TINTAKALTIM.COM-Main domino. Ada yang menyebut gaplek. Ternyata membuat asyik bahkan kecanduan. Tapi, permainan ini selain mengasah otak atau pikiran, ternyata bisa saling ‘menghujat’ dan ‘melecehkan’ lawan main. Hanya sejatinya inilah wadah silaturahmi dan tempat sharing ragam persoalan.
Kecanduan main domino ini terjadi di Balikpapan. Sejumlah tempat ada permainan ini. Sebutlah Kopi Daeng (Kopda) di kawasan Batakan. Ini tempat mangkal pecandu domino yang rata-rata pemainnya berdarah Sulawesi. Ada juga di Slipi atau Sekretariat DPD Partai Golkar Markoni dan komunitas KBM (Keluarga Besar Mandar).
Orang Sulawesi menyebutnya ma domeng atau main dom. Mainnya sederhana tetapi memerlukan pikiran cepat, perhitungan tepat dan analisa. “Ini permainan membunuh waktu, menghilangkan pikiran suntuk tetapi ada proses ‘pelecehan’ antar teman,” kelakar H Sjarifuddin Hs yang biasa disapa Jenderal oleh rekan-rekannya.

Mainnya berpasang-pasangan. Jumlah kartu 28 dan masing-masing pemain memegang 7 kartu. Memilih pasangan yang tepat juga bertujuan ingin menang dan tak ingin dipermalukan di meja domino. Sebab, kartu domino harus diturunkan lewat cara teliti tapi lebih banyak menggunakan feeling.
“Kartuku bagus. Coba lihat kandang atau ceki ini,” seloroh Ir Patman Parakassi, menguji nyali lawannya dan selalu berupaya nyinyir jika hasil akhirnya dikalahkan lawan.
Kartu itu dikocok. Bisa jadi menurut kita bagus ternyata lawan lebih bagus. Jika berpasangan, harus bisa ‘membaca’ dan membuka jalan agar kartu teman atau partner turun dengan baik.
“Ayo partner, kita harus leading. Lawan kita habisi. Mereka masih kita latih,” ungkap Yudi Saharuddin, mengejek dan membuat keder alias takut lawan mainnya.
Yudi ini pemain super sibuk. Ia adalah General Manager (GM) Balikpapan Super Block (BSB) yang mengurusi 200 tenant di Ewalk dan Pentacity. Tetapi, demi persahabatan dan silaturahmi, ia rela menyediakan waktu untuk main dom. “Anggap saja menghilangkan pikiran stress,” ucapnya.

Pemain domino beragam. Dari pejabat, karyawan swasta bahkan Aparatur Sipil Negara (ASN) ikut berbaur. Untuk mengatur jadwal dan pertemuan bahkan kompetisi dibuat WhatsApp (WA) group khusus seperti group New Slipi Domino, group Kopi Daeng domino bahkan group KBM domino. Di group ini, saling tantang, saling ejek saling melakukan psywar (perang urat syaraf)
“Ayo siapa yang mau dilatih turun ke meja domino. Jangan sampai hasilnya O. Buktikan di lapangan,” ujar Syarifuddin, pengusaha yang tak luput dari jadwal main domino di mana saja.

Ejekan Syarifuddin itu, seketika juga dibalas Jenderal. Lagi-lagi, ketika jenderal mengalahkan lawannya, otomatis group WA full postingan dengan ‘kata-kata indah dan ejekan’. Bahkan, ia menggunakan ungkapan ongol-ongol (ibarat snack lembek dan bisa dilumat) untuk menghabisi lawannya, kendati kadang ia juga dikalahkan telak di meja domino.
Asyiknya, ejekan itu justru lebih membuat suasana makin akrab dan membangkitkan gairah untuk menimbulkan suasana gaduh bahkan ceria serta penuh canda.
DILATIH
Ibarat main bola dan kemasukan gol. Hasil akhir permainan domino ini bisa menghasilkan cerita keluhan. Bahkan di meja domino, ada saran dan harapan karena kartu yang sudah turun kawannya disalahkan.
“Kenapa tidak turun kartu lain. Padahal beda permainan tadi kalau tak salah turun,” kata Patman yang memang dikenal pemain sangat cerewet bahkan cenderung usil.

Agresifitas pemain bisa dilihat dari karakter. Jenderal dan Syarifuddin selalu saling ‘kelahi kata-kata’ di WA group. Beda jika sosok M Amir, yang low profile dan cenderung silent dan tidak ‘koar-koar’. “Apa maksud kata-kata yang beredar di group. Kita semua ini pelatih dan ingin cari orang yang ingin dilatih,” kata M Amir lewat postingannya. Sedikit tapi nyelekit.
Saling sindir di WA group itu, terkadang dipancing owner Kopi Daeng Harun. Ia selalu men-share meja-meja yang masih kosong dan kurang pemain. “Masih kurang satu. Siapa yang berani datang dan menantang,” posting Harun sembari menyertakan foto meja yang belum klop pemainnya.
REWARD SEMBAKO

Lain di Kopda, lain juga di Slipi Golkar. Di sini sering dilakukan kompetisi. Ide dari Bendahara Umum (Bendum) Partai Golkar Balikpapan Drs Ahmad Mallolongan yang memberi reward atau hadiah kepada pemenang. Hadiahnya sembako seperti telur, mie instant dan lainnya. “Intinya Sekretariat Partai Golkar bisa ramai. Sambil canda dan mencari hiburan,” ungkap Bendum di postingan yang kerap pula menyiapkan pallumara dan saraba untuk memberi rangsangan pemain.
HIBURAN
Sementara itu, Ketua Persatuan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Balikpapan Gunawan menyebut, bermain domino adalah murni hiburan bahkan jadi olahraga pikiran. “Ini mengasah intelegensia pemain. Juga silaturahmi,” ujar Gunawan.

Dalam permainan itu pun, domino kata Gunawan tak ada unsur negatif. Sebab, permainannya pun hanya dicatat menggunakan poin. Misalnya, pasangan menang pollo atau menang karena 2 kartu terakhir diakhiri dengan kartu dobel dapat poin 4. “Semua dicatat. Siapa yang tertinggi itu yang menang,” ujar Gunawan.
Demikian pula, ceki atau kartu yang dom dan sama dua sisanya di atas meja dengan kartu di tangan. Serta kandang, menang karena kartunya akibat permainan deadlock dan jumlah bijinya terkecil menang.
“Ada yang catat dan ada pula yang main jepit. Apalagi yang berambisi kandang ternyata kena tangkap kandang atau peserta melakukan kandang namun jumlah bijinya kalah kecil dengan lawan. Pokoknya asyik lah,” urai Gunawan.
Main dom ternyata mengasyikkan. Sisi positif dan hiburan yang dikedepankan. Ibarat ungkapan The Man Behind The Gun. Unsur manusia yang menentukan senjata.
Jika untuk menembak orang ya negatif. Tergantung siapa yang memegang. Kartu domino juga begitu, kartunya mau diapakan pemegangnya.
Nah, jika ingin terhibur dan tidak ingin jadi ongol-ongol, maka ayo nongol, agar mengetahui efek domino yang merupakan permainan jadul tapi bikin gaul. (git)













