TINTAKALTIM.COM-Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi wajib memunculkan rasa simpati dan empati mendalam di sekitar kita. Karena, secara fisik setiap hari sudah tidak makan dan minum. Itu seolah merasakan penderitaan yang dialami orang kurang mampu

“Cara berpikirnya, lihat sekitar kita. Ada tidak yang perlu bantuan. Rasa simpati dan empati itu harus muncul. Begitulah esensi dari puasa yang diajarkan agama,” kata Ustaz H Aulia Rahman Lc MH dalam ceramah menyambut (tarhib) Ramadan bertema Fikih Ramadan dan Etika Sosial Keumatan di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Centre (BIC), Minggu (14/2/2026)

Menjelang H-4 Puasa Ramadan, Aulia lebih menekankan agar keyakinan untuk berpuasa yang diawali ibadah sunah seperti tarawih, umat Islam harus bersabar menunggu keputusan pemerintah.
“Sidang isbat (rapat menentukan awal Ramadan), baru digelar Selasa (17/2/2026), sehingga keputusannya menunggu hal itu,” ujarnya

Aulia meminta, jangan berasumsi. Puasa Ramadan itu keyakinan. Sehingga, harus pasti waktunya. Karena, ini rangkaian ibadah sebulan yang ada kaitannya dengan penetapan 1 Syawal
Secara fikih, Aulia juga menceritakan belajar mendalami ilmu shaum atau puasa, hendaknya sebelum Ramadan. Sehingga, tidak salah dalam implementasinya. Misalnya, kaitan membayar fidyah, hal sunah dan wajib puasa serta lainnya.

Ia mencontohkan, ada seseorang membayar fidyah, setelah ditanya untuk membayar puasa karena tak mampu berpuasa sebab bekerja berat. Padahal, fisiknya masih kuat dan pekerjaannya tak masuk syarat berat
“Kalau pekerja berat dan dikhawatirkan membahayakan fisiknya, boleh tak berpuasa. Tapi, cara berpikirnya salah. Sudah niat tak puasa duluan karena memang ingin tak puasa,” kata Aulia yang juga pembina mualaf (orang yang pindah agama masuk Islam) di Balikpapan ini

Sebenarnya kata Aulia, masyaqqah (kesulitan atau berat) atau risiko kesehatan fatal, mereka diperbolehkan berbuka (membatalkan puasa) dan wajib menggantinya (qadha) di hari lain. Karena, hal itu masuk dalam rukhshah (keringanan) untuk menghindari bahaya
Hanya caranya kata Aulia, wajib niat malam hari, dan tidak boleh berniat tak puasa sejak pagi. Makan sahur saja, niat puasa. Jika di tengah pekerjaan terasa berat dan membahayakan kesehatan, boleh berbuka

Ia menukil ayat 184 Surah Al-Baqarah, Allah memberikan keringan bagi orang sakit atau dalam perjalanan (safar) untuk menggantinya (qadha) di hari lain. Dan, ayat ini juga mengatur kewajiban fidyah bagi yang berat berpuasa
“Kalau membayar fidyah tak puasa itu ada parameternya, sakit permanen dan kerja memberatkan. Hanya, niat dan jalani dulu puasanya. Baru jika tidak kuat dan berbahaya boleh membatalkan. Jangan niat tidak puasa duluan,” ujarnya berkali-kali
EMPATI
Dalam tausyiah-nya yang lain, Aulia mencotohkan jika saat Ramadan banyak orang memberi takjil berbuka. Tetapi, terkadang tak menggunakan konstruksi berpikir bahwa sahur, apakah tetangga punya makanan untuk dimakan

“Perhatikan sekitar kita seperti tetangga. Jangan ‘berpikir jauh’ atau membantu orang-orang jauh dulu. Momen Ramadan itu saatnya empati atau peka terhadap situasi sekitar,” jelas Aulia

Memang katanya, ada hadist Rasulullah yang menyebut siapapun yang memberi makan orang yang berpuasa, mendapatkan pahala seperti orang yang puasa itu tanpa dikurangi.
“Nah yang kebanyakan memberi makan itu kan saat ifthar atau buka puasa. Padahal, sahur juga dimaknai orang berpuasa. Sekali-kali jalan dini hari lihat apakah saudara kita bisa makan sahur,” urai Ustaz Aulia
Tetapi secara umum, Ustaz Aulia meminta agar selama Ramadan jamaah berbuat baik. Karena, banyak kebaikan akan dilipatgandakan.

Dan, saat akan mengakhiri tausyiah, Ustaz Aulia menanyakan kepada jamaah apakah ada pertanyaan atas ceramahnya? Jamaah diam. Mungkin karena posisi Ustaz Aulia dan jamaah jauh, dan tidak ada mic wireless atau tanpa kabel
“Nggak mungkin toh, kita tanya teriak-teriak. Harusnya ada mic, jadi langsung tanya,” kata jamaah yang akhirnya semua sepakat diam.

Tetapi, usai tarhib Ramadan, seluruh jamaah keluar menuju menu sarapan pagi yang sudah disiapkan panitia. Ada nasi kuning dan lontong sayur.
“Ini makan minggu terakhir. Subuh minggu depan tak ada lagi karena puasa. Alhamdulillah,” kata Ketua Persatuan Islam Tionghoa (PITI) Balikpapan Hendra Winardi yang ikut menikmati sarapan itu. (gt)













