TINTAKALTIM.COM-Karakter itu bukan sekadar dibentuk. Tetapi, harus berasal dari diri sendiri. Bukan karena lewat motivator, bahkan mengajarkan pun tak ruwet-ruwet. Tetapi, anak-anak bisa sadar bahwa dia harus jadi anak cerdas, anak yang memiliki masa depan cerah dan punya nilai kesantunan di sekolah dan di mana saja sehingga terus diedukasi lewat program.

Sekolah membentuk karakter. Itu wujud program utama SMPN 1 Balikpapan yang lokasinya di kawasan kota pelajar Gunung Pasir. Ternyata, tempat ini sudah seperti ‘Kawah Candradimuka’ sebagai simbol transformasi akhlak digembleng menjadi baik dan berkarakter. Lalu, pendidikan karakter jadi brand sekolah yang lulusannya selalu sukses karena relevan dengan etos kerja dan kemampuan
Leader-nya atau kepala sekolah (kepsek) H Arintoko MPd, hanya ingin melihat SMPN 1 anak-anaknya harus mendapatkan wawasan berkarakter. Menjauhi hal negatif dengan terus menghasilkan ide positif plus dampaknya serta berpikir kritis dalam takaran demokratis. Kendati, sekolah ini sadar karakter dicetak bukan full di sekolah, peran orangtua, lingkungan, kebiasaan dan lainnya pun mempengaruhi

Sinergi dan kolaborasi guru, pihak sekolah dan orangtua itu cara jitu mencetak karakter bagi Arintoko. Karena, jika orangtua punya pengetahuan membentuk karakter, maka anak bisa ikut berkarakter dan sekolah tinggal memoles karakter itu secara sosial, sebab di sekolah mendapatkan pengajaran akademik ditambah nilai sosial yakni interaksinya guru dan anak didik secara masif.
Arintoko cara memimpinnya juga simple. Menerima sharing dengan pintu ruang kantor terbuka bagi anak didik dan guru yang memiliki gagasan positif. Tak perlu ada hirarki dan birokrasi. Ia justru memberi penghormatan (privilege) bagi siapapun yang punya ide mengembangkan sekolah lebih baik.
Citra profesionalisme menjadi arah tujuan Arintoko membawa SMPN 1, sehingga semua yang dilakukan di sekolah oleh guru terhadap anak didik sangat relate dan bisa dipahami orangtua. Sebab, goalnya sukses tadi
Ia sadar, kultur sekolah berkualitas dibangun lewat budaya maju dan disiplin. Dari sisi personality anak didik sampai lingkungan. Masuk sekolah pukul 07.15 Wita. Lebih sedikit dinilai terlambat.

Pagar dikunci dan anak lalu diverifikasi mengapa terlambat oleh guru. Toleransi diberikan jika ban bocor, hujan atau sakit. Tetapi, disinkronisasi ke orangtua agar guru tak dapat informasi sepihak
“Kita ingin mengajarkan anak jujur. Guru juga sangat bijaksana melihat keadaan. Jika alasan mendasar, terlambat tentu ditoleransi. Tetapi, kalau hari-hari terlambat ada catatan dan warning lewat komunikasi dengan orangtua. Ini bagian pembelajaran karakter itu,” jelas Arintoko
LEADERSHIP
Aturan atau regulasi di sekolah berjalan konsisten dan fleksibel bisa berubah jika perlu dilakukan perubahan. Karena, tujuannya hasil nyata. Kepsek dan dewan guru selalu demokratis menggali terus hal positif yang orientasinya energi mencetak anak cerdas dan memiliki karakter baik.
Proses belajar-mengajar SMPN 1 Balikpapan tak melabelisasi diri meraih predikat sekolah favorit melalui piala yang dikumpulkan saja. Tetapi, bagaimana memoles anak berkarakter dan berintegritas. Kuncinya, dari kepsek, guru-guru dan orangtua jadi teladan yang baik, sehingga otomatis menghasilkan Tiada Hari Tanpa Prestasi yang menjadi slogan sekolah ini.

Alasannya mendasar, karena anak itu mudah mencontoh, sehingga leader harus diciptakan. Ragam teori kepemimpinan harus direalisasikan kapan saatnya menjadi pemimpin terinspirasi ‘menari’ lewat karya bersama tim dan tak hanya memberi perintah (dancing leadership)
Terus, kapan kepemimpinan kolektif kolegial (collegial leadership) yang menekankan pada kolaborasi saat mengambil keputusan. “Dan, kapan kita menggunakan konsep kepemimpinan yang visioner sesuai visi sekolah (vision leadership) dan penggabungan ketiga teori kepemimpinan itu dilakukan di SMPN 1 Balikpapan. Semua untuk kepentingan anak didik,” urai Arintoko.
NILAI DAN ANGKA
Arintoko secara filosofi menegaskan, bahwa anak didik itu tak bisa dilihat dari nilai dan angka. Sebab itu berbeda dari simbol kuantitasnya. Angka itu seperti kapas yang jumlahnya besar dan banyak
Tetapi, jika nilai itu seperti batu yang mengandung makna bahwa benda itu tidak terlihat dari wujud fisiknya melainkan dari bagaimana benda dimanfaatkan atau diberi nilai seseorang.
“Batu itu mungkin terlihat biasa tetapi akan berharga jika diberi fungsi atau makna tertentu. Itulah filosofinya, sehingga banyak penilaian bahwa SMPN 1 itu seperti mutiara yang selalu berkilau karena prestasi, karakter dan hasil yang baik itu,” kata Arintoko mengambil istilah dari penilaian orangtua dan masyarakat terhadap keberadaan SMPN 1 hingga kini tak pudar
DEMOKRATIS
Prinsip belajar di SMPN 1 gurunya menanamkan tanggung jawab juga memberi apresiasi anak didik dan yang lebih terbuka anak diajak berdiskusi dan bebas untuk mengeksplorasi bakat mereka atau passion. Juga merajut komunikasi verbal dan non-verbal.
“Kalau pembelajaran akademik itu kan fokus pada pengembangan kemampuan kognitif dengan mengembangkan kecerdasan intelektual yang terukur melalui prestasi. Nah, jika karakter itu pengembangan diri yang harus dipadukan dengan akademik tadi,” jelas Arintoko.
Olah pikir it uke anak didik kata Arintoko, pengembangan program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dilakukan. Ini belajar nyata di lingkungan sosialnya. Kemampuan yang dibangun dalam keseharian dihidupkan dalam diri setiap anak didik melalui satuan pendidikan ataupun ekstrakulikuler.
“Passion mereka kita lihat. Ternyata cukup berkembang. Ada yang membuat cake ataupun karya lainnya dan itu mereka pasarkan. Intinya menciptakan gaya hidup berkelanjutan yang positif. Saya salut dengan anak-anak itu,” puji Arintoko.
HAPPY
Belajar di SMPN 1 Balikpapan itu goal-nya adalah cerdas dan sukses serta berkarakter. Tetapi, bagaimana membuat proses belajar mengajar melalui pendekatan dan fokus belajar yang menyenangkan dan positif bagi siswa (happy learning).
Siswa di sekolah merasa nyaman dan bebas dari tekanan sehingga inginnya datang ke sekolah terus karena termotivasi untuk sukses dan cerdas. Bahkan, sekolah sudah jadi ‘rumah kedua’ bagi mereka karena merasa happy tadi
Selain itu, bagaimana SMPN 1 Balikpapan juga menciptakan suasana belajar yang menggembirakan, kreatif dan melibatkan siswa secara aktif (joyful learning). “Jangan anak-anak masuk sekolah seolah tertekan. Itu harus dihindari. Dewan guru pun harus memahami pengajaran menggunakan dua metode itu,” kata Arintoko.
Bagi Arintoko, nilai tinggi anak didik memang upaya bagi pihak sekolah tetapi sekolah juga membuka pintu bagi mereka untuk mengasah kecerdasan emosional sehingga mampu membangun jaringan, berkomunikasi dengan baik dan berpikir kritis agar bisa mencapai sukses
“Keberhasilan itu kan tidak harus dengan angka, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan kemampuan dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang terus berubah,” kata Arintoko

Sehingga, refleksi dari semua itu anak-anak SMPN 1 Balikpapan sangat terbuka menuangkan ide. Sebelumnya lewat assessment mereka menyampaikan presentasi dan gagasan itu diolah dan jadi sharing dengan yang lain. Positif, maka dipergunakan dengan terus berupaya menciptakan suasana kelas kondusif ditambah metode pembelajaran interaktif, komunikatif baik antara guru, siswa dan orangtua.
Makanya, Arintoko menekankan pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 1 mengusung nuansa Ramah yang membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan dan menumbuhkan karakter melalui kegiatan yang menyenangkan. Apalagi SMPN 1 dinobatkan sekolah ramah anak.
“Lewat MPLS Ramah itu kan membentuk budaya sekolah dikenalkanlah budaya dan nilai-nilai yang berlaku di sekolah dan pengembangan teknologi positif sehingga perkembangan siswa sangat holistik di masa depan,” jelas Arintoko.
Bukan itu saja kata Arintoko, jiwa nasionalisme dan inklusivitas kehidupan yang merajut rasa kebhinekaan pun dibentuk. Usai ibadah semua agama, jika berkumandang lagu Indonesia Raya harus tegap dan bernyanyi. Itu sisi SMPN 1 Balikpapan menyatu pada dukungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menjadi insan Pancasilias.

Bagaimana dengan era disrupsi di mana digitalisasi begitu cepat? Ternyata SMPN 1 sudah mempersiapkan guru-gurunya untuk mengembangkan konsep digitalisasi sekolah. Ada 4 orang guru yang akan mengikuti pelatihan coding dan juga Artificial Intelligence (AI).
“Tujuannya merancang media pembelajaran interaktif berbasis teknologi terutama di jenjang pendidikan dasar dan nanti ekosistemnya dibentuk berbasis platform sebagai program visual yang ramah dalam pembelajaran. Ini wujud digitalisasi sekolah,” kata Arintoko sambil terus mengedukasi anak didik di SMPN 1 Balikpapan agar menggunakan teknologi dengan BAIK (Bertanggungjawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif). (gt)













