TINTAKALTIM.COM-Pasca Ramadan, momen krusial merajut persaudaraan (ukhuwah) tak boleh hilang. Perlu aksi nyata lewat interaksi dengan sesama. Menjalankannya, ada kata mutiara ‘4-T’

Wakil Ketua Bidang Imarah (kemakmuran masjid) Masjid Balikpapan Islamic Centre (BIC), Dr Sartono menyampaikan 4-T itu adalah Ta’aruf, Tafahum, Ta’awun dan Takaful yang harus dibudayakan sebagai filter agar tak muncul konflik hati

“Ramadan baru berakhir, hati harus bersih dan silaturahmi perlu terus dirajut untuk bersatu dan saling menguatkan,” kata Dr Sartono saat tausyiah di acara Halal Bihalal yang digelar Badan Pengelola (BP) Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Centre (BIC) di ruangan masjid, Jumat (3/4/2026)

Halal Bihalal atau silaturahmi itu, mengundang 59 ketua-ketua RT lingkup Kelurahan Gunung Bahagia yang masuk ‘Ring 1’ masjid, cleaning service, security, pengurus BIC. Dihadiri juga Imam Besar Masjid BIC KH Jailani Mawardi, Ketua Harian H Muhammad Andi Yusri, imam rawatib, muazin, Kabag Kesra Arif Fadhillah, Sekretaris Dewan (Sekwan) M Arfi, Ustaz Miftah, Ustaz Sarbini, Ibu-ibu Pejuang Subuh dan undangan lainnya

Ustaz Sartono membedah satu-satu Empat Kata Mutiara itu. Misalnya, Ta’aruf (saling mengenal) bukan sekadar mengetahui nama, tetapi mengenal lebih dalam termasuk sifat sesama muslim, agar ikatan hati makin kuat

Terkadang, sesama muslim kata Sartono, saling berprasangka kurang baik. “Ada jamaah menilai, kurang suka dengan imam. Ternyata, ia tak kenal sang imam. Ini karena kurang ta’aruf secara detail. Lucu toh, tak kenal tapi menilai. Saat disuruh jadi imam, nggak paham dan tenggorokannya sakit,” kelakar Sartono disambut tawa undangan yang hadir

Ta’aruf katanya, diperlukan sebelum menilai. Sebab, jangan sampai seseorang ngoceh dan ngedumel dengan seseorang tetapi tidak mengenal sosok yang dinilai
Berikut Tafahum (saling memahami). Jika sudah paham, maka mudah menjatuhkan sikap dan tidak ‘asal bicara’. Masjid Balikpapan Islamic Centre perlu lebih inklusif (bersikap terbuka).

Pengajian bisa menghadirkan ormas Islam lain untuk memahami tentang kaidah keilmuan. Sehingga, tidak menilai atau men-judge aliran tertentu
“Keyakinan silakan. Diserahkan masing-masing. Tujuan tafahum itu untuk mengetahui dan memahami saja agar tak ada penilaian paling benar,” kata Sartono

Ia mencontohkan, Prof DR Hamka (Buya Hamka) dikenal ulama moderat juga mengamalkan doa qunut saat salat Subuh sekaligus menghargai perbedaan pendapat masalah furu’iyah (cabang fiqih), meskipun ia tokoh Muhammadiyah
“Tidak kaku, karena menekankan pentingnya saling menghargai dan tidak mempermasalahkan perbedaan amalan tersebut. Karena, memahami tadi,” cerita Sartono

Tafahum lainnya contoh Sartono, Imam Sya’fii pernah tidak membaca qunut saat salat Subuh sebagai bentuk penghormatan terhadap mahzab Hanafi yang tidak mensunahkan qunut. Kendati Mahzab Syafi’I qunut dianggap penting
Sartono yang motivator bidang parenting ini, membuat joke-joke segar saat tausyiah. Sehingga, halal bihalal itu berjalan penuh kekeluargaan dan segar suasananya. Ia sesekali memberi contoh dan menyinggung jamaah

Ceramah singkat Sartono makin memberi khazanah keilmuwan. Ia menyinggung ta’awun (tolong-menolong). Itu perintah Alquran di Surah Al-Maidah. “Wa ta’awanu alal birri wat taqwa (tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa),” ujar Sartono mengutip makna ta’awun itu
Termasuk, yang membantu menyediakan bahan berbuka puasa (ifthar) dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan semua yang terlibat selama Ramadan. “Itu jadi amal jariyah dan masuk surga. Tandatangan Pak Kabag Kesra juga bisa memuluskan surga. Petugas kesektariatan Achmad Idris pun demikian. Asalkan ikhlas saja,” lagi-lagi Sartono berkelakar.

Terakhir, takaful (saling membagi dan melindungi). Umat Islam itu, harus saling melindungi dan menanggung kebersamaan. Ini wujud empati, sehingga harus berbagi kebahagiaan. Demikian juga bekerja. “Takaful itu dari kata takafala, yatakafulu dan jadi takaful. Ini implementasi nilai tolong-menolong dan perlindungan bersama,” jelas Sartono
Ia memberi apresiasi Badan Pengelola Masjid BIC, petugas cleaning service dari Unit Pelaksana Teknis (UPT). “Kalau tak ada badan pengelola (pengurus masjid) dan UPT khususnya cleaning service membersihkan masjid, maka karpet tak wangi dan bersih. Ini bisa masuk surga. Asalkan ikhlas,” kelakar Sartono lagi
H Andi Muhammad Yusri dalam acara itu menyampaikan terimakasih kepada seluruh jamaah dan pengurus masjid yang ikut memakmurkan masjid khususnya saat Ramadan 1447 H. “Mohon maaf jika masih ada kekurangan, kami akan terus melakukan evaluasi. Dan, silakan memberikan masukan yang membangun (konstruktif) demi baiknya pelayanan Masjid BIC,” kata Andi Yusri

Andi Yusri juga memberi apresiasi petugas security dan clening service dari UPT, dan diharapkan terus melakukan kolaborasi. “Mohon maaf lahir batin. Secara pribadi dan sebagai ketua harian badan pengelola, kami banyak kekurangan. Semoga, kemakmuran Masjid BIC juga bisa dibantu ketua-ketua RT di lingkup Kelurahan Gunung Bahagia yang selama ini menunjukkan kerjasama yang baik,” pungkas Andi Yusri. (gt)













