TINTAKALTIM.COM-Walikota Balikpapan H Rahmad Mas’ud SE ME menjelaskan, ekonomi kreatif (ekraf) termasuk pariwisata di Kota Balikpapan harus tumbuh dan berjaya. Tumbuh lewat hasil kreativitasnya dan berjaya mampu memutar roda ekonomi menjadi baik dan memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD).
“Ekraf itu pilar ekonomi masa depan. Kita harus mendorong. Secara pribadi dan unsur pemerintah tentu saya memiliki kewajiban men-support dan harus diciptakan serta memberi nilai tambah. Kan karya-karya anak muda dan lainnya semakin berkembang di Balikpapan,” kata Walikota saat bicara di hadapan undangan dan pelaku ekraf di acara Nongki-Nongki Sabtu (20/11/2021) di pelataran Gedung Parkir Klandasan.

Walikota tak ingin ekraf tidak berkembang. Hanya, ia pesan karena masih dalam situasi pandemi covid-19 walaupun level 2, tetap protokol kesehatan (prokes) dijaga di semua lini. “Terimakasih camat, lurah dan seluruh elemen yang patuh prokes. Covid-19 bisa turun juga berkat dukungan seluruh elemen masyarakat. Termasuk yang sudah melakukan vaksin,” ujarnya.

Nongki-Nongki kata Walikota hanya sekadar nama. Biar akrab di kalangan anak muda yang sering nongkrong. Tetapi substansi dari acara itu adalah mengajak pelaku ekraf semangat untuk menjajakan dagangannya.
“Sebenarnya, nongki-nongki itu ide istri saya (Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah atau Dekranasda). Tujuannya mulia ingin mengangkat ekraf berkembang seluruh sub-sektornya. Kumpul sambil makan dan nanti akhirnya menjadi peluang dan potensi peningkatan pendapatan ekonomi,” jelas Walikota.

Walikota menyerahkan sepenuhnya kreativitas itu dengan forum ekonomi kreatif Balikpapan. Sehingga, kolaborasinya bisa maksimal dan implikasinya pada sisi pariwisata. “Ayo terus berbuat yang baik. Sebab, kebaikan itu harus dimulai dan dilakukan. Insya Allah ekraf di Balikpapan bisa bangkit dan berkembang,” ajak Walikota membangkitkan fighting spirit pelaku ekraf.
Walikota menyampaikan permohonan maaf sang istri yang masih di luar kota dan tak dapat hadir. “Percayalah, semangat istri saya tinggi untuk mendukung ekraf berkembang. Minggu berikutnya, Insya Allah hadir menemani dan berbaur kembali bersama bapak-ibu sekalian untuk nongki-nongki lagi,” kata Walikota.
PERAHU LAYAR
Acara nongki-nongki itu sudah yang ketiga. Walikota tak pernah absen. Sehingga, menurut pembawa acara alias master ceremony (MC) Ucha, sudah melakukan hattrick. “Sudah tiga kali Pak Wali hadir terus. Ini jadi contoh baik lainnya,” ujar Ucha membuat walikota tersenyum.

Nongki-nongki makin punya nuansa tersendiri. Giliran trio camat ‘dikerjai’ MC Ucha dan malam itu seolah naik perahu layar. Trio camat itu yakni Camat Balikpapan Timur Suwandi, Camat Balikpapan Tengah Edi Gunawan dan Camat Balikpapan Kota Heru Ressandy, ketiganya harus naik panggung. Awalnya, Suwandi didaulat Ucha. “Ini camat saya. Jadi harus nyanyi,” undang Ucha.
Suwandi tak kalah strategi. Ia lalu mengajak dua rekannya Edi Gunawan dan Heru Ressandy ikut mendampingi nyanyi. “Biar kompak, nyanyinya trio camat. Ayo camat lainnya dampingi saya,” ajak Suwandi.

Tembang hits dari Didi Kempot bahasa Jawa dan bercerita tentang kegembiraan menaiki perahu layar pun langsung menggema: Yo Konco ning nggisik gembiro, alerap lerap banyune segoro, angliyak numpak perahu layar, ing dino minggu keh pariwisoto.
Suwandi ‘lari kencang’ bernyanyi dengan liriknya. Terlihat dua camat lainnya ditinggal kebingungan. Terpaksa harus pegang mic sambil lirik kiri-kanan. Apalagi, lirik lagunya tak ditemukan di ponsel. “Ditinggal dua camat lainnya sama Pak Suwandi. Naik perahu layar sendiri,” kata Rosman Abdullah, pengunjung yang membuat kelakar penampilan trio camat itu.

Sebelumnya, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Edward Skenda Putra atau biasa disapa Edo pun harus ‘terpaksa’ karena malu dengan walikota akhirnya nyanyi. “Sumpah Pak Wali, baru kali ini nyanyi di panggung”. Tapi, Walikota H Rahmad Mas’ud SE ME yang duduk di round table depan tak kehilangan akal. “Iya di tempat lain sering nyanyi,” timpalnya.
Edo tampil dengan lagu yang dipopulerkan group band Wali, Baik-Baik Sayang. Lagu galau itu, dinyanyikan Edo sepertinya agak berat. Di satu sisi tak hafal lirik, di sisi lain kurang enak sebab walikota selalu mencermatinya.
Malam itu, memang berbeda. Camat dan lurah serta sejumlah pejabat dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hadir. Ditambah riuhnya jajaran pengurus ekraf dan pelaku ekraf. Pelataran tempat acara full. Ada yang silaturahmi, makan sambil ngobrol.
PERCAYA DIRI
Hanya, ada yang nekat dan percaya diri. Dia adalah Kabid Pariwisata H Abdul Majid. Ia tak gubris, bisa nyanyi atau tidak. Karena lagi-lagi ‘dipaksa’ walikota, ia pun naik panggung. MC Ropiani pun bingung. Sebab, Abdul Majid ‘pengambilan nadanya’ lama sekali. “Pak Majid itu baca doa kah di atas panggung,” kelakar Ustaz Mustaqim, sahabat Abdul Majid yang duduk di barisan kedua.

Ketua Harian Ekraf Muhammad Ichwan (Andre) pun mendampingi. Lagu Ayah yang pernah populer lewat penyanyi Rinto Harahap dilantunkan. Tetapi, Abdul Majid ‘melaju’ seperti menguji lintasan sirkuit ‘Mandalika’. Mungkin ia berpikir, bernyanyi adalah hak, bukan pemilik suara merdu saja.
Nada dan syair pun kejar-kejaran. Tapi, Abdul Majid pede buanget dan cuek. “Mohon maaf hadirin sekalian. Ini yang salah pemain bandnya. Bukan suaranya,” goda Andre ke Majid yang terus berteriak Ayah dan Ayah.
Usai bernyanyi, Abdul Majid duduk di samping walikota. Sepertinya ada ucapan permintaan maaf, kalau suaranya ‘ngalor-ngidul’. “Wis angel, bisa dimutasi lagi ini Pak Majid,” komentar dari undangan menimpali membuat situasi makin penuh keakraban.
WALIKOTA BINTANG
Tak afdhol jika walikota tak bernyanyi. Ia naik panggung. Langsung melantunkan lagu Bintang dari grup musik Anima. Didampingi Andre, walikota yang dikenal dengan suara merdunya itu, terus bernyanyi. “Kalau Pak Wali tak usah diragukan. Malam ini benar-benar jadi ‘Bintang’,” ucap Camat Tengah Edi Gunawan.

Walikota yang tak hanya hobi menyanyi tapi olahraga seperti bulutangkis, sepakbola dan lainnya ini, dikenal cukup piawai bernyanyi. Sehingga, warga selalu mendaulatnya bernyanyi. Apalagi di acara resepsi pernikahan dan sambil sawer.

Di penghujung acara, Walikota melihat anak-anak yang duduk di tepi jalan. Ia lalu membagi-bagikan sedekah uang pecahan seratus ribu dan limapuluh ribu. Termasuk crew musik dan tamu undangan yang hadir. Dan nongki-nongki diakhiri dengan foto bersama. (gt)












