TINTAKALTIM.COM-Momen halal bi halal staf dan manajemen Platinum Hotel Balikpapan yang dihadiri jajaran direksi, dijadikan tempat memompa spirit kaitan pengembangan bisnis perhotelan. Khususnya, di dalam menjaga agar hotel tetap survive dalam menghadapi kompetisi dan kebijakan pemerintah yang efeknya ke dunia perhotelan.

“Saya setuju dengan Pak General Manager (GM) Platinum Balikpapan Joko Budi Jaya, efisiensi jangan sampai mengurangi pelayanan kepada tamu. Karena, bisnis perhotelan itu adalah bisnis persepsi,” kata Direktur Operasional Platinum Group H Soegianto SE saat memberikan sambutan dan memberi spirit bagi staf dan manajemen Hotel Platinum Balikpapan di acara halal bi halal yang digelar di Infinity Sky Lounge lantai 12 Platinum Balikpapan, Kamis (3/4).

Jajaran Board of Directors (BOD) sekaligus owner hadir yakni Charles dan istri, David, Rudi, Toni dan berbaur dengan staf di acara itu sekaligus saling menyampaikan kata maaf kepada seluruh karyawan.
Soegianto yang juga Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan ini, menyebut bahwa Platinum Balikpapan bahkan Platinum Group pernah menghadapi situasi sulit seperti musibah Covid-19. Tetapi, saat itu masih bisa eksis. Bahkan, keluar dari tantangan dengan gagasan dan ide cemerlang hingga Platinum Balikpapan mampu melakukan pengembangan membangun Infinity Sky Lounge.

“Saya berharap, kekuatan superteam Platinum Balikpapan harus tetap dijaga. Jangan abaikan tamu. Beri mereka tetap pelayanan prima (service excellence),” pinta Soegianto.
Karena kata Soegianto, jika tamu kecewa itulah awal dari kegagalan bisnis hospitality yang fokus pada pelayanan dan pengalaman pelanggan di bidang perhotelan
OPPORTUNITY
Sementara itu Joko Budi Jaya menegaskan, efisiensi di internal hotel tetap dilakukan. Hanya, tidak sampai menyentuh dan mengurangi variabel terkait produk dan pelayanan kepada tamu yang menginap di Platinum Balikpapan.

“Kualitas pelayanan harus tetap. Ada efesiensi atau tidak. Sebab, itu membangun persepsi tamu. Kita harus mengatur anggaran secara bijak tanpa mengorbankan pelayanan,” kata Joko Budi.
Kebijakan efisiensi itu kata Joko Budi penting, tetapi jajaran staf khususnya head of departement (HOD) harus realistis. Utamakan produk dan kualitasnya harus baik. Langkah financial statement bisa dilakukan, hanya orientasinya tak boleh menyentuh pengurangan kualitas produk dan pelayanan tadi.

“Bisnis perhotelan itu memang sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, saya minta tetap optimistis. Karena momentumnya Idul Fitri, ke depan efisiensi itu harus diubah menjadi peluang (opportunity). Sehingga, kita semua meraih kemenangan sesuai momentum hari nan suci,” urai Joko Budi.
Joko Budi memberi istilah, bisnis perhotelan era sekarang ibarat orang berpuasa. Ada kenikmatan yang pada akhirnya dicapai karena ‘kerja keras’ melawan tantangan hawa nafsu dan lainnya, sehingga kebahagiaan itu di saat berbuka.

“Ada waktunya kita semua berbuka puasa seluruh stafku. Jangan pernah mengurangi produk dan pelayanan. Tamu harus diistimewakan dan tak boleh keluar lobi lalu kecewa. Jika perlu ‘gendong’ tamu itu sampai ke mobil,” kata Joko Budi memberi istilah yang harus diterapkan seluruh stafnya dalam memberi pelayanan prima di Hotel Platinum Balikpapan.
Acara halal bi halal yang dirangkai pengundian grandprize 2 umroh untuk mereka yang berbuka puasa pada program SaHaRa In The Sky di lantai 12 Infinity Sky Lounge itu, dipandu Mc Ziw Ziw yang diakhiri saling berjabat tangan sebagai untaian kata maaf dan menikmati ragam hidangan serta tampilnya hiburan dari group band B-Think. (gt)













