Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Pola pikir (mindset) setiap orang jika bicara sampah masih berkutat pada konsep ‘kumpul-angkut-buang’. Itu cara konvensional, padahal limbah dari kegiatan hulu (rumah tangga) makin laju jika dihitung harian.

Berpikir menyelesaikan sampah itu, perlu tugas terpadu tak bisa individu. Harus diurai, tak boleh bergantung selesai di tempat pemprosesan akhir (TPA). Ini adalah wadah pemprosesan bukan penumpukan tanpa batas (unlimited)

Darurat volume sampah sehari 550 ton di Kota Balikpapan, jangan dianggap sudut pandangnya bayar iuran lalu ‘habis peristiwa’ karena diurus petugas hingga tuntas
Kerja keras Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan bagaimana mencari solusi alternatif jadi harapan masyarakat. Persoaan ini, tidak bisa dibiarkan. Sebab, TPA Manggar sudah overload.

Ada ‘tangan cekatan’ Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana. Ia sejak tahun 2022, tugas awalnya (starting point) pada proses pemetaan (mapping). Arahnya, mencari data sampah secara visual salahsatunya rute angkut efisien dan integrasi sistem penanganan
“Saya mapping sekitar 1 minggu untuk melihat problematika sampah dari hulu ke hilir. Berbagai kajian sudah dilakukan tetapi belum ada finalisasi dan terkesan masih sporadis, jadi disempurnakan,” kata Kepala DLH Kota Balikpapan Sudirman Djayaleksana saat berkeliling TPA Manggar bersama media ini pekan lalu
Pemandangan terlihat, sampah dari zona 1 sampai zona 6 sudah full. Perbaikan dilakukan Sudirman dari hulu. Ia menyampaikan saran ke Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud SE ME agar ada solusi untuk merevitalisasi alat angkut.
KUDP PROGRAM
Sebab, alat angkut itu berdasarkan data ada sekitar 75 truk rusak karena sudah ‘dimakan usia’ dan usang. “Itu sejak era kepemimpinan Walikota Imdaad Hamid menggunakan dukungan dana program Kalimantan Urban Development Project (KUDP),” jelas Sudirman
KUDP itu, suntikan dana dari Bank Dunia (World Bank) yang dititikberatkan pada sanitasi perkotaan termasuk pengelolaan sampah. Kota Balikpapan mendapatkannya, bukan hanya untuk kelola sampah tapi juga pembenahan infrastruktur dasar air bersih (PDAM).

Usulan dan diskusi Sudirman ke Walikota Rahmad Mas’ud (RM) direspons positif. Karena, walikota minta kotanya harus bersih dan menjadi tolok ukur (benchmark) nasional
Tahap awal, audit kondisi fisik kendaraan dan pendataan tingkat kerusakan serta analisis kelayakan finansial (tak efisien). Ada 18 unit terdiri dari 6 unit dump truck dan 12 unit truk amrol atau kendaraan pengangkut sampah dilengkapi sistem hidrolik

Bagi Sudirman, amrol cara kerjanya praktis karena membawa bak container sampah otomatis tanpa mengosongkan isi sampah secara manual di tempat. Ia ingin, TPS tidak boleh berada di tepi jalan protokol karena mengundang bau dan merusak estetika kota
Container-nya ada di TPS, truk datang dan menurunkan bak kosong menarik bak penuh dengan tenaga hidrolik dan container penuh tadi dibawa ke TPA. Dan satu truk bisa melayani beberapa titik TPS
Hanya, kesadaran masyarakat diperlukan dari sisi kepatuhan. Membuang harusnya ke dalam container. Tapi, masih ada yang membuang di luar, sehingga terlihat berserakan. Lagi-lagi ini terkait mindset.
HIDUP DAN MATI
Analoginya, tugas DLH itu berat. Mereka dituntut membersihkan masalah ekologis besar. Selain SDM, juga infrastruktur terkait tupoksi instansinya. Jadi, ada istilah guyonan birokrasi, Kepala DLH-nya mengurusi pekerjaan ‘hidup dan mati’. Hidup untuk tanaman hidup yang ada di ruang terbuka hijau dari merawat taman kota hingga jalur hijau

“Kalau urusan matinya kan terkait ‘orang mati’ sebab urusannya pengelolaan makam sampai fasilitas pemakaman dan perawatan makam umum,” kelakar Sudirman
On the spot ke TPA Manggar, ini adalah TPA terbaik di Asia Tenggara. Karena, model pengelolaan sampahnya berbasis sanitary landfill. Sampah ditimbun dan dipadatkan berlapis, lalu ditutup tanah secara berkala agar tak berbau dan ramah lingkungan

Sudirman juga menjelaskan, metode itu menangkap air lindi atau leachate. Airnya warna hitam hasil larutan sampah organik dan non-organik yang alami fermentasi, itulah komponen yang membuat sampah tak berbau

Soal bau ini, Sudirman mencontohkan faktual. Saat itu, Menteri Lingkungan Hidup era Hanif Faisol Nurofiq berada di tengah-tengah tumpukan sampah, sempat berseloroh: “Hebat ini TPA Manggar, saya tidak mencium aroma bau sampah,” cerita Sudirman ketika melihat Hanif turun dari kendaraannya dan berkeliling TPA

Sejurus dengan itu, ketika berdiri di area TPA Manggar, suara burung bersautan, karena lingkungannya dipenuhi vegetasi dan pohon sehingga burung datang.
Ditambah, metode sanitary landfill yang tidak mengundang lalat dan memicu bau busuk menyengat. Beda di daerah lain, menuju ke TPA-nya beberapa kilo, aroma menyengat sampah sudah terasa
SOLUSI
On the track, kerja-kerja mencari solusi atasi sampah overload di TPA terus terjadi. Sudirman jebolan APDN (sekarang STPDN) ini, sarat pengalaman dan birokrat senior punya skill dalam tata kelola lingkungan dan kebersihan.
Ia sudah menjabat sejak era kepemimpinan Walikota Tjutjup Suparna hingga Rahmad Mas’ud. Tak heran, jika bertemu partner kerja jurniornya di birokrasi ia kerap disapa ‘Kak Dirman’

TPA Manggar dilirik berbagai investor. Pernah disurvei termasuk dilakukan zounding market dan akan dikerjasamakan lewat konsep Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU), hanya terkendala tipping fee atau jasa ongkos layanan kepada pihak ketiga berdasarkan tonase sampah yang diangkut dari APBD.
“Setahun estimasinya berkisar Rp90 miliar. Tentu, ini berat karena Pemkot Balikpapan fiskalnya terganggu sehingga harus mencari solusi alternatif lain,” urai Sudirman yang menambahkan saat itu biayanya akan ditanggung PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI)
MANDAT PRESIDEN
Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam tiba, ada kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang telah ‘memanggil’ seluruh bupati-walikota se-Indonesia, bahwa terjadi darurat sampah termasuk di TPA Manggar yang sudah overload. Kendati, TPA Manggar sudah mereduksi sampah dari 550 ton per hari menjadi 300 ton
“Pak Walikota Balikpapan menjalankan mandat presiden untuk menjadikan sampah di TPA Manggar dikelola menjadi energi lewat pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL),” jelas Sudirman, selain Balikpapan Raya juga Samarinda Raya untuk Provinsi Kaltim

PKS sudah dibuat. Nanti mandat presiden itu membangun PSEL yang sudah disiapkan lahan sekitar 5 hektare di area TPA Manggar. Dan walikota menjalankan mandat sesuai Perpres 109 Tahun 2025 kaitan penanganan sampah perkotaan diubah menjadi energi baru terbarukan
Kebijakan PSEL itu, tak hanya Kota Balikpapan tapi nanti menampung sampah dari Kutai Kartanegara (Kukar), Muara Jawa dan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan kapasitas 1.000 ton per hari
“PKS itu untuk pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan dan pengangkutan dari sumber sampah ke TPA Manggar dilakukan Balikpapan dan kita pun sudah menyiapkan lahan,” jelas Sudirman yang ikut menandatangani PKS itu pada medio April 2026 silam

Nantinya, PSEL didanai PT Danantara Investment sebagai holding investasi negara. Dan hasil energi sampahnya dibeli PLN. Kunjungan dari tim Danantara, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian LH dan PT PLN sudah dilakukan di Balikpapan, tinggal tindaklanjut sekitar September 2026 mendatang.
Walikota kata Sudirman, berharap PSEL ini bisa segera terwujud entah secara teknis jenis energi listriknya apapun misalnya RDF (bahan bakar alternatif olahan sampah), tentu semua itu hal teknis yang bukan domain Pemkot Balikpapan. Dan daerah ngikut saja kebijakan teknisnya. So! Sampah Hari Ini, Bahan Bakar Esok Hari.**
*) Ketua Divisi Regulasi & Advokasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Wartawan tinggal di Balikpapan












