TINTAKALTIM.COM-Pisau yang tajam dan bersih wajib dipergunakan karena sesuai dengan ketentuan dan adab penyembelihan hewan kurban. Juga dilakukan penjagal yang berpengalaman, sehingga hewan tidak tersiksa saat disembelih.
Itulah salah satu kesimpulan rapat panitia kurban Masjid Asy-Syifa kawasan Kompleks BTN Gunung IV Kelurahan Margomulyo Balikpapan Barat. Rapat dipimpin Ketua Masjid H Rahmadi dan dihadiri sejumlah panitia lainnya.
“Secara syari dan hadist Rasulullah adabnya jika menyembelih hewan kurban yang punya skill atau keahlian. Kalau yang kurban mau memotong silakan, tapi jika tidak diserahkan ke panitia,” kata H Sugito, memberi saran dalam rapat panitia itu.

Menurut Sugito, pisau tajam anjuran Rasulullah agar tak menyakiti dan membuat hewan stress saat lehernya digorok. “Kalau tumpul akan sulit memutus urat nafasnya sehingga bakal menyakiti hewan. Kata Rasulullah membunuh hewan kurban itu secara ikhsan (baik),” kata Sugito.
Pisau tajam itu pun dibenarkan penjagal Leman. Ia menyebutkan, bukan hanya tajam tetapi juga sangat tajam dan setelah memotong hewan kurban hendaknya diasah kembali dan dilap gunakan kertas.

“Posisi leher hewan kurban juga harus tepat di atas lubang, sehingga darah tumpah ke dalam. Ini yang harus disiapkan panitia,” ujar Leman, selain punya pengalaman penjagal juga di panitia dijadikan koordinator pengulitan.
Rencananya, Masjid Asy-Syifa akan menyembelih 6 ekor hewan kurban berupa sapi. Dua ekor dari yang berkurban (shohibul qurban) dan 4 lainnya adalah gabungan kurban.
“Saya minta proses penyembelihan hewan kurban harus tertib dan mengikuti semua panitia. Sehingga, lainnya membantu agar terkoordinir,” kata H Rahmadi, sambil menambahkan alat pemotong daging-daging kurban menggunakan chainsaw.

Iwan selaku panitia distribusi pun memberi saran agar mata pemotong bukan yang besar, harus kecil sebab tidak merusak potongan-potongan hewan kurban. “Harus yang kecil, sehingga pemotongan terlihat rapi,” ujar Iwan.
Rapat itu banyak memberi masukan agar proses penyembelihan hewan kurban berjalan lancar. H Ali Akbar pun meminta ada koordinator. “Jadi supaya terorganisir tunjuk saja dan catat siapa saja koordinatornya,” pinta Ali Akbar.
Rapat menyepakati, untuk Koordinator Penjagal H Samud dibantu Gatot dan Leman, Koordinator Distribusi Daging Irvan dan Iwan, Koordinator Pengulitan Leman serta Koordinator Penimbangan Ibu-ibu RT 38 dan RT 39 Kompleks BTN dan Koordinator Hubungan Masyrakat (Humas) dan Publikasi H Sugito.

Rahmadi menyebutkan, memang rapat panitia tak mengundang semua warga. Tetapi, bukan tidak dilibatkan. “Silakan saja hadir dan bergabung ke panitia. Ini kerja gotong-royong. Karena nanti satu ekor sapi dibagi menjadi 65 kantong,” ujarnya.
Dalam proses penyembelihan nanti, panitia menyediakan alat perebah sapi yang dikoordinir H Supono. “Alatnya sudah diperbaiki. Semoga dapat dipergunakan maksimal,” ujar Rahmadi.
UPAH PENJAGAL
Dalam rapat itu juga disinggung kaitan panitia tidak boleh membayar upah penjagal dengan daging dan kulit. Karena itu dilarang. “Dalam syariat Islam tak dibolehkan, bahkan haram,” ujar Irvan, salah satu panitia.

Upah katanya, bisa dari panitia atau dari si pengkurban. Dan kalau penjagal mendapatkan daging atau kulit itu sifatnya cuma-cuma dan tidak ada kaitan akad upah. “Intianya semua yang berkaitan dengan hadist Rasulullah tentang penyembelihan hewan kurban kita laksanakan,” ujar Rahmadi.
Makanya nanti katanya, kalau ada yang mau kepala khususnya mereka yang berkurban bisa bilang ke panitia. Dan kepala serta kaki harus dikumpulkan tersendiri. Sehingga, pengkurban punya skala prioritas untuk mendapatkan jika meminta. (gt)













