TINTAKALTIM.COM-Ustaz Aminuddin Ilham menegaskan, menyambut Ramadan 2025 harus dengan suka cita dan perbanyak bersyukur. Karena, Ramadan adalah bulan pengampunan dosa umat Muslim. Sehingga, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya momentum itu.
“Perbanyak ibadah. Baca Alquran dan perbanyak selawat karena Insya Allah dapat ampunan Tuhan,” kata Aminuddin saat memberikan taklimnya di depan jamaah Persatuan Islam Tionghoa (PITI) Balikpapan yang diubah jadi Pembina Islam Tauhid Islam di kediaman ketuanya Hendra Winardi kawasan Kompleks Perumahan BTN Gunung IV Kelurahan Margomulyo, Minggu (23/2) malam.

Menurut Aminuddin Ilham yang merupakan anak dari Muslim seorang mualaf Tionghoa, Allah memberi pengampunan dosa-dosa besar. Catatannya dengan bertobat dan tidak mengulangi kembali.
“Banyak versi dan ikhtilaf (perbedaan) kaitan dosa besar ini. Tetapi yang berdasarkan hadist ada syirik, durhaka kepada orangtua, berzina, meninggalkan salat dan lainnya,” kata Aminuddin Ilham saat menjawab pertanyaan jamaah kaitan pengampunan dosa bagi mereka yang berpuasa di bulan Ramadan sebulan penuh.

Dalam taklim itu, Ustaz Aminuddin banyak menjawab diskusi dari jamaah. Ia memang membuka forum diskusi agar pengajian berjalan produktif dan jadi transfer ilmu agama.
“Para jamaah, nikmat tertinggi kita adalah karena bisa menjadi umat Muhammad SAW. Makanya, perbanyak selawat kepada Rasulullah pembawa risalah Islam,” urai Ustaz Aminuddin Ilham yang juga mengajar di Pondok Pesantren Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari Kilometer 19 Jln Soekarno Hatta Balikpapan.
Ustaz yang fasih berbahasa Arab dan banyak mengarang kitab-kitab berbahasa Arab dan pernah menamatkan pendidikannya di Yaman menegaskan, selawat kepada Rasulullah itu dijamin pahalanya.
“Kalau kita berselawat sekali, maka Allah akan berselawat kepada kita 10 kali. Ini anugerah luar biasa yang maknanya juga bisa Allah memberikan rahmatnya dan melipatgandakan amal itu. Makanya, rajin-rajin berselawat,” pinta Ustaz yang juga mengajar ilmu fiqih dan hadist Riyadhus Shalihin, hadist yang mengajar tentang adab dan etika di Ponpes Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari

Ustaz Aminuddin menyampaikan taklimnya dengan santai dan mudah dimengerti. Sehingga, jamaah pun mendiskusikan berbagai hal. “Apa yang dimaksud hadist mutawatir itu ustaz. Dan bagaimana mengetahui tingkatan hadist,” tanya Ahek yang rajin ikut taklim PITI
Menurut Ustaz Aminuddin, mutawatir adalah hadist yang banyak diriwayatkan oleh banyak perawi lewat jalan mendengar, melihat yang itu benar adanya sehingga sanadnya bersambung hingga Nabi Muhammad SAW.
Dikatakannya, tingkatan hadist itu ada tiga yakni hadist sahih merupakan hadist dengan tingkatan tertinggi dan disepakati ulama dan dapat digunakan sebagai landasan melaksanakan ibadah. Lalu, hadist hasan berada di antara sahih dan dhai’if dan hadist dhaif atau hadist lemah

“Kalau hadist hasan itu sanadnya bersambung dan tidak bertentangan dengan Alquran. Sehingga, baik untuk jadi dasar juga dalam beramal,” urai Aminuddin Ilham
Tetapi katanya, jika hadist dhaif itu hadist lemah yang banyak ditinggalkan dan tidak dapat dijadikan landasan beragama. “Di sinilah mengapa kita perlu belajar. Sandarannya adalah fikih dan ulama. Jangan menafsirkan sendiri,” kata Ustaz Aminuddin.
AKAL
Sementara itu, dalam kaitan penjelasan lainnya, Ustaz Aminuddin pun menguraikan bahwa dalam Islam tidak semua ibadah itu didasarkan dengan akal yang mutlak. Karena, setiap kegiatan ibadah ada cara tersendiri dalam ajarannya.
“Coba kalau menggunakan akal, siapa yang biasa sampai akalnya menterjemahkan perjalanan Isra Mi’raj. Tentu, inilah mengapa akal perlu tetapi agama tak semuanya bisa menggunakan akal manusia,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, jika menggunakan akal saja dalam beramal misalnya ingin bersuci (thaharah), maka pikiran manusia akan menilai bahwa debu itu kotor. Tetapi, sah untuk bersuci. “Itulah kalau murni menggunakan akal atau logika, ada pola pikir semacam itu. Hendaknya berpedoman pada dalil. Seandainya agama dengan logika saja, maka bagian bawah sepatu (khuf) pantas toh diusap daripada atasnya. Karena, yang kotor bagian bawah. Mengapa Rasulullah mengusap atasnya,” jelas Ustaz Aminuddin Ilham mensitir salahsatu hadist.
Dalam diskusi yang lain, jamaah PITI pun bertanya kaitan minyak harum atau wangi-wangian. Ustaz Aminuddin tegas menyebutkan, bahwa kalau itu alkoholnya sudah dicampur khamar atau minuman yang membaukkan, maka hukumnya najis bahkan haram.
“Kalau setiap minuman yang membaukkan dari anggur atau lainnya dan diproses, sedikit atau banyak haram hukumnya,” jelas Aminuddin.
Hanya, ia pun menegaskan berbeda dengan parfum alkohol ada perbedaan di kalangan ulama yang menyebut najis dan tidak. Tetapi, jika digunakan untuk hal bermanfaat seperti pengobatan, campuran parfum maka tidak najis.

Karena kata Aminuddin, alkohol itu berasal dari cairan anggur yang diperas dan setelah melalui tahap permentasi maka zatnya disebut alkohol. Sehingga, alkohol tidak najis dan boleh memakai parfum atau minyak wangi yang mengadung alkohol.
Hendra Winardi mengucapkan terimakasih kepada Ustaz Aminuddin yang sudah memberikan tausyiah-nya. Dan meminta kepada jamaah PITI untuk terus aktif mengikuti pengajian yang jadwalnya akan ditentukan kemudian.
“Banyak ilmu yang bisa kita dapatkan. Jadi, sayang kalau nggak hadir. Kita sama-sama belajar agama, karena untuk orientasi akhirat (ukhrowi oriented),” pungkas Hendra yang menyediakan makanan untuk jamaah di acara itu. (gt)













