TINTAKALTIM.COM-Ghibah atau membicarakan kejelekan orang lain sudah kebiasaan banyak orang. Jika melebihkan jadi fitnah. Apalagi mereka masih hidup terlebih telah meninggal. Sebaiknya kalau mau bercerita orang yang meninggal sebut kebaikannya saja.

“Kalau ada yang sudah meninggal, jangan cerita dan mencaci semasa hidupnya. Apalagi kaitan utang. Ikhlaskan mereka yang telah tiada. Itu ghibah. Kecuali kebaikannya disebut-sebut jadi inspirasi,” kata Ustaz Muflih Safitra MSc saat memberi tausyiah di acara kumpul-kumpul keluarga besar Hj Halimah, Hj Sabariah dan lainnya di kawasan wisata Bukit Kebo, Kamis (29/5/2025)

Ustaz lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Jogyakarta dan menganut gerakan salafiyah ini, juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Raja Saud Arab Saudi. Ia sering memberi taklim di sejumlah pengajian Kota Balikpapan.

Kumpul-kumpul keluarga besar Hj Halimah itu juga dihadiri keluarga besar Hj Sabariah (alm), H Yusran (Celang), Hj Nooryani Budi, Hj Asnah dan lainnya. Tujuannya merajut silaturahmi dan mengukuhkan persaudaraan (ukhuwah). Kali ini diisi hal yang bermanfaat yakni tausyiah untuk berbagi ilmu dan memperkuat iman serta memberikan wawasan dan inspirasi spiritual kepada keluarga.

“Momen silaturahminya dapat pahala, lalu tausyiah-nya dan duduk di majelis ilmu pun mendapatkan ganjaran Allah,” kata H Maskur, istri Hj Noordiana yang mantu Hj Halimah ini menjelaskan acara itu.

Suasana kekeluargaan terbangun dalam silaturahmi itu. Keluarga perempuan dan laki-laki duduk terpisah yang dibagi dua gazebo yang dijadikan tempat acara

Disebutkan Muflih, jika ada dua orang meninggal lalu yang satu menceritakan keburukannya maka hal keburukannya itu bisa membawanya ke neraka. Sebaliknya, jika cerita kebaikannya maka bisa ke surga.

“Kalau ada yang cerita, maka keduanya dapat jawaban wajib, wajib, wajib. Artinya, wajib surga dan neraka tadi. Makanya, jangan cerita kejelekannya,” urai Ustaz Muflih

Oleh karenanya, jika tidak suka dengan orang yang meninggal, sebaiknya menceritakan kebaikannya karena mereka mudah masuk surga.

“Yang kalian puji kebaikannya, maka wajib wajib wajib surga. Dan, yang disebutkan kejelekannya, wajib-wajib-wajib neraka. Kalian saksi-saksi Allah di muka bumi,” beber Ustaz Muflih menukil hadist yang diriwayatkan Bukhari-Muslim.
TABAH
Dalam tausyiah yang lain, Muflih menceritakan kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Kisah pasangan sahabat Rasulullah yang penuh keimanan dan pengorbanan. Mereka tabah saat menghadapi ujian seperti anaknya masih bayi meninggal dunia.

“Pasangan suami-istri itu tabah dan mampu menyembunyikan kesedihannya. Ummu Sulaim tetap sabar dan tak memberitahukan kabar kematian anaknya pada suami. Kisah mereka pelajaran untuk berserah diri kepada Allah dalam menghadapi segala cobaan,” ujarnya
Muflih juga menyampaikan selain Innalillahi wa Inna Illaihi Rajiun,ada doa lainnya yang diajarkan Rasulullah ketika mendapatkan musibah yakni: Allahumma ajurni fi musibati (Ya Allah berikan aku pahala dalam musibah ini)
“Itu bagian dari doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika seseorang tertimpa musibah selain innalillahi tadi. Dan, ini yang sering dibaca Rasulullah,” jelas Muflih.
MEMBERATKAN
Muflih juga sharing kaitan pelajaran agama ketika orang meninggal dunia. Yakni, jangan justru datang makan di tempat orang yang mengalami musibah. Karena, Rasulullah pernah menyeru saat sahabatnya Ja’far bin Abi Thalib wafat.
Menyinggung kaitan makan di tempat orang yang meninggal dan Rasulullah memerintahkan agar keluarga Ja’far dibantu dengan makanan karena mereka sedang berduka dan tak sempat memasak

“Makanya jika ada yang berduka justru yang melakukan takjiah memberi makanan. Yang kasihan, menyediakan makanan terpaksa dengan cara utang. Ini sudah jatuh tertimpa tangga. Jadi datang mendoakan saja lalu membawakan bantuan kepada shohibul musibah,” pinta Ustaz Muflih.
PERMAINAN
Di sela silaturahmi itu juga dilakukan permainan (games) yakni pindah bola gunakan kardus dan berjalan pakai sarana kardus. Peserta berjalan di atas kardus sebagai pijakan untuk mencapai garis finish. Permainannya dilakukan estafet dibagi kelompok.

“Ini serus-seruan saja. Namanya emak-emak, silaturahminya jalan, dapat ilmu agama nah ditambah kepiawaian untuk menginjak kardus estafet sambil jalan tak boleh menginjak tanah,” kata Hj Noordiana yang inisiator lomba dadakan itu.
Di akhir acara digelar makan siang bersama. Sekaligus silaturahmi. Bahkan, saat tausyiah ada tanya-jawab. Semoga silaturahminya berkah. Barakallahu. (gt)












