Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Walikota Balikpapan Dr H Rahmad Mas’ud SE ME membuat legitimasi dejure dan defacto Badan Pengelola Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Centre (BIC) lewat pengukuhan. Dan, ingin Ramadan 2026 penuh agenda dan bermakna

Itu pada akhir Desember 2025. Ada spirit dan misi besar ingin memasyarakatkan masjid dan memasjidkan masyarakat, sehingga pengurusnya langsung gerak cepat (gercep). Berbagai infrastruktur dibenahi bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) seperti sound system dan lainnya untuk menghadapi Ramadan 2026

Walikota jadi ketua umum (ketum). Mempercayakan Asisten II Sekda Kota Balikpapan H Andi Muhammad Yusri Ramli ST MT sebagai ketua harian dan tandem dengan Bambang Saputra, anak muda yang menekuni lembaga Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sebagai sekretaris.

Sepertinya, Bambang ‘spesialis sekretaris’ sebab hampir di sejumlah organisasi masuk di posisi itu. Tetapi, ada hal yang berbeda dari kepengurusan atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ini. Agar berimbang (equal), mengakomodir ragam generasi. Dari generasi baby boomers (lahir hingga 1964) sampai generasi Z ada perwakilannya

Hanya, ‘unsur tua’ masih mendominasi karena masjid bicara kapasitas keilmuan dan pengalaman. Akomodasi pengurus itu pun karena faktor Ring 1, di mana banyak jamaah yang harus masuk. Termasuk di dalamnya ketua RT, agar jika ada kaitan urusan kemasjidan bisa ontime. Karena, dekat dan mudah merapat

H Achmad Idris, putra mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan HM Idris, mendapat tugas beres-beres masjid atau jadi kepala sekretariat yang nyaris semua tugas di-handle

Wajar, karena tinggal dekat masjid dan ia harus punya waktu ibaratnya ’25 jam’ ngurusin dan prepare salat 5 waktu juga agenda penting jamaah. Dialah petugas Ramadan yang boleh disebut kurang tidur, tapi enjoy demi ghirah Ramadan. Terbukti, acara apa saja ia share foto di group masjid

Namun, ada pula ‘darah segar’ Sani Gazali. Ia dosen, expert bidang multi media dan web desainer. Ini strategis agar ada inovasi dan perspektif baru demi modernisasi organisasi yang relevan dengan zaman. Sehingga, ide itu tidak melulu konvensional alias jadul
Terbukti, Sani yang diposisikan di penelitian dan pengembangan (litbang), tak seperti stigma kebanyakan bahwa itu berarti ‘sulit berkembang’.

Kehadirannya sebagai sosok yang akrab di dunia digital (digital native) cenderung adaptif untuk adopsi teknologi yang orientasinya digitalisasi organisasi dan memanfaatkan teknologi terkini dalam manajemen bisa berjalan
Itu dikreasikan dengan munculnya instagram (IG), website www.menaraperadaban.com yang didesain dengan content apik, komunikatif sebagai wujud transparansi aktivitas kemasjidan di BIC

Terlebih, Andi Yusri yang aktif dan care. Indikatornya, hadir pada salat berjamaah Subuh. Itu berat, tapi sepertinya ada amunisi baru dalam dirinya untuk menata program kemasjidan. Tandem dengan Bambang Saputra terus mengevaluasi apa saja yang kurang dalam kegiatan Ramadan di BIC dan dicarikan solusi bersama pengurus lainnya
Sehingga, tindakannya menginjeksi pikiran pengurus lain agar ada sense of belonging atau rasa memiliki terhadap organisasi yang implikasinya pada aktivitas masjid dapat terealisasi

Wajah lainnya terlihat pakar di bidangnya. Dr H Sartono MM dan H Sarbini. Figur Dr Sartono motivator dan pendakwah berlatarbelakang ilmu parenting. Walikota saja menyebut motivator handal. Ia pun dipercaya penanggungjawab kegiatan Ramadan 1447 H di Masjid BIC. Sedang H Sarbini, tokoh agama yang kerap memberi pengetahuan agama dari fiqih, sosial dan lainnya

Tentu, ditopang orang-orang berkualitas keilmuan agama seperti Habib Hamzah, H Sandjoyo SPDi, H Achmad Rosyidi, Miftahul Ulum, Agus Khariul Huda Lc. Duduk di bidang kemakmuran masjid (imarah), tentu ke depan ada titik cerah BIC jadi masjid peradaban umat
TALENTA
Polesan masjid bukan hanya untuk ibadah murni (mahdah), ada pula figur H Mustaqim SAg LC MM. Ia dikenal pengusaha yang memiliki talenta entrepreneur kreatif dan merangkul jamaah dalam pemberdayaan masjid untuk umat lewat bidang idarah yang bersifat ghaira mahdah (muamalat)

“Masjid itu kan bukan tempat ibadah saja, tetapi juga melakukan pemberdayaan ekonomi umat dan pusat solusi permasalahan ekonomi dan sosial,” kata Mustaqim di suatu kesempatan
Lagian di bidang idarah ini ada figur senior seperti Ganung Pratikno, Abdul Madjid, Drs HM Syukri dan lainnya yang dipercaya untuk duduk di seksi pendidikan dan pelatihan. Tentu, akan lebih mumpuni jalannya event yang berkaitan dengan pengembangan SDM

Irfan Taufiq bersama Walikota
Ada pula bidang ri’ayah, pengelolaan dan pemanfaatan masjid. Di sini dikomandani Irfan Taufiq, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Balikpapan yang kerap hadir salat berjamaah selama Ramadan.
Bahkan, dalam Nuzulul Quran dirinya menunjukkan gerakan program dahsyat yang disalurkan di Masjid BIC sebagai wujud kontribusi pengembangan dan pengelolaan masjid dari anak didik se-Balikpapan

Namanya, Gerakan Sedekah Jariyah Ramadan (Sejadah) dari siswa-siswi se-Balikpapan yang totalnya Rp379.083.000 yang jenjang penyumbangnya dari PAUD, SD hingga SMP. Itu langsung menambah kas Masjid BIC dan aman telah masuk brankas
TAKJIL OPD
Yang menarik dalam event Ramadan 2026 di BIC dengan mengusung tema Kampung Ramadan, ada pemandangan yang bisa disaksikan bukan sekadar praktik berbuka, melainkan pergeseran makna yang halus tapi dalam.

Masjid di bulan Ramadan wajahnya memang berbeda. Tak hanya tempat sujud, tetapi juga tempat berbagi. Batas kaya dan sederhana menjadi samar. Semua duduk di lantai yang sama. Semua menunggu azan yang sama
Semua membuka kotak dengan gerakan yang serempak. Tak ada daftar tamu, tak ada pertanyaan tentang latar belakang , tak ada rasa sungkan karena semua merasa diundang oleh waktu yang sama: Azan Magrib
Saat berbuka bersama (ifthar), di sinilah wajah Ramadan paling jujur, ia mengubah fungsi ruang ibadah menjadi ruang sosial tanpa kehilangan kesakralannya, wujudnya silaturahmi antarjamaah
Ada empati dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pihak kecamatan yang terjadwal mengirimkan takjil untuk ifthar itu. Inilah gerakan masif kesadaran sosial dan ingin mendapat berkah Ramadan yang patut diapresiasi
“Sangat menolong sekali. Sebab, nyaris hampir 500 jamaah per hari yang berbuka puasa di Masjid BIC. Terimakasih kontribusi OPD dan sejumlah pihak,” kata Kepala Sekretariat BIC H Achmad Idris
Sedang warna lainnya, BIC setiap hari ada agenda. Dari talk show atau dialog usai salat Subuh membahas berbagai agenda, pelatihan khatib, praktek dakwah digital untuk pesantren pelajar serta edukasi kepribadian, kultum, belajar tahsin dan tajwid hingga ada pasar raya Ramadan
“Semua bernilai edukatif sebagai bentuk bahwa Badan Pengelola BIC dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dipimpin Mas Adi saling bahu-membahu untuk membuat semangat (ghirah) Masjid BIC dan memakmurkan masjid selama Ramadan dan usainya bisa maksimal,” kata Andi Yusri
IKTIKAF
Agenda yang berat adalah iktikaf, 10 hari malam terakhir Ramadan. Panitianya ada dan harus melakukan registrasi karena terkait kupon makan sahur. Ketua dan Sekjen serta pengurus lainnya mengatur tempat di lantai 2

Kenapa berat? Sebab harus melek dini hari. Karena, rangkaian salatnya dimulai pukul 02.00 Wita diawali salat tasbih, hajat dan qiyamul lail
Iktikaf memang di masjid. Sesuai artinya berdiam diri dan sarana ‘isolasi diri’ dari hiruk-pikuk dunia, bukan ritual fisik tetapi diawali niat ikhlas tanpa mengeluh. Karena, tujuan akhir dari iktikaf bukan hanya meraih lailatul qadar, melainkan perubahan karakter jadi pribadi bertaqwa

Hanya, jika ada yang qiyamul lail di rumah, juga bagus dengan pertimbangan apapun, karena ada sejumlah pertimbangan fokus kualitas, makan sahur, bersama keluarga. Di Masjid BIC, beryukur karena panitia siapkan makan sahur. Sehingga, tak perlu menyiapkan di rumah
Apresiasi ibu-ibu yang saya melihat ada Bu Mas’at Ali dan Bu Herni Safitri (istri H Damuri) dan ibu-ibu ‘pejuang Subuh’ lainnya ikut iktikaf. Meraih lailatul qadar bukan mustahil jika ketulusan ada pada aktivitas iktikaf
Biarkan setiap detik 10 akhir Ramadan jadi saksi pembela dan diampuni dosa-dosa oleh Allah. Selamat iktikaf, semoga Allah mempertemukan malam lailatul qadar dan menerima seluruh amal ibadah
Terakhir, Wajah Ramadan 2026 di Masjid BIC, setidaknya jadi tolok ukur (benchmark) karena ada wujud transparansi lewat informasi digital. Tranparansi itu adalah kunci, sehingga tidak perlu ditakuti menggunakan uang kas masjid selama memenuhi kaidah dan bermanfaat
Kas masjid itu, fungsi utamanya untuk kemaslahatan seperti operasional pengajian, pengembangan ekonomi umat dan lainnya. Daripada sekadar disimpan sebagai saldo yang tidak berjalan pahala para muzzaki (pemberi sedekah)
Kuncinya! Penggunaan dana, terutama untuk hal-hal besar atau di luar kebiasaan, sebaiknya melalui musyawarah pengurus dan jamaah agar tidak menimbulkan persepsi beragam
Apalagi, pola pengawasan bisa terus berjalan karena informasi dan komunikasi (infokom) digelorakan sebab duduknya institusi bagian Kominfo, Humas dan Protokol serta badan pengawas
Prinsipnya: Jangan takut menggunakan kas masjid tapi takutlah jika tidak amanah dalam mengelolanya.)*
*) Bidang Infokom Masjid BIC dan Ketua Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim













