TINTAKALTIM.COM-Ustaz Sugiono Supriyadi Lc MA mengatakan, umat Islam harus meneladani sikap Nabi Ibrahim yang mendapat julukan khalilullah atau kekasih Allah. Salah satunya adalah berkurban sebagai wujud ketaaannya kepada Allah.
“Tidak hanya menjalankan perintah Allah, namun Nabi Ibrahim juga lulus dalam menjalani segala ujian ketika berdakwah, ia harus dibakar hidup-hidup. Tapi api yang membakarnya menjadi dingin,” kata Ustaz Sugiono saat menjadi khatib salat Idul Adha di Masjid Al-Fatah kawasan kompleks Pertamina, Gunung IV, Balikpapan.
Kisah teladan Nabi Ibrahim AS itu kata Sugiono, harus dijadikan refleksi. Bahwa berjuang dalam membela agama Allah itu tidak perlu takut, meski ada yang mengintimidasi, kalau yang disampaikan itu kebenaran dari Allah, jangan mundur selangkah pun. Karena, Allah bersama orang-orang yang benar. “Bahkan sampai berjuang lewat nyawa pun, itu harus siap,” ujar Sugiono ‘membakar’ keimanan jamaah yang hadir memenuhi halaman Masjid Al-Fatah.
Sugiono menyebutkan, Allah tidak menguji Nabi Ibrahim saja, tapi juga keluarganya. Kemudian Allah menguji ketaatan dan kecintaannya dengan memerintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail AS.
“Era sekarang mimpi menyembelih anak mungkin dianggap tak rasional, tapi Ibrahim dengan ketaatannya menunjukkan bukti cintanya pada Allah. Tetap disembelih Ismail,” cerita Sugiono, Pimpinan Madina, Majelis Dakwah Islam Indonesia ini dengan semangat.
Sugiono, ustaz yang khas dengan surban di kepala itu menjelaskan, bagaimana Nabi Ibrahim membawa istrinya Siti Hajar di dekat Baitullah di Masjidil Haram. “Saat itu, Siti Hajar ditinggal sendirian oleh Ibrahim. Lembah yang kering tidak ada apapun. Itulah istiqomah, itulah keyakinan. Karena, kalau Allah yang berkehendak, Siti Hajar meski ditinggal pasti ditolong Allah,” ungkap Sugiono.
Dalam ceritanya, Sugiono juga menjelaskan bagaimana perjuangan Siti Hajar dari Bukit Shafa dan Marwah berlari-lari mencari air untuk Ismail. Itu digambarkan 7 kali berlari yang diabadikan lewat salah satu rangkaian ibadah haji dan umrah dengan sai’ (lari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Marwah).

Sugiono melanjutkan khutbahnya, saat itu sebenarnya berat hati Ibrahim meninggalkan istrinya. Tapi, ditempatkan di Baitullah itu tujuannya agar keluarga Ibrahim harus menjalankan salat. Cinta kepada Allah dan punya perilaku sabar.
“Termasuk berkurban. Itu wujud cinta Allah. Orang yang disayangi Ibrahim dan lucu-lucunya harus disembelih. Adakah Ibrahim mundur dan menolak perintah Allah,” kata Sugiono.
Sugiono menyebut ayat Alquran di mana dialog Ibrahim dan anaknya Ismail terjadi. “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku diperintah Allah menyembelihmu,” kata Sugiono mengutip salah satu ayat Alquran. Ada kisah ketaatan seorang anak pada orang tuanya di usia 7-`12 tahun saat itu. Ismail justru tidak ‘membangkang’. Ismail pun meminta pada bapaknya untuk melaksanakan apa yang telah diperintah Allah menyembelih dirinya.
Kurban adalah teladan. Allah memilih Ibrahim untuk melakukan pengorbanan besar, menyembelih anaknya sendiri. Pengorbanan itu berat, karena sekian lama Ibrahim meminta anak sampai usia tua, ketika anak lahir ada perintah untuk menyembelih. “Adakah keraguan dalam hati mereka berdua. Makanya, kalau berkoban juga harus besar-besar. Allah pasti menolong. Jangan ragu, hati yang tulus berkorban itulah sejatinya taqwa,” ungkap Sugiono.
Sugiono semakin bersemangat. Ia mengingatkan para jamaah akan ketaatan sejati. Ibrahim dan Ismail tidak pernah mundur, yakin kalau Allah yang perintah pasti dibalas dengan kebaikan.
Sugiono pun meminta jamaah khusus ibu-ibu, kalau suami salat lima waktu dan selalu berbuat baik, wajib hukumnya istri menuruti perintah demi kebaikan. “Ayo kita didik anak-anak kita cinta Allah, cinta masjid dan menjadi keluarga yang istiqomah,” kata Sugiono di akhir khutbahnya dan menutup dengan doa.
AL-FATAH BERKURBAN 12 SAPI
Sebelumnya, Ketua Masjid Al-Fatah Suyatno menyebutkan, kurban tahun ini 12 ekor sapi dan 1 ekor kambing. “Kami berterimakasih dengan para shohibul quban yang telah berkurban. Semoga Allah menerima kurban itu dan menggantinya dengan nilai ketaqwaan. Bagi yang tahun ini belum dapat berkurban, tentu didoakan agar tahun depan dapat berkurban,” kata Suyatno dalam sambutannya sebelum salat Idul Adha dimulai.

Hasil kurban itu dibagi ke sejumlah panti asuhan, anak yatim dan shohibul qurban serta warga di sekitar kompleks Masjid Al-Fatah. “Ada sekitar 400 kupon yang dibagikan, semoga semua jadi berkah,” kata Suyatno yang dikenal aktif mendonasikan sejumlah hal untuk kepentingan Masjid Al-Fatah dan jamaah ini.
TRADISI UKHUWAH, PUASA SENIN-KAMIS
Dalam konteks lain, ada hal menarik di Masjid Al-Fatah yang sudah berjalan sejak dulu. Jamahnya rajin puasa Senin dan Kamis. Selain menjalankan sunah Rasulullah SAW, jamaah juga punya tujuan. Puasa sunah itu untuk melatih diri tetap sabar dan peningkatan kualitas ketaqwaan dan hidup sehat.
Boleh disebut puasa sunah itu ‘tradisi’ yang didasarkan atas upaya untuk menjalin silaturahmi dan ukhuwah antar jamaah Masjid Al-Fatah. Ada sejumlah sosok senior jamaah sebutlah Ustaz Salmani, Ustaz Abdurrachman dan lainnya. Mereka-mereka ini disebut sebagai figur ‘Arsitek Ukhuwah’. Karena, jika bertemu selalu berupaya semangat, menebar senyum dan menggelorakan persaudaraan.

Justru inisiator pembangunan Masjid Al-Fatah ini pun lahir dari pemikiran para jamaah senior termasuk Ustaz Salmani dan Ustaa Abdurrachman. Mereka dulu adalah karyawan PT Pertamina dan tinggal di kompleks lingkungan masjid.
Setelah pensiun, tinggal yang jaraknya jauh antar satu dan lainnya. Tapi mereka masih tetap berjamaah. Datang dari jauh untuk menjalin ukhuwah. Apalagi Ramadan, qiyamul lail dan iktikaf dipimpin oleh Ustaz Salmani dan Abdurachman. “Kita juga sering adakan taklim, kajian Islam untuk kepentingan ilmu agama bagi jamaah,” kata, ketua masjid Suyatno.

Penulis mencermati. Ada yang juga berbeda dari masjid-masjid lainnya di Masjid Al-Fatah. Jamaahnya sering kumpul-kumpul untuk makan. Kadang makanan ringan, ada juga yang berat. Bahkan ada pula sarapan pagi. Makan kerupuk dengan sambal pun ternyata nyaman. Kalau ‘makan besar’ tentu ada cheef atau tukang masaknya. Menunya pun beragam.
Kalau di Kalimantan Selatan atau Banjarmasin kumpul pagi hari itu disebut ‘Mawarung’ yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan sarapan di warung dan sampai sekarang masih dilakukan.
Nah, kalau di Masjid Al-Fatah bolehlah kalau disebut dengan istilah ‘Ma-Masjid’ atau kumpul-kumpul di masjid sarapan pagi. Tapi bukan di dalam masjidnya, hanya halaman dan dapur masjid. “Bujur saja, semuanya kita niatkan jadi ibadah dan meningkatkan ukhuwah tadi. Bujur kada (benar tidak, Red). Supaya tidak jenuh. Karena kumpul-kumpul itu terkadang bepandir atau bercerita dan membedah kaitan ilmu agama,” ujar Salmani yang kental logat bahasa Banjarnya.(git)













