TINTAKALTIM.COM-Pengawas Terminal Tipe A Batu Ampar Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kaltim, Sulis Setyawan S Kom menegaskan, mendesain karakter anak bidang lalu-lintas itu sifatnya berkelanjutan (sustainable). Sehingga, jadwal kunjungan anak-anak dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Dasar (SD) sudah dibuat jauh-jauh hari untuk mendukung program Sadar Lalu Lintas Usia Dini (SaLUD).
“Ini program yang sudah beberapa tahun dilakukan di Terminal Batu Ampar. Karena, kita sadar tak mudah mendidik anak untuk disiplin. Sehingga, jiwanya disentuh sejak dini,” kata Sulis Setyawan.

Sejak digulirkan program SaLUD, maka Terminal Batu Ampar yang memiliki space luas kata Sulis, harus dimanfaatkan asetnya. Sehingga, upaya pembangunan karakter pada anak dilakukan lewat program SaLUD. Memang proses, tetapi tidak akan berguna dan edukatif jika tak dimulai.
Anak-anak TK dan SD itu kata Sulis, datang ke Terminal Batu Ampar didampingi dewan guru bahkan orangtua/wali murid. Tim BPTD Kaltim mengajarkan hal-hal yang mudah khususnya kaitan rambu lalu-lintas.

“Sosialisasi SaLUD akan terus kita lakukan. Bahkan, jadwal itu terkadang full. Sebab, banyak yang ingin berkunjung ke Terminal Batu Ampar. Intinya kita selalu koordinasi dengan pimpinan,” kata Sulis
Tak hanya Terminal Batu Ampar, menurut Sulis transfer informasi juga disampaikan ke Samarinda, sehingga Terminal Samarinda Seberang melakukan program SaLUD juga, dan hal ini menjadi apresiasi dari Ditjen Hubdat.

“Target kita bukan penghargaan sebenarnya. Tetapi, bagaimana sebanyak mungkin anak-anak mengetahui informasi tentang keselamatan lalu-lintas. Jika dapat penghargaan itu bonus dan rezeki,” ucap Sulis sambil tersenyum.
Menurut Sulis, pembentukan karakter anak itu tak hanya di sekolah. Perlu dukungan pula orangtua, lingkungan dan kebiasaan. Fase berkembang anak itulah harus dikenalkan hal positif.

“Program Ditjen Hubdat Kemenhub kaitan SaLUD ini sebenarnya juga diajarkan semua elemen ke sekolah. Ada Goes to School atau Goes to Campus. Nah, yang berkunjung ke terminal ini kan kaitan lalu-lintas. Makanya, mereka harus mengetahui bagaimana tertib lalu-lintas sejak dini. Sebab, agar daya ingatannya menempel dan jika dewasa bisa memahami pentingnya keselamatan berlalu-lintas,” urai Sulis
Dalam prakteknya kata Sulis, di lapangan pembentukan karakter anak bidang lalu-lintas itu, sejatinya anak itu perlu ‘wadah bermain’. Pola permainannya maka yang bersifat tata nilai tetapi disenangi, maka disiapkan Badut Zeta.

“Teman-teman Terminal Batu Ampar mengajarkan pada anak usia dini itu transfer pengetahuan, Dan ada pengenalan tata nilai bidang lalu-lintas seperti tertib, selamat dan lainnya. Peran orangtua di rumah juga penting dalam membentuk karakter,” urai Sulis.
Masa mereka kata Sulis, masa keemasan. Usia semacam itu, jika dikenalkan sesuatu maka menempel di pikiran. Sehingga, harus juga dikenalkan lewat badut sebagai media yang melekat pada anak-anak. Badut itu namanya Zeta yang membuat anak-anak bergairah dan senang. Zeta jadi media kreatif efektif dalam penyampaian nilai-nilai dan tujuan pendidikan
“Itu sebagai bentuk media edukasi ke anak-anak saja. Karena, kalau diajarin rambu-rambu terus biasa anak-anak itu jenuh. Nah, maka ada ikon Badut Zeta itu biar anak-anak senang,” kata Sulis yang dalam sosialisasi dibantu timnya Desy, Rizka, Ira, Ilham, Fajri, Dodik dan lainnya.
Dan, Zeta itu kata Sulis singkatan ‘Zebra Sahabat Kita’ untuk menggugah minat anak-anak agar memahami pentingnya berlalu-lintas denegan lebih atraktif. (gt)













