TINTAKALTIM.COM-Ustaz yang biasa memberi motivasi dan dakwah kaitan pendidikan keluarga (parenting) Dr Drs H Sartono MM menegaskan, manusia harus menghindari suudzon (prasangka buruk) sebab itu sangat merusak hati dan menjauhkan dari ketenangan dan kebahagiaan, karena pikiran terus disibukkan hal negatif

“Itu bermula dari negative motivation atau motivasi negatif muncul dari diri seseorang dan jadi kebiasaan buruk. Lalu, berkembang iri hati, dengki yang dilarang Islam,” kata Ustaz Sartono saat memberikan tausyiah di acara Muhasabah Akhir Tahun 2025 di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islami Centre (BIC), Rabu (31/12/2025)

Acara yang mengusung tema Muhasabah Diri Raih Prestasi Mewujudkan Balikpapan Madinatul Iman itu, digagas Badan Pengelola Masjid Balikpapan Islamic Centre yang diketuai H Muhammad Andi Yusri digelar usai salat Magrib berjamaah

Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud dan istri, Wakil Walikota Dr Bagus Susetyo dan istri, Ketua DPRD Balikpapan H Alwi Alqadri dan istri, Wk Ketua DPRD Yono Suherman, forum komunikasi pimpinan daerah (forkipimda), tokoh masyarakat, tokoh agama dan undangan lainnya hadir dan mengikuti salat Magrib berjamaah, zikir, doa, salat hajat dan tausyiah dan diakhiri salat Isya berjamaah

Dikatakan Dr Sartono, motivasi negatif sering kali menyebabkan seseorang bertindak dengan cara yang bermusuhan karena buktinya tak jelas dan muncul rasa kebencian.

“Contoh, ketika ada tetangga kita naik pangkat kita harus Alhamdulillah, ada yang beli mobil baru, Alhamdulillah. Nah, hati bersih toh, kendati ada sedikit perasaan gerundel (menggerutu),” kelakar Dr Sartono

Seseorang kata Sartono, terkadang belum memiliki pengetahuan atau informasi yang cukup cenderung membuat asumsi salah. “Malam ini kita bermuhasabah (interospeksi diri), di tahun 2026 harus dibuang jauh-jauh suudzon itu, membersihkan hati yang selalu positif,” kata Sartono

Sartono mencontohkan, misalnya suudzon dengan Pak Walikota, Pak Wakil Walikota atau Ketua DPRD. Padahal, belum tentu benar. Ini harus dijauhkan dari hati. Saatnya, kubur di tahun 2026 dan hati menjadi positif di 2026

Motivasi negatif kata Sartono yang juga pemilik Yayasan Cahaya Hati Rabbani (CHR) program bimbingan haji dan umroh ini, menjadi awal dari pikiran suudzon.
Apa yang ada di pikiran seseorang jika negatif maka menjadi akar banyak persoalan baik individu maupun sosial. Sehingga, manusia harus mengelola pikirannya selalu objektif dan hati-hati

Untuk itu pinta Sartono, memasuki tahun 2026 hati harus dilatih untuk berpikir sebelum mengucapkan sehingga output dari rasa itu selalu positif (positive thinking)
“Orang yang berburuk sangka itu hidup dalam kecemasan dan kegelisahan. Karena, rasanya selalu curiga berlebihan dan kepada orang lain tak percaya. Sehingga, yang dilihat kejelekan seseorang. Ini bisa menghabat dikabulkan doa dan hajat dari Allah,” jelas Sartono

Menghindari hati yang rusak dan suudzon, Sartono melakukan muhasabah hati jamaah. Ia mengajak jamaah mengucapkan doa dan zikir yang harus dibaca pagi dan petang.
Pertama, Rodhitu billai robba, wabil islai dina, wabimuhammadin nabiyya warosula. Robbi zidni ilma warzuqni fahma (Ya Allah, aku ridho Allah Tuhanku, Islam Agamaku dan Nabi Muhammad nabi dan rasulku. Ya Allah tambahkan kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik)

Lalu, yang kedua Sartono mengajak membaca bersama-sama jamaah dengan kalimat: Hasbiyallahu la ilaha illa huwa alaihi tawakaltu wahuwa rabbul arsyil adzim (cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung)
“Ini dibaca 7 kali setiap pagi dan petang. Insya Allah hajat dan keinginan kita soal dunia dan akhirat dikabulkan Allah,” kata Sartono agar jamaah mengamalkan
Yang terakhir, Sartono meminta jamaah mengamalkan Bismillahiladzi la yadurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wa la fis sama’i wa huwas samiul ‘alim (Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat membayakan. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)
“Zikir ini dibaca 3 kali pagi dan sore agar terhindar dari bencana, musibah dan bahaya di dunia,” kata Sartono yang mengakhiri tausyiahnya dengan salat Isya dan silaturahmi bersama jamaah. (gt)













