TINTAKALTIM.COM-Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Balikpapan H Herry Fathamsyah menilai, agama Islam itu tidak radikal. Justru, hadir di tengah masyarakat sebagai rahmatan lil alamin yang dibawa Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Justru, di era digital yang perlu diwaspadai masyarakat adalah penyebaran paham radikal via sosmed

“Radikalisme dan intoleransi itu bukan spirit ajaran Islam. Jangan pernah percaya dengan framing yang menyebut bahwa ajaran Islam itu keras dan radikal,” kata Herry di sela mengikuti acara Penanggulangan Radikalisme, Terorisme & Intoleransi yang digagas Korbinmas Baharkam Polri di Gedung Rupatama Polda Kaltim, belum lama ini.
Acara itu menghadirkan narasumber dari Kemenag Provinsi Kaltim H Sabransyah dan mantan narapidana teroris (napiter) Fazri Pahlawan alias Abu Gee yang sebelumnya sebagai Amir Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi berafiliasi dengan ISIS

Fajri ditangkap Densus 88 Antiteror pada 2019 dan telah mendekam di penjara selama 4,5 tahun yang telah berikrar setia pada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi secara penuh
Herry Fatamsyah memenuhi undangan Korbinmas Baharkam Polri kerjasama Ditbinmas Polda Kaltim bersama Ustaz Hamdani Sodiq SPd. Menyimak seluruh rangkaian acara dan paparan kedua narsum.

Menurut Herry, kehadirannya juga untuk mencermati setiap paparan Fajri Pahlawan karena dulu gerakannya memanfaatkan media sosial secara masif untuk menyebarkan paham radikalisme
Dari pengakuan napiter Fajri itu, umat sekarang harus waspada kata Herry, karena kelompok Abu Zee bergerak secara terstruktur di dunia maya. Mereka mengelola puluhan akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Telegram dan WhatsApp (WA) untuk menyebarkan propaganda konten radikal hingga video tutorial militer
Disebutkan Herry, meskipun sempat berhasil membangun jaringan radikal yang kuat di Bekasi, perjalanan ideologi Fazri Pahlawan telah berbalik dan ‘mencium bendera merah putih’ saat ikrar NKRI

“LDII Balikpapan sudah secara resmi dan konsisten menyatakan menolak keras segala bentuk paham radikalisme, terorisme dan intoleransi di Kaltim bahkan secara umum di Indonesia,” jelas Herry
Karena katanya, LDII itu organisasi kemasyarakatan Islam yang basisnya Pancasila. Bahkan, dalam menyampaikan dakwahnya LDII aktif bekerjasama dengan lembaga negara untuk membentengi warganya dari pengaruh gerakan radikal
“Kaitan sosmed pun, para santri di LDII memanfaatkannya untuk dakwah yang santun dan penuh edukatif. Karena, para ustaz-ustazah yang mengajar di LDII semua mengacu pada orientasi pembinaan karakter umat,” jelas Herry
Dikatakannya, dakwah yang disampaikan LDII Balikpapan bernuansa sejuk. Sebab, uraiannya pada bahasan hadist Rasulullah SAW dan Alquran.

“Justru LDII juga mendukung program TNI-Polri dan kejaksaan agar terus memberi edukasi langsung mengenai bahaya paham yang mudah mengkafir-kafirkan orang (takfiri) sebab itu sudah masuk gerakan teror,” jelas Herry
Sementara itu Ustaz Hamdani Sidiq SPd menyebutkan, di LDII Balikpapan penguatan wawasan kebangsaan untuk pemuda selalu dilakukan. Santri dibekali pelatihan wawasan kebangsaan dan bela negara.
“Kami semua di LDII jika berdakwah selalu santun. Sekaligus edukasi literasi digital dan bijak bermedia sosial selalu dilakukan. Santri boleh berpikir kritis tetapi tetap para koridor saring sebelum sharing,” tambah Hamdani yang biasa disapa Ustaz Dani ini
Menurutnya, bahan ajar baik hadist dan Alquran untuk santri lebih menekankan pada pola pembahasan pembentukan 29 karakter. Sehingga, cara-cara kekerasan tak pernah diajarkan dalam LDII.
“Kami hadir di acara yang digelar Korbinmas Baharkam Polri dan Ditbinmas Polda Kaltim untuk menyerap referensi keilmuwan yang bisa kita sharing ke jamaah atau santri di LDII,” pungkas Ustaz Dani. (gt)











