Penulis: Munir Asnawi
TINTAKALTIM.COM-Menjaring dan memburu wisatawan tanpa menggoda dengan kenangan, utamanya cinderamata bercitarasa lokal yang menarik bakal mendapatkan hasil yang tidak maksimal. Itulah salah satu persolan yang tengah melanda Kota Balikpapan.
Kendati begitu, sesungguhnya kota beriman kaya potensi alam, budaya lokal, kearifan yang bisa dihadirkan sebagai keunggulan. Tinggal bagaimana potensi diasah dengan daya imajinasi dan kreativitas yang melibatkan kemampuan warga kota dan asuhan pemerintah kota kepada semua potensi tadi.
Dari bincang kepada peserta pameran Balikpapan Cultur, baru-baru ini di Balikpapan Centre, terbersit kesan, bahwa perajin sangat butuh bimbingan pemasaran dari pemerintah kota, permodalan dari lembaga keuangan, dan sentuhan seniman senirupa kreatif untuk memperkaya desain.
”Kami belum maksimal mendapat bimbingan, baik pemasaran dan permodalan,’’ ungkap pemilik Batik Khaliga Arensi, Ny. Tondo di ruang pamer. Dia bersama dengan 15 perajin batik, kerang, serat, manik, dan lainnya patungan dana untuk bisa tampil di arena itu.
Ada enam peserta pameran yang ikut terlibat di pameran memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia itu. Dewi Batik, Kampung Kenangan Daur Ulang Kertas yang mendapat asuhan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), Azza Hijab Store, Jasmine, Zhafira dan D’leonia.
Ada keinginan besar 16 perajin asal Lamaru ini, daerah ujung timur Kota Balikpapan yang bersentuhan dengan kawasan wisata Pantai Lamaru dan Pantai Segara Sari Manggar menjadi sentra kriya yang berdaya saing tinggi dan memberi kesan kepada pengunjung objek wisata.
‘’Selain menikmati pantai Segara Sari dan Lamaru, pengunjung pulang membawa buah tangan hasil karya kami. Warga bisa mendapatkan hasil dari kerja mereka. Untuk menambah pendapatan keluarga,’’ kata Ny Tondo berangan-angan.
Seorang perajin, sejawat Ny. Tondo yang bertugas mengeloni ruang pamer mengatakan, pernah mereka berkunjung kepada Lurah Lamaru meminta dukungan agar ada daerah yang dijadikan sentra ekonomi kreatif di kawasan itu, workshop, tempat kongko perajin, namun sampai kini belum mendapatkan jawaban.
Sementara memasarkan hasil kriya menjadi persolan sendiri, dan tidak kalah ruwetnya dengan permodalan yang masih minim. Dengan penuh semangat dengan kondisi seadanya, mereka berusaha tetap tampil dan trampil.
‘’Pokoknya, kami tampil dulu. Datang ke sini pun mengeluarkan uang pribadi,’’ kata perajin yang tak mau disebutkan namanya itu.
Disinggung apa saja bahan yang bisa mereka olah di perkampungan tepi laut itu. Ny. Tondo mengaku, binatang kerang laut yang terdampar di tepi pantai diolah menjadi bros, kalung, gelang, hiasan kulkas, gantungan kunci dan aneka hiasan lainnya.
Pengolahan sangat sederhana. Kerang mati yang larut terbawa arus air, dihempas ombak di tepi pantai, dipilah dan dibersihkan dengan teliti. Dirangkai dengan aneka hiasan lain warna-warni menggunakan lem tembak. Diberi pengait, ditaburi vernis agar berkilau, hingga tampilan menjadi cantik.
‘’Karena masih sederhana, ya hasilnya belum tampak memuaskan,’’ ungkap dia sembari menyebutkan, itu hasil pengalaman yang diperoleh dari pelatihan, melihat hiasan, lantas ditiru.
Begitu juga dengan desain batik, yang masih sebatas mengenal menggunakan canting dan pewarnaan. Belum cukup mendapat cara mengolah desain kreatif dengan sentuhan seni yang artistik. Maka batik yang dihasilkan belum maksimal.

‘’Baru sebatas membatik. Soal desain, kami meniru dulu desain yang telah ada. Kan kami baru mengenal canting, belum mahir menggunakannya.’’ ungkap perajin penuh semangat.
Begitu juga, ungkap dia, mengolah warna agar batik yang dihasilkan menarik dan artistik. Mereka butuh keterlibatan seniman senirupa, yang kesehariannya bergelut dengan komposisi warna.
Dia mengaku, dengan keterbatasan pengalaman, ditambah bimbingan yang masih dibutuhkan, hasil karya batik yang dihasilkan sekarang ini, belum membuat perajin berpuas diri.
‘’Kami sih terbuka saya, kalau ada yang mau memberikan bimbingan. Terutama keterlibatan pemerintah daerah beserta dewan kerajinan nasional,’’ ungkap perajin.
Bincang soal permodalan dan pemasaran, perajin mengaku, mencari bapak angkat apakah melalui program kemitraan maupun program bantuan dari kalangan pengusaha. Diakui, sampai kini mereka belum menemukan bapak angkat yang bisa memberi bantuan permodalan dan juga membuka jalan pemasaran.
‘’Untuk sementara, ya modal sendiri. Kalau untuk pemasaran, kami upayakan sendiri. Kalau kebetulan ada kegiatan seperti ini, bila dana patungan mencukupi, pasti kami ikut,’’ sebutnya bersemangat.***












