pembayaran sekarang sangat mudah menggunakan QRIS karena lebih cepat, murah, aman dan handal dan sudah terintegrasi pada aplikasi mobil banking dan e-wallet (dompet digital)

Untuk transportasi umum seperti bus di Kaltim, tentu pola pelaporan penumpang dan transparansi keuangannya sangat tepat sebab tercatat otomatis dan langsung masuk ke rekening

“Kalau menggunakan QRIS, terhindar dari uang palsu dan tidak perlu ada uang kembalian (angsulan-Jawa-red). Dan BI bersama himbara serta bank swasta (all bank) siap kolaborasi dalam pembentukan ekosistem chashless di seluruh PO di Kaltim yang diinisiasi BPTD Kaltim kerjasama Dishub Kaltim,” jelas Wahyu

Sekarang katanya, pengembangan fitur QRIS sudah beragam seperti QRIS MPM atau Merchant Presented Mode. User scan QRIS merchant yang dicetak dalam berbagai media dan cocok digunakan seluruh jenis merchant
Ada juga, QRIS Consumer Presented Mode (CPM). QRIS user akan di-scan oleh merchant QRIS dan ini cocok untuk merchant menengah-besar dan transaksi yang membutuhkan kecepatan antara lain tiket transportasi

“Lalu QRIS Tanpa Tatap Muka (TTM). Merchant mengirim gambar QRIS kepada user disimpan di gallery HP. Saat membayar, user membuka aplikasi pembayaran, lalu memilih membayar dengan QRIS dan upload gambar QRIS dari gallery tadi. Mudah toh,” kata Wahyu
Selain itu, ada pula QRIS Cross Border untuk fasilitasi pembayaran antarnegara, baik inbound maupun outbound dengan skema metode pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal. Tentu, menggunakan mobile banking atau dompet digital (e-wallet) dari Indonesia.

“Jadi misalnya saat di luar negeri cukup memindai kode QR milik merchant setempat melalui aplikasi pendukung seperti BNI, Mandiri, BRI atau e-wallet tadi. Nominal transaksi yang tertera langsung dikonversikan dari mata uang lokal ke rupiah,” urai Wahyu

Selain jenis QRIS di atas, ada pula QRIS TTS atau Transfer Tarik dan Setor dan QRIS Tap yang tanpa memindai dan mendekatkan smartphone ke terminal pembayaran.
“Untuk seluruh PO Bus, BPTD Kaltim dan Dishub Kaltim serta himbara perlu kolaborasi termasuk dengan BI, sehingga implementasi chashless ini dapat terwujud,” kata Wahyu yang banyak menjawab pertanyaan peserta kaitan implementasi pembayaran digital yang harus diimplentasikan untuk transportasi umum di Kaltim. (gt)












