Penulis: Munir Asnawi
TINTAKALTIM.COM-Hanya dalam enam jam tiga belas menit, dua tempat ibadat dikunjungi. Dewi Kwan Im pertama menyambut ramah kedatangan kami. Kedua Masjid Sanya di Jalan Nansi Xiang.
Ketinggian patung Dewi Kwan Im di tepi Pantai Nanshan mengalahkan ketinggi patung Lyberti di Amerika, walau hanya bilangan belasan senti.
Tiap hari ribuan pengunjung mendatangi dewi berwajah tiga sesi itu. Tangan kiri memeluk sutra, tangan kanan menyimpulkan vitarka mudra. Sementara telapak tangan disilangkan dan memegang manik-manik doa.
Sesi ketiga memegang teratai yang merefleksikan kedamaian, kebijaksanaan dan kasih sayang.
Konon, patung dewi Kwan Im ini dibangun di pantai selatan, karena dahulu acap kali Hainan diterjang badai dahsyat, sehingga memporakporanda seluruh negeri paling selatan China ini. Setelah Kwan Im berdiri tegak di bibir pantai, Hainan aman dari terjangan taipun.
Kawasan tamasa religi itu, diresmikan pada 12 April 1998 menjadi ikon yang banyak dikunjungi wisatawan. Kala penulis bersama rombongan tiba sekitar pukul 11.00 sudah ribuan orang tumpah ruah di sana, walau harus disengat mentari siang hari.

Di areal yang teramat luas di lingkup Gunung Nanshan dan pantai Nanshan itu, juga ada taman yang amat menawan. Tentu akan sangat menyita waktu dan pegal mengitari kawasan bila berjalan kaki.
Sungguh kawasan Buddhism Culture Park, blessing and longevity park serta Hainan custum culture park itu amat menawan, patut dikunjungi.
Hampir dua jam mengitari kawasan Dewi Kwan Im, kami bergeser lagi.
Usai salat azar, Masjid Sanya Nansi yang masuk 300 meter di Jalan Nansi Xiang kami kunjungi. Kami diterima wakil pengurus masjid, He Bing Hao yang berusia 83 tahun. Sekira dua kilo meter dari masjid besar ini, terdapat Masjid East Mosque. Letaknya di tepi jalan besar.

Masjid Nansi itu terkadang disebut masjid selatan. Masjid yang telah ada 800 tahun silam itu semula hanya berupa surau kecil. Surau hancur saat terjadi huru hara revolusi sosial.
Atas infaq yang dikumpulkan suku Hui, yang mayoritas muslim itu, masjid dibangun kembali di kawasan yang sama.

Masjid dibangun tiga lantai. Lantai dasar ruang wudhu, lantai kedua untuk ibadah laki-laki dan lantai ketiga untuk jamaah wanita.
Kawasan masjid dan sepanjang lorong masuk terdapat aneka makanan halal yang dijual suku Hui. Pedagang selalu menyambut tamunya dengan salam, apalagi tamunya juga muslim. Inilah potret kampung kauman. (*)













