TINTAKALTIM.COM-Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud SE ME, ia sosok pejabat yang santai. Suka menurunkan stress lewat guyonan-guyonan kecil tapi segar. Karena, itu yang dianggap bisa mengurangi ‘tensi kesibukannya’.
Kalau seorang youtuber sering membuat konten menggunakan gaya prank. Tujuannya, untuk meningkatkan viewer, kadang menghilangkan sisi manusiawinya.

Lain hal sang walikota, ia sering membuat semacam humor satir atau orang sering menyebutnya light joke atau humor terang-terangan tapi terasa di hati.
Humor walikota jauh dari olok-olok atau menabrak jalur hati untuk tersinggung. Ia ingin menghibur tetapi juga ‘pukulan hati’. Misalnya, saat bermain hiburan dom (dengan dicatat hasilnya).

Jika walikota tertinggal ungkapannya: Jangan takabur, laju belum tentu mendahului. Hati, rasanya ‘maknyus’ yang dengar. Alhasil, itu jadi fakta, walikota berbalik unggul.
Ungkapan itu jadi joke lainnya. Jika ada yang bicara agak takabur atau tinggi, lalu terlontar dari temannya: “Eh ingat kata walikota, laju belum tentu mendahului”.

Walikota pernah mengungkapkan pada sahabatnya. Kebetulan mereka orang-orang ragam kapasitas. Ada ustaz, pengusaha, pedagang, jurnalis, komisaris dan pekerja sosial. Mereka berkumpul, tiba-tiba membentuk group Pasukan NATO. Diawali dari ADC walikota Aan mem-branding group itu.
Entah, Aan bermaksud apa. Tapi, NATO sejatinya fakta pertahanan ala militer. Maklum, Aan seorang TNI. Tapi, ia ingin mengklaim bahwa ‘orang-orang group NATO’ itu memang siap bertahan, menyerang dan terkadang juga menjalani hidup konyol karena kelakuannya.

“Saya senang dengan orang-orang NATO itu. Humornya tinggi, tetapi terkadang juga aneh-aneh. Tapi, itu yang buat hidup jadi rileks. Tak serius tapi kalau kerja serius,” kata walikota suatu ketika.

Meski sejatinya, dengan gaya humornya walikota menyebut NATO adalah No Action Tinro Only alias tak ada kerjanya tidur saja.
Kalau walikota canda, pasti lainnya tertawa. Itu juga yang lahir dari cerita mengapa ia menjadi driver sahabatnya Junaidi Latif saat salat jamaah Subuh di Islamic Centre, Senin (3/3). “Luar biasa Pak Jun ya teman-teman. Disopiri walikota,” kelakar walikota.

Saya menimpali: Kok Pak Jun –panggilan akrab Junaidi Latif—tak jadi sopir walikota? Jawaban Jun singkat. “Nggak mau Pak wali”. Saya bergumam: Oh mungkin Pak Jun hanya bisa membawa mobil-mobil mewah seperti Lexus milik walikota. Walaupun kita jarang melihatnya membawa mobil.
Itu juga jawaban humor. Lalu walikota ditanya, mengapa Pak Jun tak sopiri Pak Wali. “Sebenarnya, saya tak masalah. Walaupun senang nyetir sendiri. Tapi, kan bisa membuat jalan baru”. Ungkapan walikota jadi gelak-tawa anggota NATO. Karena, bisa jadi mobil terjungkal dan isinya. Konyol!
Di NATO itu ada Andi Welly, H Achmad Kamaluddin, Ustaz Mustaqim, Rosman Abdullah, Ustaz Rosyidi, Michael, Syarifuddin, Junaidi Latif dan penulis. Mereka punya karakter, setiap orang bisa dibentuk pandai melucu (sesuai dengan gayanya)

Andi Welly: Kalaupun ngumpul, pemikirannya eksentrik. Cara menyusun story biasa tapi konyol. Karena, dalam kaidah joke, belum disebut joke kalau orang lain tak setuju itu lucu.
Andi Welly itu di group NATO terkenal gaya bicaranya punya intonasi. Cerita biasa jadi lucu. Karena, mendeliver atau mengirimnya gunakan cara dan ungkapan semaunya. Misalnya: “Bocor soal”. Action today” dan lainnya tapi jadi bahasa tutur NATO.
Lain lagi H Kamal. Ini jika cerita intonasinya ‘tinggi’ tapi lucu. Dia pedagang tapi sosok yang taat. Jangan paksa ia berbuka jika puasa sunah Senin-Kamis. “Saya sudah izin ke Pak wali, kalau lagi puasa, jangan disuruh buka. Gpp tuh”. Lalu Ustaz Mustaqim simple menimpali: “Biarkan maunya dia. Nanti lapar juga,” kelakar Mustaqim.
Beda dengan Syarifuddin. Anggota asal Sulsel Barru ini, aksen Makassarnya masih kental. Sehingga, jika membuat joke tentu masih ada huruf Ng-nya.
“Main jadi Maing”. Atau ungkapan: Cepa’ ko (cepat karena buru-buru). Itulah, aksen tetapi figur ini kalau cerita lucu. Asal jangan sampai marah. Gelas di meja diam saja bisa pecah. Termasuk, orangnya santai tapi lucu juga dan logat Makassarnya kental, Rosman Abdullah.
Dan, yang sering di-bully adalah Michael. Sebab, dia selalu bicara serius. Ceritanya tak bernada humor, tapi body dan cara ceritanya yang membuat lucu.

Jika Ustaz Rosyidi, selalu santun. Humornya masih bermakna tuntunan. Tapi, juga kadang jadi tontonan. Ia mulai terkontaminasi dengan gaya bergaulnya NATO. Awalnya, bingung dengan ‘gaya bicara’ orang-orang NATO. Tapi, ia sadar semuanya baik.
“Ternyata ini jadi Universitas NATO, nggak ada mata kuliahnya tapi hasil karakternya dan kerjanya ada,” kata Rosyidi beristilah.
Group NATO ini sering membersamai walikota. Saat pelantikan di Istana Kepresidenan pun mereka ‘diboyong’ ke Jakarta lewat event organizer (EO) H Kamal.

Di sini, cerita lucu banyak terjadi. Sebab, ada anggota NATO yang sesat dari Monas ke Patung Kuda, hingga mencuci tangan bukan di wastafel tetapi kran untuk lombok (chili sauce). Masih beruntung, tak diusap ke muka.
Ustaz Mustaqimlah yang cerita ini. Ia dikenal, anggota yang jika cerita bercampur tawa. Sehingga, belum jelas ceritanya tapi lucu duluan. Itulah NATO, ada yang menyebut ini group beleng-beleng, istilah ungkapan Ustaz Das’ad Latif.

Beleng-beleng itu tak melulu jelek. Ini diksi yang katanya berasal dari bahasa Inggris blank alias kosong, pikiran melayang.
Tapi, orang Makassar menyebutnya beleng-beleng. Dan, ada ungkapan Makassar juga: Masih mauko yang katanya memberi efek jera. Dan, itu sering diungkapkan Junaidi Latif yang karakternya serius dan sering membuat aktivitas anggota NATO terhibur karena kelucuannya.
Kalau tersinggung di group NATO kata Ustaz Mustaqim: Mauko makan coto besok. Dan, group ini selalu diajarkan Walikota untuk salat termasuk salat berjamaah. Selamat menjalankan Puasa Ramadan 2025. (gt)













