TINTAKALTIM.COM-Nobar di mana-mana. Terlihat, komunitas fans Spanyol (Espana Community) mendominasi termasuk di Terminal Batu Ampar saat digelar nobar final mempertemukan laga Spanyol vs Argentina, Senin (20/7/2026) yang kick off-nya pukul 03.00 Wita

Di sejumlah tempat, pendukung Spanyol mendominasi, karena mereka melihat squad La Roja di final banyak bintang-bintang muda jebolan atau pilar club Bercelona khususnya sang striker Lamine Yamal yang berusia 19 tahun.

Media ini mencatat nobar penuh sesak. Seperti di halaman Polresta Balikpapan, pelataran Masjid Balikpapan Islamic Centre (BIC), Pasar Segar, depan rumah jabatan Ketua DPRD Balikpapan dan café-café.
Laga final itu Spanyol juara menaklukkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu lewat gol tunggal dicetak Ferran Torres memanfaatkan bola muntah dari sundulan Nico Williams di menit 105 yang diawali umpan silang Pedro Porro.

“Spanyol ini juara jika melihat gempuran yang dilakukan ke pertahanan dan gawang Argentina,” kata Kepala Seksi Lalu-Lintas BPTD Kaltim Bagus Kuncoro Edi yang mendukung Argentina tetapi mengakui corak permainan Spanyol yang nobar bersama partner-nya sesama pendukung Argentina Heriyawan setelah terjadinya gol Spanyol
Saat babak kedua berlangsung, Pengawas Satuan Pelayanan Terminal Batu Ampar Heriyawan datang bersama family-nya anak plus istri yang juga pendukung Argentina

Ia begitu tegang melihat daya dobrak tim Spanyol ketika menyaksikan nobar dari kursi bagian belakang. Saat gol terjadi, Heriyawan masuk dalam ruangan. Di situlah euforia pendukung Spanyol bergemuruh. “Gol Spanyol, memimpin 1-0,” katanya kepada media ini
Tetapi, saat Heriyawan berada di dekat pendukung Spanyol yang tak lain stafnya seperti Aris, Kadek, Murdiyadi dan Saddam, tak ada euforia dipertontonkan.

Sebab mereka sadar, bosnya dan keluarga pendukung Argentina. Itulah karakter sportif dan respek serta loyalitas dilakukan staf ke pimpinannya dengan menempatkan hirarki dalam nobar
Sepertinya, stafnya yang mendukung Spanyol itu kurang sreg kalau sampai meluapkan kegembiraan berlebihan, sementara bosnya harus tertinggal 1-0. Sehingga, nobar para staf itu terlihat calm-calm saja
KESULITAN
Sejak awal, Spanyol mengambil inisiatif penyerangan dan menekan pertahanan Argentina. Di menit kelima, Lamine Yamal mendapat bola dan langsung menyambarnya di depan gawang, tapi bisa diamankan Emiliano Martines yang tampil gemilang

Laga final itu, Argentina terlihat kesulitan membangun serangan karena tekanan Spanyol. Pertandingan berjalan lebih dari sejam belum melepaskan satu upaya keras (attempts). Lionel Messi dan rekannya kesulitan masuk ke sepertiga akhir dan membuat peluang, apalagi Argentina bermain 10 orang di injury time setelah Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua (merah). Saat itu belum ada gol tercipta hingga 90 menit laga berakhir dan ditambah extra time 2×15 menit
NANGIS
Kegagalan mempertahankan gelar juara dunia membuat sang megabintang Lionel Messi tak dapat membendung air matanya. Tim Argentina harus merelakan trofi juara ke Spanyol lewat final yang digelar di New Jersey Stadium yang membuat Spanyol meraih trofi kedua

Media ini menganalisa, Messi menangis karena dia harus mengakhiri kariernya di sepakbola. Juga, tidak mampu menyatukan trofi menjadi juara berturut-turut dan gagal meraih sepatu emas (golden boot) kalah sama Mbappe yang mencetak 10 gol
Pemain berjuluk La Pulga itu, tercatat membukukan delapan gol dan empat assist selama kompetisi berlangsung. Tapi, performa impresif Argentina pada laga pamungkas diredam Spanyol dan terlihat Messi sulit mengembangkan permainan sejak menit awal

Kekalahan itu, dijadikan netizen ledekan seperti lagu Don’t Cry For Me Argentina (jangan menangis untukku Argentina). Tentu, itu plesetan ironis untuk menyindir kegagalan Argentina mempertahankan gelar juara.
Sementara, di sisi lain sorak sorai membelah angkasa dan air mata kebahagiaan mengalir tanpa dapat dibendung dialami jutaan fans Spanyol. Padahal lagu yang dipopulerkan Madonna itu menceritakan kisah ibu negara Argentina agar warganya tidak menangis atas kepergiannya.
SUPERTEAM
Media ini ikut nobar di Terminal Batu Ampar. Dari awal mengamati big screen yang memutar laga final itu. Ada pelajaran berharga dalam teori kepemimpinan (leadership). Seolah itulah cermin yang indah. Ada keberanian, ketulusan, kedisplinan, pengorbanan berpadu.

Ada kerjasama mengalahkan ego. Dan, di situlah keberhasilan tidak pernah melihat usia. Yamien Yamal muda berusia 19 tahun tetap membangun superteam dengan rekannya yang usianya lebih tua. Menariknya, entah ini titah atau ‘titisan legacy’ Messi saat memandikan Yamal. Sehingga, permainan Yamal indah seperti Messi. Bahkan, di Piala Dunia ini Yamal jadi ‘simbol World Cup’, karena usia 19 tahun, nomor punggung 19 dan final digelar tanggal 19 (waktu Amerika)

Bola dan ego itu pernah terlihat saat laga Inggris vs Norwegia. Itu jadi perbincangan hangat. Saat itu, situasi Alexander Sorloth memilih mengeksekusi bola sendiri, meski Erling Haaland berada di posisi lebih bebas. Di situlah tuduhan egois muncul dari publik terhadap striker Atletico Madrid itu yang akhirnya Norwegia kalah dengan Inggris.

Pelajaran kepemimpinan lainnya, pentingnya kolektivitas dan tidak ketergantungan pada satu orang. Spanyol didorong sistem yang terstruktur, sementara Argentina bertumpu pada seorang Lionel Messi. Sehingga, ketahanan juangnya pudar. Kendati, Argentina juga tim yang sangat kuat.

Laga final di Terminal Batu Ampar itu berjalan penuh kekeluargaan dan jadi ajang silaturahmi. Kendati Argentina kalah, tetapi Heriyawan tetap tersenyum sebab ia melihat bagaimana penonton memenuhi terminal dan menikmati suguhan air jahe hangat, kopi dan bubur kacang ijo (burjo) serta camilan (snack) keripik
“Semoga kita semua sehat dan panjang umur bertemu pada 2030 mendatang karena World Cup digelar di enam negara Spanyol, Portugal dan Maroko untuk pertandingan utama dan Argentina, Uruguay dan Paraguay perayaan 100 tahun World Cup. Selamat Spanyol,” pungkas Heriyawan memberi spirit fans Spanyol.(gt)













