Catatan: Sugito *)
TINTAKALTIM.COM-Masa SMP itu peralihan dari anak-anak menuju remaja. Sering disebut masih ‘bau kencur’. Sebab, kepolosan dan kelucuan juga rasa usil yang khas bisa menjadi memori. Secara personal, bagi banyak orang itu bisa dibangkitkan dengan membuat agenda reuni para alumni

Reuni! Bukan momen sekadar kumpul biasa tapi seolah jadi mesin waktu menghubungkan masa lalu dan masa kini yang orientasinya menyambung tali persaudaraan yang sempat hilang bahkan terputus

Demi menciptakan makna mendalam masa lalu, eks pelajar SMPN 3 yang saat itu belajar pada masa tahun 1983 dan melegitimasi menjadi Angkatan 83 menggelar reuni. Dulu, menuntut ilmunya di gedung yang dibangun di kawasan Gunung Samarinda (Strat 3) Jalan Soekarno Hatta. Sekarang sekolahnya sudah berakreditasi A yang ditunjang ruang kelas layak 100 persen. Tentu, alumni bangga.

Jika sekarang tahun 2026, mesin waktunya diputar lagi praktis sudah 43 tahun menciptakan kenangan itu untuk mereka pulihkan. Kalau ingin adopsi cerita legend remaja saat SMA yang sangat populer, boleh disebut ‘Gita Cinta dari SMP’ ala Galih-Ratna yang diperankan Rano Karno-Yessy Gusman

Tentu, jika dulu muncul cinta sebutannya cinta monyet yang berjalan lucu, ada rasa malu dan polos. Hanya, yakinlah kalah jika ingin menggambarkan rasa yang mendalam seperti SMA, sebab ada perjuangan backstreet yang dibumbui nilai patah hati dengan emosional yang mendominasi

Hamzah, didaulat jadi ketua acara didampingi sekretaris Wiwik Retno dengan bendahara Muningsih didukung superteam panitia. Mereka semua berjibaku sebagai event planner mengatur ritme dan alur waktu agar panggung acara ‘digoyang’ peserta reuni secara interaktif dan menyenangkan.

“Ini sejatinya merawat silaturahmi, merayakan nostalgia masa kecil dan menyadari sejauh mana kita telah bertumbuh. Bukan untuk jadi ajang pamer (flexing) status sosial dan harta. Tapi, untuk happy dan refreshing,” kata Hamzah menyebut makna reuni alumni SMPN 3 Angkatan 83 itu

Kumpul-kumpul yang mengusung tema 43 Tahun Merangkai Kisah Menjalin Silaturahmi itu, dipusatkan di venue Mal BOS kawasan Pasar Baru pada Minggu (20/9/2026). Kehadiran peserta penuh ceria merajut saudara.

Karakter peserta beragam. Hanya, di depan teman-teman lama tak memakai ‘topeng’ kasta. Sebab, mereka yakin dulu pernah sama-sama usil, telat masuk sekolah, kena sanksi guru bahkan terkena razia
Tentu Hamzah-Wiwik dan Muningsih ingin merefleksikan nilai perjuangan saat sama-sama belajar dulu di acara reuni termasuk untuk menawarkan ‘obat ampuh’ dari rasa sombong, karena saat SMP rekam jejak itu tak bisa bohong
Bagi Hamzah, Wiwik, Iwan Kikit dan rekan-rekan seangkatan dulu seperti Rusli, Misto, Ferdinan, Johan, Fani, Purweni, Erni, Waty, Susi, Netty, Asriani, Yuli, Yuri Mawarni and the gank tahun 83, reuni dijadikan pula ajang mendapat informasi merangkai silaturahmi dengan menjauhkan rasa berkompetisi. Justru yang hadir adalah rasa empati
JAKARTA-MELAK
Menariknya dan perlu diapresiasi kata Hamzah-Wiwik, rekan yang tinggal di luar daerah seperti Amiruddin, Erni, Aris serta lainnya datang. Fenomena masa lalu paling hit dan populer yakni Amiruddin karena menempuh jarak sangat jauh lewat udara dari Jakarta

Tapi, klaim Jakarta ibukota itu luntur karena ketika mendarat di Balikpapan Provinsi Kaltim sudah juga menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN) yang jaraknya bisa ditempuh beberapa jam bahkan 45 menit via tol Jembatan Pulau Balang. Kehadiran Amir –begitu ia disapa—memberikan daya tarik. Karena, dulu ia dikenal dengan sebutan head of the class alias top student yang setali tiga uang dengan Kamaruddin.

Ditambah hadirnya Rusli Rhoro. Walau datang telat, sosok satu ini, bolehlah dulu disebut sebagai ‘badut kelas’. Karena, ia sering buat heboh di kelas tetapi karakternya humble, lucu dan membuat kangen teman-temannya. Tak heran, Rusli selalu membuat cerita dengan seluruh alumni tapi didominasi ‘kaum Hawa’ alias wanita.
“Kami semua panitia berterimakasih. Yang dari Jakarta juga ada Choirul termasuk Surabaya tepatnya Kediri Mas Nurdianto dan Paser. Eh, perlu dicatat kendati asal Kaltim tetapi Mas Aris itu dari Melak Kutai Barat (Kubar). Kabarnya naik roda dua dan sangat memberi kontribusi finansial di acara. Dahsyat pokoe,” jelas Wiwik
Hanya, Hamzah-Wiwik dan panitia tetap memberi respons positif atas kehadiran tamu jauh di reuni itu. Karena tak mudah di sela kesibukan mereka datang di acara yang sebenarnya membangun silaturahmi dan kenangan masa lalu. Apalagi yang asal Kota Balikpapan sekaligus jadi ahlul bait atau tuan rumah merancang acara
DICAP AMNESIA
Menariknya kata Hamzah dan Wiwik ketika berkomunikasi via WhatsApp (WA) group, semua lancar dan seolah dekat. Tetapi, ketika bertemu mereka dicap amenesia alias pelupa. “Alhamdulillah, kita bisa berkumpul. Sudah bertemu begini, kok jadi amnesia (pelupa-red). Mengetahui nama hanya tak kenal muka. Tapi, tenang kita semua saudara,” kelakar Wiwik yang dipercaya menjadi pembawa acara

Kehebohan dan meriahnya acara tak lepas dari kontribusi seluruh peserta. Apalagi soal ‘adu vokal’, semua alumni jika waktu memadai ingin menyumbangkan suaranya. Di sini tak dinilai siapa yang suaranya paling bagus tapi siapa yang paling lepas dan bikin suasana jadi meriah
Lagu Darah Muda, Bojo Loro, Separuh Nafas membahana di tempat acara. Mereka melepas rindu setelah lama tidak bertemu lewat alunan musik dan goyangan heboh mencairkan suasana.

Misto terlihat menikmati momen nostalgia itu dan mencairkan suasana dengan teman-temannya. Tampil percaya diri (pede) berjoget ‘alakadarnya’ dengan langkah kanan-kiri sambil bergaya joget musik seperti mengikuti gamelan Jawa.
“Amazing ini. Asyik pokoknya semua happy dan meriah. Tahun sebelumnya kita juga upacara HUT RI para alumni. Kalau saja ini terus dibudayakan, tentu akan sangat baik. Mungkin reuni selanjutnya nanti kita undang dewan guru,” kata Rusli Rhoro.
Rusli juga memberi nilai positif panitia di reuni itu, karena ada ide untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya saat opening. Itu memicu rasa nasionalisme yang kesannya khidmat, formal, sekaligus menyatukan seluruh peserta tanpa memandang latar belakang
Selain diselingi games joget bola, acara reuni itu makin heboh karena Amiruddin, Rusli dan lainnya memberi apresiasi lewat saweran dengan nominal rupiah ‘warna biru’ yang sejatinya dan ditunggu peserta adalah ‘warna merah’.

Reuni alumni SMPN 3 Angkatan 83 itu hebat, berkesan dan penuh emosi. Panitia via Hamzah, Wiwik, Iwan Kikit seolah menutupnya dengan kalimat penutup (closing statement): Meski waktu terus berjalan, jarak memisahkan dan rambut sudah memutih, ikatan alumni SMPN 3 Angkatan 83 tak pernah berubah.
“Terimakasih telah hadir dan membawa kembali sepotong memori berharga. Kita tidak pernah benar-benar berpisah tapi hanya bersiap untuk cerita hebat di acara selanjutnya. Sampai jumpa sahabat,” ungkap Hamzah dan Wiwik.**
*) Ketua Bidang Advokasi & Regulasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Kaltim dan Wartawan tinggal di Balikpapan












