TINTAKALTIM.COM-Keberadaan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan mampu memberi kontribusi untuk pembangunan kota lewat Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tahun 2025 bisa menyentuh angka Rp200 miliar lebih.

“Jadi sektor perhotelan dan restoran, café sebagai penyumbang PAD juga besar dan penggerak ekonomi Balikpapan. Maka, jangan sekadar fokus pada bisnis internal tetapi ikut memacu pembangunan daerah dengan cara peningkatan pelayanan, SDM, inovasi hingga digitalisasi sistem usaha,” kata Ketua BPC PHRI Balikpapan H Soegianto SE dalam acara bertema Eksistensi Bisnis Pariwisata Kota Balikpapan di Era Efisiensi di Ballroom Hotel Platinum Selasa (27/5/2025)
Acara itu dihadiri Ketua BPD PHRI Kaltim H Sahmal menghadirkan 3 pembicara yakni Suwanto ST ME (Wk Ketua Komisi II DPRD Balikpapan), Feldi Rusnal (Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Balikpapan) dan H Abdul Madjid (Sekretaris Disporapar) yang dihadiri seluruh GM hotel se-Balikpapan dan undangan lainnya
Soegianto menyebut, sejak awal 2025 kondisi hotel dan restoran mengalami tantangan imbas dari efesiensi yakni pengurangan anggaran di kementerian oleh pemerintah. Pendapatan PHRI turun 40 persen dibandingkan tahun yang lalu dan tingkat hunian hotel Januari-Mei 2025 hanya 30 persen saja.

“Kondisi ini, sebagian hotel berusaha bertahan dengan menutupi biaya operasional sangat terpaksa mengurangi hari kerja karyawan. Dan jika keadaan ini berlanjut, kemungkinan ada PHK seperti di luar Balikpapan,” jelas Soegianto.

Efesiensi bisnis perhotelan kata Soegianto, juga berdampak permintaan ke vendor/supplier, UMKM, pasar tradisional. Sebab, tak ada kegiatan seminar, rapat bidang MICE dari pemerintah.
“Tapi kami tetap optimistis untuk terus survive. Kolaborasi dengan komisi II DPRD dan Pemkot Balikpapan harus dilakukan demi mencari solusi terbaik untuk kemajuan bisnis perhotelan dan pariwisata,” kata Soegianto yang juga Direktur Operasional Platinum Group ini.

Dalam sesi diskusi berbagai pertanyaan dilontarkan peserta. Mereka di antaranya Rudi (Pacific), Irham (Neo), Room Hidayatullah (Pacific), Surya (Grand Tiga Mustika) juga Joko Purwanto (INTOA).
Di antara mereka, ada yang mempertanyakan kaitan kontribusi PHRI besar tetapi dana promosi terlalu kecil. Sehingga, sulit bagi insan pariwisata untuk melakukan kreativitas dan inovasi serta pengembangan pariwisata
“Harusnya anggaran untuk kawan-kawan pariwisata baik PHRI dan lainnya harus besar. Karena, kalau Rp200 miliar dan hanya ratusan juta saja diberi tentu tidak signifikan,” kata Joko Purwanto yang senada disampaikan pengurus PHRI Balikpapan lainnya.

Sementara itu Abdul Madjid dalam berbagai penjelasannya menegaskan, bahwa selama ini Disporapar selalu menggandeng insan pariwisata untuk mengembangkan iklim pariwisata di daerah.
“Bahkan kita menciptakan semacam community base tourism atau pendekatan pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal seperti kelompok sadar wisata (pokdarwis),” kata Abdul Madjid.
Prinsipnya kata Abdul Madjid, Disporapar akan selalu mendukung program PHRI dan insan pariwisata lainnya demi kebersamaan dan sinergitas kemajuan pariwisata di Balikpapan. (gt)












