Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Pencapaian Republik Demokratik (RD) Kongo hanya sampai babak 32 besar. Ini prestasi terbaik sepanjang sejarah negara tersebut. Melihat prestasi Kongo, saya menurunkan catatan tentang tontonan Piala Dunia (World Cup). Rangkaian pertandingannya 39 hari yang opening ceremony pada 11 Juni 2026 dan final pada 19 Juli 2026 mendatang
Ini edisi pertama yang diikuti 48 negara (sebelumnya 32 negara) digelar di AS, Kanada dan Meksiko. Sebagai hiburan, ramailah. Juga hilangkan stres karena kebutuhan hidup pada naik. Teman saya bilang: ‘Saki-Saki Indonesia’ (kondisi ekonominya sakit-red)

Bola asyik diperbincangkan dan hangat. Di pasar, warung kopi atau kafe dan kantor euforianya terlihat. Atmosfirnya terasa di ruang publik. Sampai-sampai Masjid Balikpapan Islamic Centre (BIC) menggelar nonton bareng (nobar). Tak biasanya, ini memanfaatkan fasilitas videotron di bagian outdoor

Merambah ke perkantoran juga. Untuk memberi tontonan menarik bagi pengguna jasa Terminal Batu Ampar yang dikelola Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim Kemenhub di musim World Cup 2026, Pengawas Satuan Pelayanan (Wasatpel) terminal Heriyawan memasang big screen yang bisa jadi lokasi nobar bagi mereka yang menunggu bus berangkat ke Samarinda, Banjarmasin dan IKN
Bahkan, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro pun menggelar nobar bersama elemen masyarakat termasuk insan media. Kapolda jagokan Argentina vs Portugal di final dan memprediksi juaranya Portugal di mana CR 7 mencetak gol

Tetapi, kepada wartawan Kapolda menunjukkan spiritnya dan punya prediksi patriotik dan optimistis Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030 mendatang. “Indonesia lah yang juara World Cup 2026,” kelakarnya saat itu tapi menandakan Kapolda mendukung timnas Indonesia ke World Cup 2030
Demikian juga Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud. Memberikan kemudahan warga menyaksikan gelaran selama Piala Dunia 2026 berlangsung, menyiarkan di setiap videotron milik Pemkot Balikpapan di lokasi-lokasi strategis

“Saya jagokan timnas Brazil menjadi juara Piala Dunia 2026,” katanya kepada wartawan. Kendati, ia pun sebenarnya suka dengan permainan timnas Portugal. Bisa jadi, Walikota senang dengan Brazil selain skill permainan individu dengan gaya Samba, juga selalu menggunakan jersey warna kuning.
Dari 48 tim, ada yang menarik perhatian penulis. Tampilnya RD Kongo yang sudah ke-32 besar, meski kandas dari Inggris dengan hasil 3-2 yang menghapus impian masuk 16 besar.
Ini dari data, Kongo itu negara termiskin di dunia. Sekitar 60 juta penduduknya hidup dalam garis kemiskinan. Tetapi, sepakbolanya menunjukkan prestasi berlaga di World Cup
Kongo lolos melalui jalur play-off antarbenua mengalahkan Jamaika. Terus, mencatat sejarah lolos ke babak 32 besar setelah menempati peringkat 3 terbaik yang memetik hasil 3-1 atas Uzbeksitan. Tentu, Anda juga menyaksikan siaran langsungnya
Pertanyaannya? Kok bisa negara ini lolos Piala Dunia 2026? Negaranya miskin, penduduknya hidup saja sulit. Jutaan orang butuh bantuan kemanusiaan dan anak-anak terdampak krisis.
Tapi, faktanya Kongo lolos ke Piala Dunia 2026. Warganya menyebut sebagai obat, sementara negaranya mengalami berbagai persoalan ekonomi. Ini momen langka tapi bisa jadi penghibur di tengah krisis berkepanjangan di Kongo.
Memang lolos Piala Dunia tidak mengurangi kemiskinan negaranya. Juga kehidupan penduduk mereka tak berubah. Tetapi, dalam keterbatasan saja Kongo masih bangkit dan tampil di kancah dunia
PELAJARAN
Setidaknya, lolosnya Kongo di Piala Dunia 2026 jadi pelajaran bagi Indonesia. Penduduknya sudah sekitar 280 juta. Sumber Daya Alam (SDA) melimpah. Masuk negara berkembang jauh tentu dan tidak apple to apple (setara) dengan Kongo
Ternyata, jawabannya ada satu yang menggelitik. PSSI-nya Kongo memperbaiki pembinaan dan memaksimalkan regulasi FIFA sehingga menjadi pemain yang ikut aturan. Cari pelatih yang baik, dukungan fanatik suporter sampai memanfaatkan pemain warga Kongo yang bermain di Liga Eropa dan disiplin
Penulis bukan pemain sepakbola. Tapi, pecandu tontonan sepakbola baik nasional maupun internasional. Sejak dulu tim favorit saya adalah Jerman. Saat itu masa keemasan dan kejayaan Jerman karena masih ada legenda sepakbola seperti Karl Heinz Rummeniegge, Littbarski, Lothar Mathaus dan lainnya.

Dan, tercatat Jerman pernah meraih trofi Piala Dunia 4 kali sama dengan Italia di bawah Brazil yang 5 kali. Sayang, timnas Italia tak lolos Piala Dunia, sama dong dengan Indonesia? Pun begitu Jerman ‘tersandung’ di fase gugur dan harus ‘pulang kampung’ dikalahkan Paraguay lewat adul penalti 4-3.
Jika kita cermati, Kongo bisa jadi referensi PSSI. Mengapa sepakbola Indonesia lambat majunya? Salah satunya mencari pelatih apa-adanya. Ada pelatih bagus Shin Tae Yong (STY) sudah menunjukkan skill-nya dicopot dan diganti Patrick Kluivert yang ternyata masa lalunya diwarnai dengan kontroversi keuangan.
Bahkan ada canda dari netizen, kalau Patrick Kluivert tak bisa loloskan Indonesia ke Piala Dunia, ternyata anaknya Justin Kluivert memulangkan tim Belanda dari Piala Dunia di fase gugur tak lolos 16 besar yang kalah dramatis dari Maroko.
Padahal, STY pernah menjadi head coach timnas Korsel dan memimpin saat lolos Piala Dunia 2018 di Rusia, tapi Indonesia lebih memilih Patrick Kluivert, tentu apes
Belum lagi, klub di Indonesia setiap tahun harus melakukan transfer pemain. Sehingga, pondasi tim yang sudah dibangun dirombak ulang. Sehingga, pola permainan tidak berkelanjutan (sustainable)
“Terkadang ada kontrak jangka pendek, pembinaan mandek dan infrastruktur klub masih ada yang menumpang. Dan, problem krusialnya klub-klub itu tak memiliki finansial stabil sehingga gaji pemain sering menunggak,” kata Hasan, wartawan media online KaltimKita yang kerap menulis berita-berita sepakbola
Belajar dari Kongo, semua elemen harus berubah agar nggak jalan di tempat. Ternyata, Kongo menerapkan kedisiplinan pemain, bahkan soal makanan pun diperhatikan. Beda dengan Indonesia, masih mau makan apa saja termasuk gorengan yang minyaknya seabrek.
Pengembangan sejak usia dini. Indonesia sudah mengawalinya. Itu di negara-negara yang bolanya pesat seperti Argentina, Brazil punya yang disebut youth development sepak bola yang membentuk dan membina pemain muda secara komprehensif mulai usia dini hingga remaja
Fokus utamanya bukan mencetak pemain bola profesional tetapi diawali karakternya dibentuk dan mentalitas utuh agar siap menghadapi tantangan di dalam dan luar lapangan. Makanya semua dari nol. Lionel Messi dan Ronaldo tak bisa menjadi pemain mahal kalau tak mengikuti pola itu
Indonesia aneh. PSSI ketika diganti ketuanya, lantas mengganti kebijakan. Yang dipilih pun bukan passion di olahraga bola. Dan, lebih cenderung politisi. Cermati saja, Nurdin Halid, Eddy Rahmayadi dan Iwan Bule berafiliasi dengan politik praktis
Belum lagi kaitan sanksi. Wasit bisa ‘bermain’ dan mafia permainan yang paling tegas tanpa VAR posisi offside dibilang onside. Parahnya, sepakbola di Indonesia jadi komoditas politik karena ketuanya orang yang cenderung berpolitik.

Saya yakin, PSSI punya road map, apa yang harus diperbaiki. Sebab, sepakbola Indonesia sejak dulu masalahnya masih banyak. Salahsatunya ada korupsi. Jadi, mau pakai pelatih Pep Guardiola pun tak bisa maju
Mafia bola masih menjamur di Indonesia. Dugaan korupsi yang menyeruak saat itu tim Garuda yang pelatihnya Alfred Riedl, gagal juara ditaklukkan Malaysia dengan skor 2-4 di final Piala AFF.
Tiba-tiba muncul surat kaleng yang dikirim ke media massa adanya isu pengaturan skor saat final. Dugaannya adanya dua oknum dari petinggi PSSI yang menjual pertandingan leg pertama final Piala AFF
Skandal suap saat itu, dengan kekalahan tim Indonesia dalam AFF, maka bandar judi Malaysia dan oknum petinggi PSSI dapat meraup untung miliaran rupiah. Dan, skandal ini meledak dan jadi kasus yang selalu diingat
Dan korupsi itu, jadi masalah utama yang membuat berantakan persepakbolaan Indonesia. Ada juga dugaan peran wasit yang bermain skor dan lainnya. Itulah wajah sepakbola Indonesia. Dan banyak lagi yang terjadi
Kini tim Indonesia diasuh pelatih John Herdman dan mendapat dukungan penuh pemerintah. Ini kunci utama agar squad Indonesia lolos ke Piala Dunia 2030 mendatang. Apalagi FIFA membuka wacana untuk memperluas format peserta Piala Dunia 2030 jadi 64 negara
Jujur, saya juga bangga tim Indonesia bisa mengalahkan Oman dengan skor telak 3-0, sebab selama 38 tahun tak pernah menang kendati itu hanya ujicoba (matchday). Ini modal dasar untuk memoles tim ke depan lebih baik. Tapi, untuk lolos ke Piala Dunia 2030, harus melakukan perubahan totalitas.
Kongo itu timnas yang saya boleh sebut sebagai underdog effect. Atau, tim yang tak diperhitungkan tetapi efeknya sampai masuk Piala Dunia 2026. Padahal, banyak yang kurang dari negaranya
Nah, sekarang ayo menata sepakbola Indonesia. Apalagi pemerintah melalui Pak Presiden Prabowo sudah ingin mendorong majunya sepakbola Indonesia.
Ditambah, pelatih timnas Indonesia sudah menyiapkan masterplan untuk menghadapi Piala Asia 2027 yang mengevaluasi pemain lokal dan memadukan dengan diaspora Eropa dalam enam bulan ke depan
Ambisi yang diusung Jhon Herdman bukan tanpa dasar. Pelatih berusia 50 tahun itu pernah mencatat sejarah bersama tim nasional Kanada dan mengantarkannya tampil di Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar.
Ditambah support Pak Presiden yang sekarang begitu masif menggelorakan dan membuat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nah, lewat bola sepertinya dibuat juga MBG (Maju Bolanya Guys), semoga.**
*) Pengurus Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Direktur Tintakaltim.Com.












