TINTAKALTIM.COM-Merdeka! Kalau ditanya setiap individu versinya pasti berbeda. Kini, kata itu dibuktikan lewat makna bersaudara dan ikatan kemanusiaan di lingkup terkecil rukun tetangga (RT). Posisi mereka setara saling mendukung dan menghilangkan dominasi lebih, mereka berbaur lewat aksi kerja bakti dibungkus silaturahmi

Minggu (2/8/202) pagi mulai pukul 07.30 Wita, merdeka itu diwujudkan lewat ekspresi dan kemampuan yang skill-nya sama. Alat bantunya, sapu lidi, serokan dan gerobak serta alat potong rumput. Tak ada status, pangkat dan jabatan semua melakukannya dan bisa, kendati profesinya berbeda

Terlihat, dari ketua RT-nya Neneng Zuleha (Ipon) sampai warganya siapapun tanpa melihat latar belakang. Mereka hadir dan berbaur ragam etnis dari Banjar, Jawa, Palembang, Bugis dan lainnya datang ke lapangan untuk bekerja

Mereka nyaman dan setara menyapu, memangkas rumput, potong dahan sampai memasang bendera. Dan, merasa bersaudara menjadi pribadi untuk kerja bakti secara bebas apa adanya, bukan ada apanya. Justru, warga tetangga pun bebas pula membantu dia H Samud yang ‘nyeberang’ dari RT 38 ke RT 39 tanpa harus menggunakan paspor. Merdeka toh!

Bapak-ibu di RT 39 Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat itu, terlepas dari pola pikir penjajah. Dan, mereka berbaur, berdiskusi, bersilaturahmi dan tidak meletakkan manusia pada level berdasarkan tahta dan kasta seperti zaman Belanda

Tidak ada superioritas suku satu dan suku lain. Ngobrol antara suku setara sama saudara, sama-sama warga BTN, sama-sama Indonesia. Ngobrolnya pun bebas (merdeka). Ada kesehatan, keseharian, tentang bangsa, pokoknya enjoy

“Makanya kita potong rumput bersama dan bersih-bersih serta pasang bendera,” kata Hendra Winardi, warga etnis Tionghoa yang sudah asimilasi dan jadi Indonesia asli bahkan Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Balikpapan dan tinggal di RT 39 BTN

Hanya, saat rehat usai kerja bakti. Kemerdekaan berpikir tetap bebas. Kemandirian berpikir dan berpendapat apa adanya. Mungkin, itu merdeka kebebasan terhadap reaksi yang terjadi di Indonesia. Korupsi misalnya, warga juga diskusi

“Mengapa korupsi susah dibasmi. Sampai triliunan. Terus, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) kan tidak boleh menggunakan dana pendidikan untuk MBG,” kata Rudi Rahmadi, membuka diskusi di gazebo sambil menikmati kopi

Rudi, berpikir merdeka! Ia ingin diskusikan itu karena ‘kemerdekaan informasi’ soal berbagai kasus sudah terbuka dan jadi informasi publik. Hanya, ia pun merdeka untuk bekerja memangkas rumput agar lokasinya bersih bersahaja

Merdeka saat itu, juga dilakukan ibu-ibu. Terlihat Bu Nani Siswanto, Ny Narta, Ny Andi, Hj Yatti, mereka masuk dalam tradisi Agustusan warga. Ikut berbaur memasang bendera dan umbul-umbul. Kehebohan ibu-ibu menghiasi kompleks hingga menyiapkan konsumsi memanfaatkan momen itu juga untuk silaturahmi

Warga bersama membersihkan lingkungan dan memasang bendera dan umbul-umbul. Sajiannya, kuliner hangat menikmati Makan Bubur Gratis (MBG). Lagian, buburnya Manado yang kata Ny Frida Hardi Sulung sebutannya tinutuan yang kaya sayuran sehat dan hangat di pagi hari

Lagi-lagi Rudi yang memulai! Awalnya panci bubur itu tertutup, tetapi ia ‘menggoda’ bahwa bubur Manado itu jika ada ikan asin dan sambal pasti punya sensasi gurih dan pedas.

“Silakan dimakan, memang disediakan untuk warga usai gotong-royong,” kata Ny Nani Siswanto yang mengolah bubur Manado dan buat merdeka lidah
Bu RT-nya, selalu mengabsen warga yang hadir untuk tandatangan. Menariknya, ‘Agus CCTV’ mengedarkan list absen itu kesetiap warga. Entah, apakah ini dia lebih ‘merdeka beraksi’ dan jadi pekerjaan baru seusai pensiun ASN.

Kebersihan lingkungan di RT 39 itu, ditopang lewat sigapnya suami Bu RT, Zulkifli. Ia memang ahli (expert) menggunakan mesin potong rumput gendong. Bukan hanya mengitari lapangan tetapi depan rumah warga pun dipangkasnya.

Ada seloroh warga ketika Bu RT mencalonkan diri kembali. “Syarat untuk jadi ketua RT, salahsatunya adalah suami bisa memotong rumput. Nah, terpilih lah dia,” kata H Rahmadi, berkelakar.

Tapi, Minggu pagi itu dijadikan wadah ‘kebebasan berdiskusi’ para warga. Mereka usai kerja bakti duduk sambil diskusi. Ada makna toleransi dengan sesama. Karena, warga ingin merangkul satu sama lain terlepas dari perbedaan yang ada
Penulis menilai, inilah makna kemerdekaan yang khas Indonesia, saling toleransi dengan sesama. Usia mereka berbeda tetapi ada darah mencintai Tanah Air dan ingin Indonesia ini benar-benar merdeka.

Merdeka dari korupsi, merdeka ekonomi, merdeka dari pendidikan yang baik. Dan, mereka saat kerja bakti sadar bahwa ada tanggung jawab sosial.

Dan, itulah wujud rasa terimakasih mereka dengan pahlawan yang telah berjuang membuat Indonesia merdeka. Tapi, jangan lupa pasang bendera depan rumah masing-masing dari 1-31 Agustus 2026. Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Salam BTN (Bersih, Tenang, Nyaman). (gt)












