TINTAKALTIM.COM-Isu keselamatan jalan bukan hanya tugas orang per orang, tetapi seluruh stakeholders harus terlibat. Karena, ini kaitan pendidikan tentang bagaimana berlalu-lintas yang baik dan berkeselamatan. Balai Pengelola Transporati Darat (BPTD) Kelas II Kaltim pimpinan Dr Muiz Thohir ST MT, kini mendesain lewat program education trip atau perjalanan pendidikan yang edukasinya bernama Sadar Lalu-Lintas Usia Dini (SaLUD)

BPTD Kaltim melibatkan anak-anak di bangku taman kanak- kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Ini program dirancang sudah lama. Mereka datang ke Terminal Tipe A Batu Ampar untuk mendapat pengetahuan tentang pendidikan karakter berlalu-lintas.
Pada Kamis (10/08/2023) rombongan anak-anak SD Patra Dharma 3 berkunjung ke Terminal Tipe A Batu Ampar. Mereka ikut program sekolah outdoor kelas 1 untuk edukasi transportasi.

Sejak pagi, ratusan anak-anak yang didampingi orangtua/wali murid serta dewan guru mendapat pelajaran kaitan berlalu-lintas dengan benar. Mereka saling menjawab pertanyaan jajaran pegawai BPTD bagian terminal. Ada Desy, Ilham, Riska Oktaviana, Enggal Dwi Laksono, Dodi Purwanto, Sanzaya serta lainnya.

“Ini rambu apa ya adik-adik. Siapa yang bisa jawab,” tanya Desy sambil mengangkat rambu huruf P digaris. “Dilarang stop,” ujar anak-anak tadi. Lah, Desy meluruskan, kalau dilarang stop itu huruf S digaris, ini dilarang pengguna kendaraan parkir. “Paham ya adik-adik,” ujar Desy sangat edukatif.

Namanya anak-anak, suara hingar-bingar pun terdengar. Gaya lesehan mereka menunjukkan sifat kekanak-kanakan tapi riang. Di sisi lain, Kak Ilham memberi aba-aba senam. Itu senam SaLUD. Sedang, Ade Novita dan Sya’ban sibuk mengabadikan tingkah-polah anak-anak sembari juga memberi edukasi.
Saat aba-aba senam dimulai, Pengawas Terminal Tipe A Batu Ampar Sulis Setyawan ikut mengatur anak-anak dengan posisi membentuk huruf U. “Ayo ikuti Kak Ilham, kita senam SaLUD,” pinta Sulis.

Musik menggema. “Selamat, Aman Berlalulintas,” Ilham memandu. Kaki diangkat dan tangan digoyang-goyang. Lalu, sambil bernyanyi yang syairnya sangat mendidik. Berdiri di tempat menyeberang, tunggu sejenak, gunakan mata dan telinga sebelum menyeberang, tengok ke kanan dan tengok ke kiri, langkahkan kaki dan jangan berlari.

Lagu ini kata Sulis, lebih menanamkan karakter sejak dini. Agar anak-anak menyeberang di zebra cross tidak sembarangan. Sebab, di era kekinian, sekarang banyak ibu-ibu keluar dari gang tak tengok kanan dan kiri asal jalan. Bahkan, ada emak-emak yang sein (sign) ke kiri tapi belok kanan. Ciloko!
ZETA BERAKSI
Pembentukan karakter disiplin berlalu-lintas, Kemenhub kata Sulis punya maskot. Jika untuk hubungan darat (hubdat), wujudnya maskot Zeta. Dia adalah sosok zebra yang sangat disenangi anak-anak. Bukan itu saja, Zeta saat di Terminal Tipe A Batu Ampar yang diperankan Kak Enggal ‘diserbu’ anak-anak

Zeta menjadi daya tarik bagi anak-anak. Ada yang ingin pelukan, menarik-narik tangan sampai merengek. “Minta nasi kuning,” ujar seorang anak tampaknya belum serapan. Sang guru di sebelahnya menjawab. “Ya nanti dibelikan Zeta,” ujar gurunya seraya tersenyum.

Zeta juga mengajak anak-anak senam SaLUD. Ia tampil sebagai media edukasi. “Anak-anak ini harus secara visualisasi lewat Zeta diajarkan berlalu-lintas dengan baik. Karena mereka masuk usia emas (golden age). Jadi, daya ingatnya akan tajam hingga kelak dewasa,” ujar Sulis.
Menurut Sulis, kampanye SaLUD juga bagian dari aksi dekade keselamatan lalu-lintas. Ragam edukasi diberikan dari taat rambu, bagaimana di traffic light, mengenal marka jalan. “Paling penting program SaLUD agar mereka punya karakter menghargai orang lain dan diri sendiri saat berlalu-lintas,” ujar Sulis.

Hadirnya anak-anak ke Terminal Tipe A Batu Ampar kata Sulis, juga diikuti orangtuanya. Tentu, kehadiran itu juga mengingatkan orangtua dan anak-anaknya tentang pentingnya keselamatan berlalu-lintas sejak dini demi masa depan lebih baik.

Sebab, pembelajarannya mengenai sikap, semangat, kemandirian dan aturan hidup selama di jalan. “Ini menyangkut karakter atau adab. Orang berilmu belum tentu beradab. Tapi, orang beradab itu pasti berilmu. Itu diterapkan di Jepang, yang lebih mengutamakan adab. Indonesia bangsa beradab, makanya pendidikan karakternya sejak usia dini,” pungkas Sulis. (gt)













