TINTAKALTIM.COM-Sejumlah tour & travel serta perhotelan di Kota Balikpapan semangat mengenalkan pariwisata sekaligus ‘dodolan’ alias jualan kaitan keberadaan Kota Balikpapan.
Mereka melakukan upaya bagaimana wisatawan datang ke Balikpapan, menginap sampai mengunjungi destinasi wisata sehingga memiliki efek ganda (multiplier effect) terhadap bisnis pariwisata dan lainnya.

“Kita bersyukur pandemi covid-19 di Kota Balikpapan sudah level 2. Pelan tapi pasti itu akan kembali memberikan gairah pariwisata berkembang,” kata Ketua Asita Balikpapan Tan Lili yang tampil mengemas produknya lewat PT Warna Pelangi agar warga Jogyakarta dan sekitarnya ramai ke Balikpapan di acara table top Jumat (22/10/2021).
Menurut Lili, event table top sangat penting terus digelar Kota Balikpapan ke sejumlah daerah yang punya destinasi wisata unggulan. Ia berterimakasih dengan badan promosi pariwisata yang menggagas acara tersebut. “Event ini membuka peluang bisnis pariwisata kembali yang sekaligus jualan wisata Kota Balikpapan ke Jogyakarta. Karena selama pandemi covid-19 bisnis pariwisata sangat terpukul,” kata Lili yang jualan produk tiket, paket wisata dalam dan luar negeri, voucher hotel, transportasi dan lainnya

Kaitan pengembangan pariwisata itu pun diungkapkan sejumlah pelaku usaha tour & travel. Misalnya menurut Rita Susanti (Khania Tour) dan Bernadeta Lita Udawati (Travy Door Tour & Travel) bahwa pihaknya perlu ‘membuka pintu’ buyers yang ingin melakukan transaksi terhadap produk pariwisata yang dijualnya.
“Tema Ayo ke Balikpapan Terasnya Ibu Kota Negara (IKN) itu sangat tepat. Sebab, kita ingin warga Jogyakarta, Sleman dan lainnya datang ke Balikpapan. Menikmati berbagai objek wisata termasuk kuliner dan menginap di hotel berlama-lama,” ujar Rita Susanti.
Bahkan menurut Rita, ia juga siapkan paket bagaimana menikmati suasana atau menuju ke IKN. Artinya, ‘satu kali mendayung’ tetapi dua daerah Kota Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) dapat dicapai. “Tetapi konsentrasi utama Kota Balikpapan. Kita jual bahwa Balikpapan itu nyaman dan kulinernya juga oke,” jelas Rita.

Demikian pula menurut Lita, ia ikut table top ingin ‘dodolan’ kaitan jasa tour & travel serta meraih market milenial untuk melakukan traveler ke Kota Balikpapan. “Kami juga menyediakan produk seperti tiket pesawat, hotel, dan paket liburan dari Balikpapan ke sejumlah daerah se-Kaltim bahkan Kaltara serta luar Kalimantan Timur,” ujarnya.
Disebutkannya, dari acara table top maka produk yang ditawarkan bisa secara langsung ditanyakan. “Apalagi sudah terjadi deal paket wisata. Sebab, kendati ada sosial media (sosmed), pola pertemuan dirasa promosi yang paling efektif dan tepat,” ujarnya.

Travel & tour lainnya, Trans Borneo yang tampil di table top lewat ownernya Sri Purwanti juga menjual bagaimana keindahan Kota Balikpapan. Tetapi, paket wisata yang ditawarkan juga berkaitan dengan adventure ke sejumlah daerah. “Menikmati kuliner dan tidurnya di hotel Balikpapan. Makanya kita menarik ke Balikpapan dan selanjutnya wisatawan itu ingin melakukan petualangan ke pedalaman,” ujar Sri Purwanti.

Kaitan petualangan, eko wisata hingga jungle track juga ditawarkan Marioga Tour & Travel. “Balikpapan itu indah. Jadi jualan Kota Balikpapan juga penting. Apalagi orang ingin tahu sebenarnya Balikkpapan itu bagaimana. Hanya, jika ada wisatawan yang ingin mengemas dalam paket tour ke tempat lain kita juga siap,” ujar owner Marioga tour & travel Sutriadi.
BISNIS HOTEL TUMBUH
Sementara itu Ketua Persatuan Hotel Restaurant Indonesia (PHRI) Kota Balipapan H Syahmal Ruhib menyebutkan, table top diharapkan mampu untuk meningkatkan bisnis hotel.

“Kalau demandnya tinggi, maka datang ke Balikpapan dapat tidur di hotel mana saja. Bisnis hotel bisa tumbuh,” kata owner Hotel Djang Jaya di Balikpapan ini.
Disebutkan Syahmal, bisnis perhotelan itu tergantung bagaimana kemasan destinasi pariwisata di Kota Balikpapan ditingkatkan. Sehingga, masyarakat luar Kaltim datang ke Balikpapan. “Karena ada keunggulan pariwisata. Tetapi PHRI mendukung kegiatan table top itu untuk meningkatkan wisatawan datang ke Balikpapan,” ujarnya.
TINGKAT HUNIAN TINGGI
Dalam konteks perhotelan, dalam acara table top itu juga sempat jadi diskusi menarik pelaku pariwisata di Yogyakarta. Karena, dua hotel di Kota Balikpapan yakni Maxone dan Whizz Prime selalu memiliki tingkat hunian (occupancy rate) mencapai angka 90 persen ke atas bahkan ada yang 100 persen.
“Kami mengemas dengan konsep bagaimana hotel yang murah tidak murahan. Intinya pada pelayanan maksimal karena bisnis hotel itu adalah bisnis hospitality,” kata General Manager (GM) Maxone Hotel Zuaweni.

Menurut Zuwaeni, hotel itu bisnis kepercayaan. Sehingga, hal itu harus dijaga. “Tetapi, table top yang menghadirkan unsur perhotelan akan menjadi promosi langsung kepada buyers yang akhirnya mengetahui hotel yang akan dituju jika berwisata di Kota Balikpapan,” kata Zuwaeni yang ke depan hotel yang dipimpinnya akan dikemas menjadi hotel yang siap menghadapi Kota Balikpapan kota MICE (Meeting, Incentive, Convention & Exhibition).

Sedang menurut GM Whizz Prime Irfan Oktavian, tuntutan para pelancong ingin mendapatkan pelayanan akomodasi secara kuantitatif dan kualitatif.
“Hotel kami sudah punya sertifikasi CHSE atau kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan lingkungan. Juga selalu menjaga protokol kesehatan (prokes). Mungkin itu juga jadi daya tarik. Selain tepat di tepi jalan protokol,” jelas Ifan.

Dalam table top itu juga menghadirkan Hotel Four Point yang sekarang ini menerapkan konsep ‘dodolan’ 24 jam. Artinya, jam berapa pun check-in hotel, tamu bisa tinggal selama 24 jam yang berlaku sejak awal waktu check-in hingga check out.
“Ini hanya strategi market. Tetapi tidak semua 24 jam. Quotanya kita berikan. Sebab, ini juga menyangkut pelayanan. Jadi tamu tidak menunggu harus hotel siap dulu,” kata marketing Hotel Four Point, Syahrial.

Sedang Grand Senyiur tampil juga di table top lewat Nurjanah juga menjual konsep hotel bintang lima yang lebih menitikberatkan pada kualitas. “Kami siap jika tamu ke Balikpapan memberikan akomodasi yang konsep melayaninya juga menjaga kepercayaan demi Kota Balikpapan,” kata Nurjanah.

Tak mau ketinggalan, tuan rumah Hotel Platinum juga menyajikan informasi kaitan hotel yang digunakan untuk kegiatan table top. Hotel ini memiliki kapasitas ballroom yang sangat memungkinkan untuk kegiatan wedding, seminar dan lainnya.
DESTINASI WISATA
Sementara itu menurut Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Balikpapan H Soegianto SE, program table top harus sering dilakukan agar destinasi wisata dan kelebihan Kota Balikpapan dapat diketahui pihak buyers daerah lainnya. “Table top itu ajang bisnis pariwisata. Tetapi, sebenarnya untuk menjual destinasi wisata antardaerah,” ujar Soegianto.
Kabid Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata H Abdul Majid menyebutkan, kreativitas di dalam table top perlu ditunjukkan di waktu mendatang. “Nanti kami akan menggelar bagaimana ada pertemuan antar pelaku pariwisata seperti tour & travel, perhotelan lewat PHRI dan lainnya untuk diskusi sehingga jika ada masalah kaitan pariwisata bisa langsung dicarikan sousi,” pungkas Abdul Majid. (gt)












