TINTAKALTIM.COM-Ukuran kinerja pelayanan air minum lazim digunakan adalah 3K yaitu Kualitas-Kuantitas-Kontinuitas air. Hanya, bagi PDAM Balikpapan itu semua tak cukup. Harus ditambah dengan 2K yakni Keterjangkauan dan Komunikasi.
Institusi penyedia air bersih ini, tak pernah berhenti melakukan inovasi, tentu outputnya demi memberi pelayanan pelanggan maksimal. Sandarannya, bagaimana bekerja mengimplementasikan program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Balikpapan tahun 2016-2021 baik sebelum dan sesudahnya.
Apalagi mengacu aturan, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini sudah berubah status menjadi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Manuntung Balikpapan. Disebut perumda karena amanat UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemda dan BUMD itu dibawah kendali pemkot harus memilih badan hukum.

Dipilih namanya perumda karena sahamnya hanya dimiliki satu daerah yakni Pemkot Balikpapan. Jika lebih dari satu daerah, maka badan hukumnya perseroda.
Proses perubahan status perumda itu pun mendapat support DPRD Balikpapan. Sehingga, pola pengawasan wakil rakyat terhadap kinerja PDAM semakin maksimal. Apalagi perusahaan ini memiliki visi sebagai salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan.
Sementara, suksesnya dan lancarnya hubungan PDAM Balikpapan dengan pelanggannya, karena faktor komunikasi. Itu tertuang dalam salah satu misinya yakni membangun komunikasi yang kuat dengan stakeholders termasuk pelanggan.
Bukan itu saja, yang menjadi proses pelayanan cepat, juga menetapkan misinya pada peningkatan produktivitas kinerja dengan penerapan teknologi terkini. Bahkan, perusahaan sudah dikelola secara profesional karena lebih transparan, efisien dan efektif dengan mengedepankan kesejahteraan karyawan.
MANDIRI
Keberadaan PDAM Kota Balikpapan, sekarang sudah pada posisi perusahaan yang secara keuangan telah mandiri atau pengelolaannya full cost recovery (FCR). Di mana, kondisi optimal modal pengolahan air sudah dapat dipulih biayakan.

“Harus terus dijaga. Karena, FCR itu juga punya korelasi terhadap konteks K3. Bagaimana, kualitas air mau bagus, kuantitas dan kontunitas terjaga jika belum FCR. Jadi, PDAM Balikpapan itu harus terus dijaga keberlanjutan usaha dan pelayanannya. Apalagi sudah menunjukkan penilaian terbaik dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP),” kata pakar air minum Ir Purwoko Hadi yang kerap menjadi pembicara dan instruktur para direksi dan dewan pengawas (dewas) PDAM se-Indonesia dalam kaitan peningkatan kapasitas.
Dari monitoring yang dilakukan Purwoko, PDAM Balikpapan sudah on the track. Kalaupun ada keterbatasan seperti air baku, itu harus direncanakan. Memang Kota Balikpapan tidak dapat dibandingkan dengan kota-kota lainnya yang memiliki air baku baik. Apalagi topografi wilayahnya berbukit.
“Jadi tidak dapat apple to apple dengan Medan atau Malang misalnya. Itu kan daerahnya plat dan air bakunya melimpah. Makanya, jangan sepenuhnya serahkan untuk mencari air baku itu ke PDAM Balikpapan,” kata Purwoko
Disebutkannya, air baku harus melibatkan stakeholder lainnya. PDAM itu hanya operator. Kalau airnya ada pasti dijual, namanya tukang ledeng ya jualan air. Jangan disuruh bekerja juga mencari air baku. “Membuat business plan saja dan dikaji sejumlah stakeholders termasuk pemkot. Itu baru benar ,” ujarnya.
Persepsi pelanggan memang wajar sering terjadi. Khususnya kaitan air PDAM dan sistem kerjanya terkadang masih dikeluhkan.
“PDAM itu BUMD dan punya 2 misi dalam bekerja yakni misi sosial dan misi profit atau mencari keuntungan. Makanya, orang PDAM itu melihat PDAM sulit tetapi di luar PDAM melihatnya mudah. Itu biasa penilaian muncul, karena mungkin tidak mendalami kaitan 2 misi kerja PDAM tadi,” ungkap Purwoko yang menyebut, selain dituntut mencari keuntungan, PDAM juga menjual air yang tarifnya harus sosial terkadang rugi.
SUPER TEAM
Kinerja PDAM Balikpapan ini dikendalikan dengan konsep ‘super team’ di bawah pengawasan Walikota Balikpapan H Rizal Effendi SE dan wakilnya H Rahmad Mas’ud SE dan dibantu oleh dewan pengawas (dewas) yakni Sayid N Fadli (ketua) dengan 2 anggotanya Daud Pirade dan Hendika.

Tetapi, secara operasional empat direksinya bekerja maksimal yakni Haidir Effendi (Direktur Utama), Arief Purnawarman (Direktur Teknik), Nour Hidayah atau Nunu (Direktur Umum) dan Anang Fadliansyah (Direktur Limbah).
Keempat direksinya dibantu staf yang terdiri para kabag dan kasubag dari seluruh divisi, PDAM Balikpapan terus berinovasi dan tidak mengabaikan kualitas. Misalnya saja kaitan sanitasi atau pengelolaan air yang higenis demi menjaga kualitas air dan manusianya. Itu dengan dicapainya kinerja diraihnya ISO 17025:2017, ISO 9001:2015.
ISO 17025:2017 misalnya, ISO yang diterima PDAM Balikpapan kaitan standar persyaratan kompetensi untuk laboratorium. Sehingga, kalibrasi di laboratorium ini punya metode baku. Karena, kaitannya dengan kualitas air dan lingkungan kerja tadi.
Berikut ISO 9001:2015. ISO ini sangat memberi arah kinerja PDAM Balikpapan. Karena kaitan dengan sertifikasi sistem manajemen mutu.
“Jadi kalau ada anggapan di luar bahwa kita mengabaikan kualitas, itu tidak benar. Justru, kita telah diuji dengan mendapatkan ISO dan tata kerja di lapangan kita implementasikan,” kata Dirut Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PDAM) Haidir Effendi.
Bukan itu saja, kaitan standar pelayanan publik pun sudah didapatkan dari Ombudsman RI dan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3) dengan kategori gold.
“Secara sistematis, SMK3 itu diaudit oleh tim independen agar kriteria untuk mengukur hasil kegiatan di perusahaan PDAM sudah dilaksanakan. Jadi bukan berjalan begitu saja,” jelas Haidir Effendi.
Dalam menjalankan fungsi pelayanan PDAM, menurut Haidir perusahaannya didukung 3 pilar yakni Pemkot Balikpapan, PDAM Balikpapan dan pelanggan. Pemerintah pihak yang mempunyai kewajiban dan bertanggungjawab atas tersedianya layanan air minum yang aman bagi masyarakat, PDAM yang mendapat tugas dari pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan, dan pelanggan penerima pelayanan.
SIMPEG
Dalam konteks penyediaan sumber daya manusia (SDM) di bawah kendali Direktur Umum (Dirum) Noer Hidayah atau biasa disapa Nunu, kini PDAM juga telah mengimplementasikan Simpeg atau Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian.

Dalam sistem itu menurut Nunu, adalah tatanan bagi proses pengumpulan, pengolahan, penganalisaan, penyajian data dan informasi yang diperlukan untuk menunjang administrasi dan manajemen berkaitan dengan pegawai. “Kita sudah mengukur pegawai itu dengan menggunakan konsep human capital. Ada assessment dan kaitan Key Performance Indicator (KPI) setiap pegawai terlihat jelas. Sehingga, kita tidak like and dislike,” ujar Nunu.
Sebelum Nunu masuk ‘gerbong direksi’, Simpeg ini di bawah pengendaliannya. Sekarang didelegasikan ke Kabag SDM Nur Hasramdani atau biasa disapa Dani. Kapasitas Dani sangat memiliki skill di bidang SDM. Apalagi sebelumnya ia sempat menempati pos bidang informasi teknologi (IT) sehingga rekayasa Simpek dan alur kerjanya sangat akurat .
“Kasubag dan kabag kami sangat kompeten. Sehingga, alur kerja dan pendelegasian itu tinggal dilakukan. Sebab, ini tuntutan pelayanan. Harus evaluasi dan terus memberikan pelayanan prima,” ujar Nunu.
INOVASI GIS
Dalam kaitan menunjang pelayanan, PDAM Balikpapan kini juga menerapkan sistem manajemen terpadu. Langkah-langkah konkret diterapkan lewat rapat tinjauan manajemen (RTM) yang membahas berbagai hal agar pelayanan ke pelanggan tak terkendala. Dalam rapat rutin itu, seluruh divisi dibahas dari produksi, distribusi, IT, hubungan pelanggan (hublang), keuangan bahkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Inovasi yang dilakukan adalah menyiapkan konsep jaringan perpipaan digital atau disebut GIS (Geographic Information System). “GIS kita gunakan untuk mendata jaringan perpipaan sebab itu adalah aset PDAM yang menunjang operasional perusahaan,” kata Haidir yang mempercayakan operasional kerja GIS ini kepada Direktur Teknik Arief Purnawarman.
Lewat inovasi GIS, seluruh data-data jaringan dan pelanggan manual dikomputerisasi sehingga datanya aman, cepat dan akurat. “Kan hampir seluruh pipa PDAM tertanam dalam tanah, sehingga diperlukan pengelolaan data lokasi pipa tersebut,” kata Haidir dibenarkan Arief.
GIS ini ke depan juga dimanfaatkan untuk mendata jaringan pipa dan asesorisnya tersimpan dengan aman dan tersetruktur. Dan jika ada kebocoran dapat terdeteksi. “Intinya direksi didukung dewan pengawas dan staf untuk terus melakukan inovasi. Tujuannya, peningkatan pelayanan pelanggan,” kata Haidir.
IPAL DAN MBR
Yang tah kalah penting, perjuangan PDAM sekarang sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) termasuk juga adanya program pemasangan jaringan air untuk kategori Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang diperjuangkan dari pusat.

“Program Corporate Social Responsibility (CSR) kita juga sangat banyak. Peletarian lingkungan, pendidikan, bantuan tendon untuk rumah ibadah, pembuatan sumur di pedalaman, senam keliling kampung termasuk juga menjaga bagaimana pelayanan terukur dengan mengadakan Survei Kepuasan Pelanggan (SKP),” ujar Haidir.
Disebutkannya, kendati banyak kendala, PDAM tak pernah putus atas. Terus berbuat, berinovasi demi pelayanan yang maksimal.”Kami juga menerima saran, kritik yang konstruktif untuk kemajuan PDAM. Asalkan sesuai regulasi yang ada,” pungkas Haidir. (gt)













