TINTAKALTIM.COM-Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kaltim Renhard Ronald S SiT MT mengatakan, sudah saatnya seluruh Perusahaan Otobus (PO) di Kaltim menggunakan alat pembayaran non-tunai (cashless), karena lebih mudah dan mengurangi risiko tidak dibukukannya transaksi yang terjadi secara harian

“Kami tidak ada kepentingan (interest) terhadap sisi finansial atau profit. Sosialisasi cashless ini bertujuan untuk transformasi digital seluruh PO yang mengoperasikan bus di Kaltim. Karena, eranya sudah digital dan menjawab tuntutan masyarakat yang terbiasa dengan cashless,” kata Renhard saat membuka acara Sosialisasi Transformasi Digitalisasi Pembayaran Tiket Transportasi Umum dalam Penerapan Sistem Non-Tunai (Cashless) di Auditorium Otoritas Bandara (Otban) Wilayah VII Balikpapan, Rabu (17/6/2026)

Acara dihadiri Kadishub Kaltim diwakili sekretaris Yuki Subekti, Deputy Kepala Perwakilan BI Balikpapan Wahyu Setyoko, Kacab PT Jasa Raharja Kaltim, Kacab PT Jasa Raharja Putra, Kasi Sarana Hendra Ayi Sonica, pimpinan Himpunan Bank Negara (Himbara) BRI (Dimas), BNI (Sukiran) dan Mandiri (Bima Sakti) yang juga jadi narsum, pimpinan PO Bus dan undangan lainnya.

Renhard sebagai inisiator acara lebih banyak sharing kaitan menata perjalanan bus baik Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) maupun Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) agar dapat memonitor data produksi dan load factor jika lewat transaksi cashless

“Di Balikpapan ada yang naik dan turun bus via Terminal Batu Ampar atau dari Terminal Samarinda Seberang (Sabang) di Samarinda. Tentu, masih ada yang ngetem di luar terminal sehingga untuk menghitung tingkat okupansi secara real-time tidak memungkinkan kalau transaksi tunai,” urai Renhard

Dengan cashless, maka kata Renhard, setiap transaksi tercatat oleh PO saat terjadi pergerakan bus, sehingga sistem itu bisa didapatkan perbandingan jumlah total penumpang yang terekam dengan kapasitas maksimal armada
“Ini efektif dan efisien serta transparan transaksinya. Bisa diketahui rekapitulasi pendapatan dan jumlah nominal harian. Misalnya, kalau manual bisa saja hanya 5 penumpang dari terminal. Ternyata, jika pola digital ditotal bisa mendapatkan 30 penumpang. Inilah tujuan pemberlakuan tiket cashless itu,” jelas Renhard

Renhard memberi spirit bagi seluruh PO bus yang hadir, bahwa sesuai dengan regulasi Peraturan Menteri Perhubungan (PM) Nomor 117 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Tidak Dalam Trayek di Pasal 14 disebutkan, rencana kebutuhan angkutan antar jemput (angkutan orang antarkota dengan asal tujuan perjalanan tetap dengan lintasan tidak tetap dan sifat pelayannya dari pintu ke pintu), tidak melebihi 20 persen
“Jadi masih ada kebutuhan 80 persen untuk angkutan trayek tetap dengan asal dan tujuan perjalanan yang sama seperti bus yang dioperasikan PO se-Kaltim. Nggak perlu khawatir karena peluangnya besar dan dengan cashless dijadikan pembenahan laporan keuangan juga,” jelas Renhard.

Renhard juga sharing sebagai tolok ukur (benchmark) operasional bus oleh PO di lintasan trayek daerah Dumai di Provinsi Riau saat dirinya bertugas di daerah itu. Di sana, sudah menggunakan cashless dan busnya bersih, ada CCTV sehingga menunjang keselamatan dan keamanan penumpang.
“Mereka para PO bisa menciptakan efisiensi operasional yang tinggi, keamanan yang lebih terjamin karena meminimalkan risiko kehilangan dan tindak kejahatan. Dan, pencatatan keuangan perusahaan yang otomatis, akurat dan transparan,” katanya
Selain itu, transaksi digital jauh lebih cepat dibandingkan menghitung uang tunai dan mencari kembalian, sehingga jadwal perjalanan bus lebih tepat waktu

“Intinya BPTD Kaltim ingin menolong operasional seluruh bus yang dijalankan PO. Sekaligus dapat data jumlah penumpang dan pendapatan harian real time untuk melihat load factor demi kepentingan untuk analisa program. Selain itu, PO juga lebih mudah menentukan strategi bisnis perusahaan ke depan lebih baik,” ujar Renhard.
Yang paling penting katanya, penumpang lebih menyukai kemudahan karena tidak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar atau mengkhawatirkan uang kembalian atau angsulan
“Terimakasih seluruh perbankan seperti BRI, BNI dan Mandiri dan Bank Indonesia (BI) yang sudah ikut mendukung mensosialisasikan transaksi pembayaran cashless yang modern. Semoga, bisa berjalan lebih baik,” kata Renhard

Sementara itu Yuki Subekti sangat mendukung gerakan non-tunai dalam transaksi operasinal bus AKDP dan AKAP. Karena, Dishub Kaltim bisa mendapatkan data load factor secara real time.
“Data load factor itu bisa dijadikan dukungan program Dishub Kaltim menganalisa kebutuhan infrastruktur dan masuk dalam perencanaan pembahasan apa saja untuk mendukung transportasi umum di Kaltim,” jelas Yuki. (gt)












