Sehat, Terus Berdoa Corona Sirna (Spirit Bersyukur Rayakan Idul Fitri Berbeda)

UKHUWAH: Penulis berharap, Idul Fitri tahun ini yang berbeda dijadikan momentum menjalin persaudaraan (ukhuwah)

SHARE INFO INI KE TEMAN

Catatan: *) Sugito

Di akhir-akhir Puasa Ramadan, saya ingin  berbagi catatan; Utama untuk  muhasabah (introspeksi) diri saya. Nikmati saja hidup ini, karena kita masih bisa bernafas, bisa melihat, bisa makan bahkan tanpa takut kolesterol. Bandingkan! Ada saudara kita lumpuh, tak melihat tapi mereka punya semangat dan selalu enjoy.

Salah jika kita tak bersyukur. Sebab, kita lebih sempurna dari mereka…

Salah  jika kita tak bersyukur. Sebab, bangun pagi kita sehat tak terbaring di rumah sakit dan harus diinfus botol oksigen (membeli udara), justru udara yang kita hirup gratis…

Hanya bersyukur bukan ucapan terimakasih saja seolah ‘manipulasi diri’ . Tapi ada gerakan yang nyata; Bersyukur itu  jika mengambil istilah Imam Al-Ghazali ada tiga; bersyukur dengan lisan ya ucapan tadi, bersyukur dengan badan; ini diwujudkan dengan amaliah ibadah dan bebuat baik kapan saja dan bersyukur dengan hati. Yang ketiga ini sudah  lebih pada kegiatan keyakinan jika tak bersyukur, maka dia bersalah.

Pandemi covid-19, mengubah perilaku kehidupan manusia di dunia. Mencegah penyebaran virus corona, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta, Jawa Barat dan daerah lainnya sudah dilakukan. Implikasinya tentu sosial dan ekonomi. Tidak mungkin, menghentikan kegiatan ekonomi  hingga berbulan-bulan seperti pasar dan aktivitas lainnya, praktis dampaknya akan lebih besar meski protokol kesehatan harus dijalankan.

Karena, proses pembatasan sosial itu  sampai kini masih ada pro-kontra  terjadi; misalnya rumah ibadah dan lainnya; padahal setiap hari yang positif corona terus bertambah? Hingga muncul tagar #Indonesia Terserah dari tim medis.

Mereka kecewa karena masih ada masyarakat tak sadar akan bahaya virus corona; protokol kesehatan pakai masker, tetap di rumah saja menjalankan aktivitas dan cuci tangan menggunakan sabun banyak dilanggar.

Ritme kehidupan tak pernah selalu flat, dinamikanya selalu berubah. Dan, masyarakat muslim  Minggu (24/05/2020) merayakan Idul Fitri. Tahun ini sangat berbeda; mungkin masih ada ketupat dan soto babat, tapi lainnya tak ada apa-apa karena kondisi ekonomi membuat mereka merana.

Hanya, tidak ada silaturahmi besar-besaran atau biasa disebut open house pejabat dari gubernur, pangdam, bupati, walikota dan lainnya; semua satu kata: meniadakan open house. Silaturahminya secara online.

Sebab, open house oleh pejabat atau tokoh masyarakat berpotensi mendatangkan massa yang cukup banyak. Sehingga, proses penerapan physical distancing  banyak dilanggar nantinya. Berbeda jika silaturahmi dengan orangtua dan keluarga, ini dapat ditoleransi karena jumlahnya tak banyak dan tak ada menimbulkan kerumunan massa.

Atau ada tamu seperti tetangga: jangan tolak tamu, karena kata Rasulullah tamu itu membawa rezeki dan karunia dari langit. Yang penting, protokol kesehatan dijalankan. Pakai masker, cuci tangan dan tidak bersalaman.

Di Balikpapan, pejabat biasa menggelar open house di Dome. Ribuan warga berbaur untuk ‘salam-salaman’. Tahun ini tidak ada, nyaris  menjalani Idul Fitri pun sepi.

Termasuk, salat Idul Fitri di lapangan ditiadakan, bahkan masjid-masjid pun demikian, hanya masih ada ‘keyakinan sebagian orang’ tetap menggelar salat id di masjid lingkungannya, meski larangan  salat id sudah ada edarannya dan anjuran salat di rumah.

Penulis ingin mengajak, ayo merayakan Idul Fitri dengan sederhana di era corona; tak perlu ada baju baru. Bersyukurlah dengan keadaan yang ada; Coba, buka lemari Anda wahai bapak dan ibu; tentu masih banyak ‘baju baru’ yang layak dipakai. Bagi kalangan ibu-ibu atau emak-emak, jika ingin jujur; bukalah lemari, gantungan kerudung atau jilbab berbagai motif dan model masih tergantung.

Harus kita akui, seolah mubazir, seolah boros, seolah nggak perlu dengan baru-baru itu; paling penting, baru hatinya, baru sikapnya, baru perilakunya; apalagi selama pandemi corona, kita diajarkan untuk hidup baru yakni sehat.

Rayakan Idul Fitri, apa adanya. Terus bergerak untuk hidup dan jika perayaan Idul Fitri 1441 H tahun ini sepi, itu sudah kehendak takdir, Sebab, itulah isi dunia. Tiada sehalai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya.

Bayir lahir, nyawa dicabut, ikan berenang, burung terbang, hujan turun semua sudah kehendak Allah dan ada dalam Alquran Surah Al-Anam ayat 59. Bahkan, jika virus covid-19 disebut musibah yang menimpa,  itu juga sudah kehendak Allah. Tak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah (QS At-Taghabun 11).

Sejatinya, Ramadan  tahun ini benar-benar mengajarkan kepada kita arti bersabar, bersyukur dan refleksi diri. Bersabar tak tahu kapan pandemi covid-19 berakhir, bersabar karena kita harus diam diri di rumah. Tapi ayo terus bedoa agar corona sirna.

Bersyukur masih dipertemukan Ramadan dan diberikan kesehatan untuk menjalaninya. Ayo bayangkan, tenaga medis mereka  harus bekerja maksimal melawan corona bahkan ada yang meninnggal.  Belum lagi saudara-saudara kita terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaannya harus tutup.

Tapi, Ramadan tahun ini  dan adanya wabah covid-19, memang menjadi bulan solidaritas dan gotong-royong. Virus corona diganti dengan virus dermawan. Banyak, masyarakat saling membantu saudara kita yang ekonominya sulit akibat pandemi.

Ayo terus berdoa, hari-hari  yang lebih baik akan datang. Kita sudah terlahir dengan pribadi yang baru ditempa dengan ‘pendidikan Ramadan’ di saat pandemi corona. Dan saudara-saudaraku non-mulim, engkau juga sudah menunjukkan solidaritas  dalam menangani pandemic covid-19. Terus sinergi dan kolaborasi. Termasuk pemerintah yang setiap hari bersusah-payah.

Terakhir, kita bersyukur;  sebulan penuh terus memanjatkan doa; panjatkan doa juga untuk orangtua kita baik yang masih hidup maupun meninggal.  Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka seperti mereka menyangiku di waktu kecil.

Jujur, doa untuk orangtua itu harus jadi obat penenang diri. Spirit kehidupan kita. Sebab, Ridhanya Allah tergantung ridhanya orangtua. Semoga, amaliah Ramadan kita, puasa kita, qiyamul lail kita, sedekah dan zakat kita diterima Allah dan diganti dengan kita semua dimasukkan ke dalam surga-Nya. Dan, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon Maaf Lahir Batin, Taqaballahu Mina Waminkum.**

*) Wk Ketua Yayasan Konsumen Balikpapan dan Pengurus Kadin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *