TINTAKALTIM.COM-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan penuh dinamika. Terlihat anteng tetapi upaya konsolidasi internal pun berjalan. Sepeninggal ketua sebelumnya alm Habib Muhdar Alqadrie, kini ketua MUI pengganti masih belum jelas. Terbaru, posisi sekretaris umumnya (sekum) KH Musleh Umar dikabarkan mundur dan tak akan lagi berkecimpung di organisasi keagamaan dalam pelayanan umat ini. Tapi, ia akan mengantarkan kepengurusan MUI hingga masa bakti berakhir
Mengapa belum jelas, karena menjelang musyawarah daerah (musda), nama yang bakal diusung KH Jailani Mawardi pun masih ambigu. Boleh jadi karena tugas yang diemban juga besar seperti jadi Imam Besar Masjid Balikpapan Islamic Centre dan ngurusin santri sebagai pimpinan di Ponpes Muhammad Arsyad Albanjari di kilometer 19 dan berdakwah keliling kota

Sejumlah sumber media ini menegaskan, sebaiknya memang tidak rangkap-rangkap kegiatan. Kendati itu tak masalah, karena MUI organisasi jadi wadah ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai latar belakang. Tetapi, dikhawatirkan tidak efektif dalam kinerja untuk lembaga dalam membimbing umat
Meski belum tegas, KH Jailani Mawardi melalui keterangan Ketua Baznas Balikpapan H Abdul Rosyid Bustomi, sebenarnya bersedia tetapi dengan catatan ‘minta didampingi’. Karena, MUI tidak bisa dijabat ‘sambil lari’
URUSIN NU
Selain Jailani, nama Musleh dikenal cukup cekatan dan inovatif dalam membesarkan misi dakwah di organisasi keagamaan. Tetapi, tiba-tiba ia menyatakan mundur dari kepengurusan MUI. Ia tidak akan lagi masuk dalam urusan dinamika keagamaan di MUI yang makin kompleks saat pasca musda dan kepengurusan baru nanti, apalagi sekretaris adalah jabatan inti
Mundurnya Musleh diungkapkan ke media ini melalui obrolan aplikasi WhatApp (WA). “Sepeninggalnya alm Habib Mahdar, saya niat pensiun dari MUI. Itu pun juga saya lakukan di BKPRMI yang sudah saya lepas” demikian obrolan itu kepada media ini

Alasan Musleh mundur atau pensiun karena ia akan fokus di organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) karena banyak hal yang bakal dibenahi demi kemajuan umat. Saat ini ia dipercaya menjadi ketua tanfidziyah NU Balikpapan. Padahal, namanya juga berpotensi jadi ketua MUI
Ketika pencalonan ketua MUI periode sebelumnya, dari berbagai sumber para ulama, posisi Musleh pun diperhitungkan. Saat itu, suara NU bulat mengusungnya. Hanya saja, suara kolektif solid itu di perjalanan berpindah ke figur lain. Figur ulama KH Muhlasin saat itu jadi mediator agar suara utuh sebab sempat terjadi dua pandangan

Sementara Bustomi kendati tak tersirat, tetapi ia pun berharap untuk menakhodai MUI Balikpapan. Apalagi sekarang Bustomi sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua MUI Balikpapan. Jika floor setuju dan ada ‘restu kiyai langitan’ Balikpapan, maka tinggal aklamasi
Hanya, sejumlah sumber internal MUI menyebut, nama Bustomi mengalami resistensi. Seolah mendapat penolakan dan tak diketahui apa latar belakang penolakan itu. Sebagian menyebut, ia sudah sibuk sebagai ketua Baznas. Pekerjaannya pun sudah seabrek dan sebaiknya fokus di situ, khawatir ketika di MUI justru tidak efektif
Selain nama Jailani dan Bustomi, nama KH Muhlasin dan H Achmad Rosyidi tiba-tiba menguat dan diharapkan bisa membuat suasana musda bisa lebih kompetitif. Walaupun, hampir mayoritas menghendaki aklamasi yang ditetapkan floor dari sebagian nama hanya satu nama diusulkan formatur
Hanya, Muhlasin dinilai figur yang teduh dan memiliki sifat kehati-hatian (wa’ra) sepertinya enggan berkompetisi di struktur MUI. Ia justru setuju MUI dipimpin KH Jailani Mawardi karena disebut ulama istiqomah, kharismatik dan memiliki keilmuan

Beda dengan Ahmad Rosyidi. Ini ulama inovatif tetapi juga tugasnya sibuk dakwah. Apalagi, ia pun ada di kepengurusan inti sebagai Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kendati, itu tak masalah sebab dua fungsi berbeda. Satu bimbingan kepada umat Islam dan satunya dialog dan kerukunan antarumat.
Musda yang bakal digelar 14 November 2026 mendatang menarik untuk disimak. Tim formatur harus jeli menempatkan posisi sekretaris umum yang bakal ditinggal Musleh Umar. Karena, posisi sekum itu motor penggerak organisasi yang memastikan kebijakan, fatwa dan program kerja untuk umat
“Manajemen dakwah dan literasi digital itu jadi instrumen dakwah utama di era modernisasi untuk sinergi ulama dan umara. Jangan lagi konvensional. Apalagi di MUI sekarang banyak orang-orang bergelar pendidikan formal yang berlatarbelakang dakwah serta manajemen,” kata sejumlah pihak memberi pesan moral ke MUI Balikpapan mendatang dalam menyusun kepengurusan. (gt)












